<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-1968987199556825028</id><updated>2012-02-16T09:52:37.846-08:00</updated><title type='text'>Full Stories</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://full-stories.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1968987199556825028/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://full-stories.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Full Beautifully Stories</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10171057672386779649</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>10</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1968987199556825028.post-7659074727948773023</id><published>2009-09-08T00:10:00.000-07:00</published><updated>2009-09-08T00:13:38.244-07:00</updated><title type='text'>Cerita Anak</title><content type='html'>&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0); font-weight: bold;"&gt;Duo Penakluk Hantu Laut&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;by: Mambyz&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sebuah perkampungan nelayan terjalinlah sebuah persahabatan yang indah antara Kabul dan Yudi. Meski kampung mereka jauh dari pusat perbelanjaan dan tempat hiburan tapi hari-hari selalu mereka lalui dengan bahagia. Keduanya sering terlihat bermain kapal-kapalan bersama atau kadang mencari ikan menyusuri pantai menggunakan perahu kecil. Biasanya mereka berangkat selepas Dzuhur dan pulang menjelang Ashar. Yudi pun kerap membantu temannya itu saat mendapat tugas dari bapak Kabul mengecat perahu. Sungguh pertemanan yang indah. Bila datang waktu sholat Maghrib Yudi menjemput Kabul yang rumahnya terletak di pinggir jalan menuju Surau. Di surau itu mereka melaksanakan sholat Mahgrib berjamaah diteruskan dengan tadarus bersama.             Sepulang dari surau mereka terlibat dalam sebuah obrolan tentang kabar yang sedang ramai dibicarakan oleh orang-orang di kampung yang mengeluh karena akhir-akhir ini hasil tangkapan para nelayan menurun drastis. “Bul…tau nggak katanya sekarang bapak-bapak dikampung kita ketakutan melaut” Ujar Yudi mengawali obrolan. “Memangnya mengapa Yud?” Kabul terlihat serius menanggapi cerita sahabatnya. Entah benar apa tidak tapi menurut warga kampung semua itu dikarenakan ada hantu yang sedang mengamuk di laut. Ada pula yang menambahkan bahwa marahnya penunggu laut karena tak pernah diberi sesaji. “Hiii ngeri”.             Benar memang, tangkapan yang berhasil didapat oleh para nelayan hanyalah sedikit itupun kecil-kecil sehingga bila dijual tak laku seberapa. Ikan tuna dan Tongkol yang biasanya mudah didapat kini tak ditemukan lagi. Paling yang tersangkut dijaring para nelayan hanyalah sampah plastik ataupun cangkang kerang yang telah keropos dan tak dihuni lagi. ”Apa yang harus kita lakukan? Kalo begini terus bisa-bisa kita merugi” Gerutu seorang nelayan sembari membenahi jaring yang terkoyak setelah kena karang di dasar lautan. Yudi yang saat itu melintas mencoba bertanya pada nelayan tadi apa memang ada hantu laut “Ini akibat hantu laut ya pak?” Bukannya menjawab pertanyaan si bocah nelayan itu malah membentak Yudi “Pulang saja kamu, keadaan lagi gawat jangan main di pantai dulu”. Yudi berlalu dengan seribu pertanyaan di dadanya.             Rapat para tetua kampung menghasilkan sebuah kesepakatan bahwa yang harus dilakukan untuk membuang sial yang dialami para nelayan adalah melakukan ruwatan dengan cara memberikan sesaji kepada hantu laut. “Kita tak bisa tinggal diam, jalan satu-satunya adalah memberikan sesaji kepada penunggu laut ini” Bicaranya meyakinkan sehingga para nelayan pun manggut-manggut sembari mengiyakan “Setujuuuu”. Ada semacam kekuatan yang didapat oleh para nelayan bahwa kesulitan yang mereka hadapi akan segera berakhir. Selama ini masyarakat yakin bahwa saat malam datang hantu laut itu marah dan membanting batu karang di dasar lautan hingga menimbulkan bunyi keras “Gedebumm” “Tu kan benar hantunya marah lagi” Seorang penjaga malam nampak ketakutan di pos ronda dan tak berani memandang kearah laut.             Suara itu terus saja terdengar setiap malam hingga tak ada nelayan yang berani melaut. Padahal ikan mudah didapat pada waktu malam hari. Sebagai gantinya nelayan melaut pada siang hari dengan alasan lebih aman meski hasilnya tak sebanyak yang didapat jika melaut pada malam hari. Semakin hari laut semakin tak bersahabat dengan nelayan, ikan kini susah didapat ini berarti kelangsungan hidup para nelayan terancam. Imbasnya anak-anak nelayan yang sekolah harus rela jalan kaki saat berangkat menuju tempat belajar mereka karena uang saku yang biasa mereka terima kini berkurang dan hanya cukup untuk jajan ala kadarnya.             Dipicu rasa penasaran Yudi dan Kabul mencoba untuk memecahkan misteri ini. Mereka terus bertanya apakah hantu laut memang ada? Apa benar hantu laut marah karena tak diberi sesaji dan masih banyak pertanyaan di batin mereka yang harus segera terjawab. Pertanyaan itu nampaknya tak hilang meski Yudi dan Kabul sudah berada di tengah-tengah teman sekolahnya. Saat pelajaran agama Yudi memberanikan diri untuk bertanya pada pak guru Mujib. “Pak apa benar kalau di laut itu ada hantunya” mendengar pertanyaan dari muridnya pak guru Mujib menjawab dengan rinci “Dalam Islam memang alam gaib itu ada dan penghuninya yakni Iblis dan Jin, sedangkan hantu itu termasuk dalam jenis Jin tapi yang berwatak jahat”. “Oo...” Yudi nampaknya sedikit mulai mendapat sinar terang tentang hantu tapi ia masih punya pertanyaan lagi “Lalu kalau memberikan sesaji untuk mereka bagaimana pak, agar hantu nggak marah lagi?” “Yud...memberi sesaji itu termasuk penghormatan atau penyembahan terhadap hantu dan itu dalam Islam tidak diperbolehkan karena termasuk dalam perbuatan syirik”. Lebih panjang pak guru Mujib memberikan penjelasan bahwa hasil tangkapan yang didapat oleh bapak Yudi dan warga di kampungnya sama sekali tak ada hubungannya dengan kemarahan hantu.  Sepanjang perjalanan pulang Yudi mengingat pelajaran agama tentang syirik tadi  bahwa menyembah kepada selain Allah adalah dosa besar. “Aku harus mengingatkan bapak-bapak dikampungku....eee..tapi apa mungkin mereka mau dengar penjelasan dari bocah seumurku ya?” Yudi berencana untuk mencegah pemberian sesaji pada hantu laut di kampungnya. Ia pun teringat pada Kabul “Nanti aku ajak Kabul saja”. Berdasar penjelasan dari pak guru Mujib, malam harinya Yudi meluncur menuju rumah Kabul. Kedua sahabat itu mencari cara agar warga kampung terbebas dari kesyirikan dan melakukan perbuatan yang cuma buang-buang duit. “Padahal kalau memberi sesaji itu harus pakai kerbau”  Benar juga apa yang dipikirkan dua sahabat itu sudah dapat dosa besar masih harus kehilangan uang lagi. Malam hari seperti yang sudah dijanjikan Yudi dan Kabul pergi ke pantai dan mengawasi keadaan sekitar. Tak ada nelayan yang melaut, sepi dan dingin. 2 jam pertama mereka tak mendapati tanda akan kemunculan hantu laut hingga keheningan malam pecah oleh suara dari arah laut “Gedebumm” Suara itu terdengar memekakkan telinga dan menimbulkan percikan air yang tinggi. Kabul segera meraih teropong mainan milik adiknya “Wah..lihat Yud di laut ada yang sedang melempar bom”. Teropong itu berpindah tangan dan Yudi pun terbelalak melihat kenyataan bahwa yang ada di laut bukan hantu melainkan pemburu ikan dengan menggunakan bom.  Melihat kenyataan itu Yudi dan kabul bergegas menghampiri pos ronda dan memukul kentongan sekeras mungkin. Suara kentongan membuat warga berduyun-duyun keluar rumah. Sampai di pos ronda Yudi menjelaskan apa yang telah dilihatnya bersama Kabul “Benar pak saya juga lihat kok” Kabul menguatkan keterangan Yudi. Akhirnya warga yang merasa tertipu menuju tempat yang dimaksud kedua bocah tadi dan berhasil menangkap penangkap ikan yang selama ini merusak biota laut dan menggunakan hantu laut sebagai kedok. Berkat keberanian dan pengetahuan dua sahabat ini akhirnya warga kampung terbebas dari syirik serta bisa nyaman lagi mencari nafkah melaut di malam hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0); font-weight: bold;"&gt;Mimpi Buruk Royan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;by:Mambyz&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Gedebhum…kreskkk…” Suara-suara aneh terdengar semakin dekat. Sebuah bayangan tanpa wujud berkelebat menghampiri dirinya. Royan tak kuasa mengangkat kaki, mendadak ia lupa cara berlari. Keringat dingin terus mengaliri hitam keningnya. Bayangan itu kini telah berdiri didepan Royan dan hendak mencengkeramnya… “Arkghhhhhhhhhhhh…” Hanya kata itu yang terdengar ketika ia dibangunkan oleh Fitri yang tak lain adalah kakaknya. “Sssttt…Istighfar lagian ngapain sih teriak-teriak”. Pertanyaan sang kakak tak serta merta mendapat jawaban dari Royan. Sepasang mata Royan menjelajahi kamar tidurnya sembari terlihat kebingungan bercampur takut. “Sudah sana wudhu dulu kalau sudah Sholat, berdoa baru tidur lagi” Fitri dengan sabar mengarahkan adiknya supaya tenang dari mimpi yang baru saja dialami. “Aku nggak berani wudhu sendiri kak…”Royan merengek ketakutan dan meminta kakaknya untuk mengantar ke kamar mandi,. “Ayo buruan…begitu saja takut” Meski sedikit kesal namun Fitri tetap mengantarkan adiknya untuk mengambil air wudhu. Setelah melakukan sholat seperti yang dirasakan kakaknya Royan mencoba tidur lagi. Dua bersaudara ini memang tidur sendiri-sendiri bukan dalam satu kamar. Oleh Pak Rin hal ini memang disengaja dan bertujuan untuk melatih keberanian sekaligus memberikan tanggung jawab pada setiap anaknya soal mengurus kebersihan kamar masing-masing.&lt;br /&gt;     Keesokan harinya sang kakak coba mencari tahu apa yang semalam dialami oleh adiknya “Semalam ada apa sih Yan?”, Royan yang ditanya malah bengong hingga harus ditepuk bahunya “Heiii..malah ngelamun”, “Semalam aku mimpi buruk lagi kak, sudah seminggu mimpi ini terus menghantuiku” Terang Royan meyakinkan kakaknya. “Mimpi itu biasa sebagai penghias tidur, sudah jangan dipikir”. Bukannya tenang setelah mendapat penjelasan kakaknya Royan malah semakin seius menampakkan ketakutannya “Tapi semalam itu benar-benar menakutkan kak, ada bayangan hitam yang sangat besar dan tinggi, nampaknya ia ingin mencelakaiku”. Si kakak yang sedikit cemas dengan keadaan adiknya mencoba menghiburnya dengan cerita-cerita lucu namun nampaknya Royan tak juga bisa menghilangkan rasa takut akibat kejadian semalam. Akhirnya Fitri mencoba mengajak adiknya itu untuk keluar rumah agar mendapat suasana yang segar “Ayo kita main layang-layang saja sama Bagus dan Catur” Ajakan Fitri tak dihiraukan oleh Royan “Aku nonton TV saja kak filmnya bagus-bagus”. Royan pun membiarkan kakaknya pergi.&lt;br /&gt;     Untuk urusan nonton televisi Royan memang jagonya, segala jenis acara dan kapan jam tayangnya tersimpan rapi dalam ingatannya. Ia betah berlama-lama di depan televisi melahap semua tontonan yang ada meskipun acara yang ada di TV tak semuanya cocok untuk anak seumur dia. Saat ada film horor meski takut tapi Royan tak juga mematikan TV, hal itu disiasatinya dengan bersembunyi dibalik guling yang ada di sofanya. Hanya rasa ingin buang air dan lapar yang bisa merayunya untuk meninggalkan acara TV. Royan begitu asyik dan hampir tak pernah berkedip, kalau waktunya iklan ia buru-buru ganti chanel ke stasiun TV lain untuk mencari acara yang ia senangi. “Wah..ini film bagus tentang penyihir aku suka sekali” Royan tambah semangat setelah mengetahui bahwa hari itu film Hary Potter yang terbaru tengah diputar. Kalau ngomongin tentang tokoh penyihir cilik itu dari komik hingga film Royan tak pernah ketinggalan. Bahkan pernah ia mengorbankan uang tabungan hanya untuk membeli kostum yang mirip dengan tokoh idolanya itu. Belum genap sepuluh menit film itu berakhir “Yaaaa…telat deh”. Dengan sigap Royan memencet remote controlnya dan berhasil menemukan acara kegemarannya yang lain yakni Smack Down “Ayo pukul, tendang terus”. Sebenarnya acara itu bohongan dan tidak cocok ditonton anak kecil namun Royan tak mau ambil pusing…”Ini baru seru”. Dalam acara ini memang yang ditonjolkan hanyalah kekerasan dalam ring. Acara ini sesungguhnya lebih mirip sandiwara maksudnya siapa yang memukul, bagian mana yang dipukul dan bagaimana cara jatuhnya agar tak sakit telah diperhitungkan dan dikompromikan secara matang. Acara seperti itu cuma bohongan tapi Royan tak berpikir sampai kesitu. Yang penting seru dan menarik itu yang dia butuhkan.Jika malam datang rasa kantuk begitu hebat menyerang Royan, itu karena jam istirahat siang tak dimanfaatkan sebaik mungkin dan juga karena seharian ia hanya duduk didepan TV hingga tubuhnya menjadi tidak bugar. Coba saja kalau siang tadi dia menyempatkan diri untuk keluar rumah dan bermain bersama temannya pasti akan lebih mengasyikkan dan juga memberikan manfaat bagi tubuh karena melakukan gerak. Akhirnya belajar pun tak sempat bahkan sholat Isya belum dikerjakan ia sudah tertidur. Ditengah-tengah tidurnya Bayangan hitam kembali mendatangi Royan dan kali ini suasananya semakin mencekam. Bayangan itu berkelebat mendekat bagai kain yang tertiup angin, Royan dalam mimpi itu berhasil melihat kedalam kerudung penutup kepala yang dipakai bayangan itu. Betapa kaget Royan karena ternyata bayangan itu merupakan karakter musuh yang ada dalam film Hary potter     &lt;br /&gt;     “Arrkghhhhhhhhhh…” Royan kembali menjerit hingga membangunkan Fitri. Pak Rin Orang tua Royan pun mendengar jeritan itu dan segera menuju kamar anak nomor duanya “Ada apa ini Fit” Tanyanya kepada si sulung yang lebih dulu sampai di kamar adiknya, “Royan sudah berhari-hari selalu mimpi buruk pak”. “Aku didatangi mahluk yang ada di film itu pak, aku takut sekali”. Mahluk yang dimaksud Royan itu bisa menyedot nyawa orang yang disentuhnya memang, tapi hanya dalam film kalau di dunia nyata jelas tak ada mahluk seperti itu. “O…jadi yang kamu bilang menakutkan itu tho, lain kali kalau lihat acara TV itu yang bermanfaat, bukan itu saja kamu juga harus menyesuaikan acara TV dengan usia kamu Yan” Pak Rin menasehati anaknya agar tak begitu saja mengkonsumsi semua tayangan yang ada di TV. “Kamu juga belum sholat Isya’ kan?” Royan tersenyum kecil sepanjang perjalanannya menuju tempat wudhu menyadari kesalahannya. Dalam hati ia berjanji tak akan lagi menjadikan TV sebagai contoh dan idola.   Royan sadar bahwa selama ini kebiasaannya menonton TV secara ngawur telah memberikan efek buruk bagi dirinya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1968987199556825028-7659074727948773023?l=full-stories.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://full-stories.blogspot.com/feeds/7659074727948773023/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://full-stories.blogspot.com/2009/09/cerita-anak.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1968987199556825028/posts/default/7659074727948773023'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1968987199556825028/posts/default/7659074727948773023'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://full-stories.blogspot.com/2009/09/cerita-anak.html' title='Cerita Anak'/><author><name>Full Beautifully Stories</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10171057672386779649</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1968987199556825028.post-3621211684744703495</id><published>2009-09-08T00:04:00.000-07:00</published><updated>2009-09-08T00:09:31.157-07:00</updated><title type='text'>Cerita Horor</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(204, 51, 204);"&gt;Mimpi dan Kematian&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;by : gurauan cinta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dione… tenang..Dione…”Siang itu taman di belakang sekolah hanya didatangi oleh sepasang manusia yang meributkan tentang sesuatu. Dione tidak berhenti-hentinya panik. Walaupun sudah ditenangkan oleh William, tapi tetap saja, kepanikan Dione tidak hilang-hilang juga. Kepanikan ini bukanlah sesuatu yang berlebihan, tapi adalah suatu kenyataan. Ia bermimpi(lagi) tentang kematian yang melanda teman-temannya, yang sudah dialaminya selama 2 bulan ini. Dan, kali ini mimpi itu mengatakan bahwa William, kekasihnya, yang akan meninggal.“Hei, sudahlah! Kematian kan bukan datang dari mimpi. Kematian itu milik Tuhan, bukanlah milik siapa-siapa.”  William berusaha menenangkan.Dione mendesah. Ia tahu bahwa kematian memang milik Tuhan. Tapi, pikirannya tak bisa melepaskan masalah ini begitu aja. Ia takut, sudah 2 mimpi ia lalui, dan kedua-duanya menjadi kenyataan. Bahkan kenyataan yang menyakitkan.“Tapi, William. Aku.. Aku…sendiri….”Entah kenapa, Dione sendiri pun bingung. Di kelurganya tidak ada satupun yang mempunyai kekutaan supranatural seperti ini. Tapi, entah kenapa, sejak ia menginjak umur ke 17, 3 bulan yang lalu, bayangan menakutkan itu datang ke pikirannya lewat mimpi yang mencekam.Dan mimpi pertama, yaitu mimpi tentang Garcia, sahabat terbaiknya. ** “Gar.. Jangan makan bakso itu!!” Dione berusaha menghalangi Garcia yang tetap ingin makan bakso itu. Sudah 3 kali Dione mencoba menghadang Dione untuk memakannya, tetapi, Garcia tetap saja ingin makan.Garcia sudah tidak tahan. Sepanjang pelajaran tadi, Garcia sudah kelaparan setengah mati. Ketemu Fisika 3 jam, dan Kimia 1 jam, bagaikan menghabiskan bensin motor 3 liter. Dan ia harus isi bensin dengan baso ini. Tapi, Dione mencoba menghadang dia untuk makan bakso ini.“Dione.. ku.. yang cantik… Kenapa sih?? Gue laper dari tadi. Ketemu Termodinamika sama hidrolisis tadi itu bikin gue laper. Sekarang gue pengen makan. Memangnya kenapa sih? Apa karena mimpi loe yang jelek itu?”Dione mengangguk.“Loe itu ya selalu kebawa sama mimpi. Baru mimpi kayak begitu aja. Memangnya gue matinya gimana? Kecekek sama anjing gue?”“Entah, enggak gitu keliatan. Tapi, yang pasti, kamu kayak kejang-kejang. Aku takut kamu keracunan makanan karena bakso ini.”Garcia tertawa kecil. Meremehkan ketakutan Dione. Garcia tetap melanjutkan makan bakso yang ia beli tadi.“Sekarang gini aja,” Garcia menarik napas sejenak, mencoba meredam emosi, dan menelan basonya, “Kalau loe masih berpikiran kayak begitu terus, lebih baik loe konsultasi ke psikiater deh. Udah level parah kayaknya. Oke?”Dione terlihat pasrah. Ia meninggalkan Garcia sendirian yang sedang asyik dengan baksonya.Keesokan paginya. Seiisi sekolah terkejut. Garcia meninggal keracunan. **“Lucina? Di..Dione, itu kan semua karena kecelakaan. Kematian adikmu kan karena kecelakaan, bukan karena mimpi itu,” William mencoba menyadarkan Dione dari semua permasalahan ini. “Realistislah, Dione! Realistis!”“Aku tahu. Aku mencoba untuk realistis. Tapi, semua itu benar kan, semuanya sesuai dengan mimpiku!”William terdiam. Ia tidak bisa berkata apa-apa lagi. Ia ingat dengan kisah Lucina, adiknya Dione, yang meninggal persis dengan mimpi Dione. Lucina? Ya, itu adik Dione satu-satunya. Lucina memiliki kekuarangan yang menjadi sebab kenapa Dione sayang sekali dengan Lucina. Lucina lumpuh. Hidupnya hanya tergantung pada kursi roda yang dibeli oleh Dione dari hasil menang lomba Sains yang ia ikuti waktu SMP. Walaupun jarak umur mereka tidak jauh berbeda, tapi tidak ada sedikitpun kecemburuan yang timbul di hati Lucina. Lagipula, orang tua mereka tidak seperti ayahnya Garcia, yang merupakan  pengusaha besar di salah satu perusahaan swasta di Jakarta. Ayah Dione dan Lucina hanya buruh pabrik di Bogor. Ibu mereka hanya seorang akuntan di Bekasi. Mereka hanya tinggal dengan paman dan bibi mereka yang berada di daerah pedalaman Tangerang, karena ketidakmungkinan ayah dan ibu mengurus mereka.Dan, yang membuat Dione tidak bisa melupakan kasus Lucina, yaitu mimpi dia yang tidak bisa ia cegah. Malam itu, Dione baru saja bermimpi, bahwa Lucina meninggal dengan cara yang tragis. Tapi, kali ini, mimpinya tak terlihat jelas. Buyar sekali. Hari ini ia memutuskan, tidak masuk sekolah terlebih dahulu.“Loh, kenapa Kak? Kakak sakit?” Tanya Lucina cemas“Nggak.. Kakak cuman ada sedikit masalah aja. Biasalah.”Lucina sudah tahu masalah apa yang dialami kakaknya. Maklum, semua cewek pasti mengalaminya.  Lagipula, Lucina lega kali ini kakaknya ada di rumah. Kakaknya berjanji akan mengajaknya main keluar. Kebetulan, kakaknya akan mengajak dia bermain di pantai, yang tak jauh dari rumahnya.Jam 10, mereka pun langsung berangkat ke pantai. Suasana pantai pagi itu memang tidak seperti biasanya, apalagi pada saat hari minggu. Maklum, hari ini hari sibuk, mana ada yang mau meluangkan waktu nya sedikit untuk melepas lelah di pantai ini. Lagipula, pantai ini kan sudah lama tidak dijadikan tempat  wisata. Sejak kerusuhan Mei 1998, beberapa tempat di pantai ini dibakar habis oleh para penjarah. So, bisa dibayangin kan seramnya?!Tapi, walaupun seram, Lucina dan Dione selalu mencari tempat ini. Selain dekat rumah, banyak kenangan-kenangan masa kecil yang tak bisa mereka lupakan.“Kak, jadi kangen ama mama dan papa,” Lucina menangis. Ia teringat akan mama dan papanya yang sibuk akan kerjaanya masing-masing, sampai-sampai tak pernah menjenguk mereka sama sekali.Dione memeluk Lucina dari belakang kursi rodanya. Kehangatan yang diberikan Dione kepada Lucina, memang dapat dikatakan seperti kehangatan orang tua mereka sendiri. Keadaanlah yang mengharuskan Dione untuk tumbuh dewasa seperti ini.“Luci, mama sama papa kan lagi cari uang buat kita. Lagipula, mereka kan nggak lagi main-main. Kalau mereka main-main, kakak bisa bantuin kamu buat marahin mereka. Oke?” Dione mengeluarkan toss-an nya kepada Lucina, yang disambut toss juga oleh Lucina.“Kak..”“Ya, kenapa?”“Kalau nanti aku meninggal, kakak sedih nggak?”Dione terdiam. Ia terhenyak. Ia tak menyangka adiknya berbicara seperti itu lagi. Adiknya memang sering berbicara soal kematian, karena kondisinya sekarang yang seperti ini. Dione sudah beberapa kali menahan Lucina agar tidak berbicara seperti itu. Tapi, Lucina tetap saja berbicara seperti itu. Dan, parahnya lagi, Dione takut, ini adalah terjemahan mimpinya yang kemarin.“Ka…kamu jangan mikir kayak begitu lagi lah. Aneh-aneh aja!”Lucina hanya terdiam. Wajahnya berubah sendu. Entah apa yang sedang ia pikirkan. Sepertinya ada masalah yang membuat ia sedih seperti ini.“Tadi malam aku bermimpi lagi kak. Kali ini mimpinya beda. Ada seorang kakek datang kepadaku, dan mengatakan kepadaku, bahwa Tuhan ingin aku bersamanya hari ini,” kata Lucina terisak-isak.Dione terpekur. Kenapa Lucina bisa bermimpi seperti itu? Apakah malaikat kematian memang akan mencabut nyawanya hari ini?“Lucina, jangan berpikir seperti itu. Siapa tahu Tuhan hanya ingin menemanimu di mimpimu.” Dione tak tahan lagi. Dia langsung menarik kursi roda Lucina dan mengajakanya pulang. Lucina pun menurutinya. Ia tahu perasaan kakaknya kali ini sedang gundah.Rumahnya yang terletak di seberang pantai, membuat mereka harus menyebrang setiap kali ke pantai ini, termasuk hari ini.Dione melihat ke sekeliling, tak ada mobil yang lewat. Dione bersiap-siap untuk menyeberang. Tetapi, pas mereka sudah menyeberang seperempat jalan,  bus datang dari sisi kanan dengan kecepatan tinggi, Dione yang refleks, langsung menarik tubuhnya dan kursi roda Lucina ke belakang. Tetapi, asap tebal yang dihasilkan bus tadi menutupi wajah mereka, sehingga Dione dan Lucina tidak melihat ada mobil yang melintas beriringan di belakang angkot itu. Karena kurang cepatnya Dione menarik kursi roda Lucina, Lucina pun tertabrak oleh mobil itu. Dione yang masih memegang kursi roda Lucina, mencoba mengimbangi kursi rodanya agar kecepatan mereka sama. Tapi, tekanan yang terlalu kencang mengakibatkan Dione melepaskan pegangannya dari kursi roda Lucina. Lucina dan kursi rodanya terpental jauh sekali, dan berhenti 8 detik kemudian.***“Tapi, Dione. Setelah aku pikir-pikir. Kematian Lucina kan kebetulan! Bukan karena mimpimu itu, Dione!” William mulai terlihat geram. Ia langsung mengambil tasnya yang tergeletak di rerumputan. Ia sudah mulai gerah mendengar semua ketakutan Dione yang terlalu berlebihan. Ia hanya percaya bahwa kematian seseorang sudah ditakdirkan oleh Yang Maha Kuasa, bukan oleh siapa-siapa.“Memangnya aku bagaimana di mimpimu itu?!”  tanya William lagi dengan nada kesal.Dione terdiam. Wajahnya semakin tunduk ke bawah. Tapi, anehnya, kini ia tidak menangis seperti biasanya. Tangannya terlihat mengambil sesuatu dari belakang bajunya. Dione tersenyum simpul di balik rambut yang menutupi wajahnya. Seketika, Dione langsung melompat ke tubuh William dan menusukan benda, yaitu gunting yang cukup besar, ke perut William.“Dengan cara seperti ini!!!” teriak Dione. Sepertinya teriakannya kali ini terdengar teriakan yang sangat puas. Puas sekali.William tertegun. Tubuhnya terasa lemas karena gunting yang ditusuk oleh Dione ke perutnya. Seluruh tubuhnya mati rasa. Ia tak menyangka, kekasihnya ini bisa membunuhnya. William mencoba melakukan perlawanan dengan menarik tubuhnya ke belakang, tapi Dione yang memiliki ilmu karate menahan tubuhnya agar tidak terlepas dari gunting itu. Bahkan, Dione mendorong tubuh William hingga tiang bendera yang ada di taman itu, sehingga William tidak bisa melakukan perlawan lagi. .  “Ke..kenapa??” tanya William tersengal-sengal.Dione tersenyum. Sepertinya pertanyaan itu yang sedang ia tunggu.“Aku… melakukan..ini..karena…aku muak dengan kalian, terutama dengan kau dan garcia!!”“ Muak kenapa?”“Kau kira aku tidak tahu, kalian berdua berselingkuh di belakang ku. Kau kira aku tidak tahu, kau suka jalan dengan Garcia pas hari sabtu, padahal alasanmu sedang ada urusan keluarga. kau kira aku tidak tahu!! hah!!!“A..aku tidak seperti itu, Dione,” William mencoba menyadarkan Dione yang sudah kehilangan akal sehatnya. Walaupun, semua yang dibicarakan oleh Dione itu BENAR, tetapi ia tidak pernah berselingkuh. Ia hanya suka jalan dengan Garcia karena mereka berdua adalah teman sejak kecil. Mereka berdua sering bermain bersama sejak dulu. Tetapi, sejak Ayahnya Garcia ditugaskan di Den Haag, Garcia harus berpisah dengan Wiliam ketika SD. Dan, mereka bertemu lagi ketika mereka SMA, ketika Garcia kembali lagi ke Indonesia. William menyesal, tidak memberitahukan hubungan pertemanan mereka kepada Dione, sehingga Dione berprasangka buruk seperti ini.“Bohong!!! Jangan bohong! Kau kira aku tidak tahu semua tipuanmu, hah!” Dione mendorong guntingnya semakin keras. William mengerang kesakitan.“Oh ya, dan satu lagi. Semua mimpi-mimpi itu, hanyalah sebuah kebohongan! Sebenarnya, aku tidak pernah bermimpi seperti itu. Aku hanya mengarang semua cerita bohong itu.”William tersentak. Semua mimpi itu, ternyata bohong???“Kenapa, kaget ya? Ha!” Dione tersenyum sinis sembari mendorong tubuh William yang sudah semakin lemas. “Semua itu hanya rekayasa aku aja, biar kalian ketakutan. Dan juga, aku sengaja memusnahkan Garcia, aku sengaja menuangkan racun arsenik ke dalam baso itu ketika Garcia sedang pergi ke WC. Dan untuk adikku, Lucina, itu juga bohong. Kejadian waktu itu bukan karena aku lalai, tapi karena aku sengaja. Aku sengaja melepaskan pegangan itu, karena aku takut aku juga akan mati dengan Lucina bila aku ikut terseret dengannya. Lagipula, aku sebal juga dengan adikku, ia selalu berbicara soal kematian, dikit-dikit mati, dikit-dikit mati,  itu semua membuat aku gila, Gila!!! Tau nggak!!!”William baru sadar, ia telah dibodohi oleh gadis alim seperti Dione, yang ternyata berpikiran licik seperti ini. Sekarang ia telah masuk dalam jebakannya. William juga sadar, Dione telah dirasuki oleh kegelapan batin dan kebodohan yang kritis.Tinggal sedikit lagi, kematian akan menjemputnya. Kematian atas kelalaiannya. Ia hanya bisa berdoa, semoga Dione diampuni atas semua dosa-dosanya. Dan, arwahnya bisa diterima oleh Tuhan.Tiba-tiba terbesit sesuatu di pikiran William. Ia baru teringat, ia menyimpan pisau lipat di saku celananya. Tanpa berpikir panjang, William langsung mengambil pisau itu, dan menusukkanya ke bahu Dione dengan cepat. Dione terhenyak. Kini keadaan seimbang.“Ingat kisah Romeo Julliete?” tanya William, “Kali ini kita akan mati bersama-sama, Dione Refinka,” William terus mendorong tubuh Dione ke belakang. Dione mencoba menyelamatkan diri dengan melakukan jurus-jurus karatenya. Tapi, William yang mengerti serangan-serangan Dione, mencoba menahan serangan kaki Dione dengan kakinya yang kuat karena sering bermain futsal. Justru, William melakukan serangan balasan dengan menendang kaki Dione. Dione terjatuh, tapi Dione cepat menahan tubuhnya dengan kaki kirinya.“Sorry, Dione. Tapi, Circus is Over!”Dione berusaha bangun kembali ke posisi semula. Tapi, William melakukan serangan terakhirnya dengan cepat. William mencabut gunting yang tertancap di perutnya, dan menancapkan gunting ke perut Dione.Dione tewas.Willam menarik napas sejenak. Ia membunuh kekasihnya, yang tadi ingin membunuh dirinya, dan juga telah membunuh Garcia, teman baiknya.William berjalan meninggalkan jasad Dione. Tapi, perutnya yang sudah terkoyak sebagian oleh gunting Dione, membuat  semua energi dan staminanya habis total. Wajahnya berubah pucat pasi. Langkahnya tiba-tiba terhenti. Tubuhnya yang semula berdiri tegak, kini mulai runtuh. Napasnya mulai tersengal-sengal.Dari kejauhan, di dalam tidurnya. William melihat Garcia menyapa dia dengan senyuman yang lembut, dan mencoba memanggilnya dengan panggilan tanpa suara. William hanya bisa tersenyum menatap Garcia.Tak lama kemudian, William hanyut dalam kedamaian yang abadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 153, 255); font-weight: bold;"&gt;Misteri Foto Persahabatan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;by: Princess&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Susana di SMU 4 Surabaya sangat ramai, karena ini hari pengumuman kelulusan. 100% lulus gak ada yang ketinggalan. Semua siswa kelas 3 beraksi mengungkapkan ekspresinya, coret-coret baju, guyur-guyuran aie sambil tertawa senang, ada juga yangmenangis senang.  "Win!"Bram memanggil Wina, gadis cantik berambut gelombang rapi  "Apa Bram?"  "Nih, tolong foto kami"sambil menyodorkan kamera digital. Wina dibelakang Bram, Indri, Sita dan Taruna bergandengan tangan dan baju penuh coretan.  "Kalian kaya anak kecil aja gandengan tangan kaya gitu"  "Alah! Bilang ja lo iri ma persahabatan kami. Lo kan ga punya temen" Taruna nyolot.  "Oke dah. Nie gua poto" Memotret 4 sekawan itu rasanya ....  "Thanks, kalo uda jadi gua kasih satu"  "Ya"Jujur, Wina memang iri pada persahabatan mereka. Mereka berjalan berangkulan meninggalkan Wina                         .......................  "Win, kalo uda selese makan ya?"ucap mama Wina diambang pintu  "Iya ma"2th berlalu setelah kelulusan. Wina ingat persahabatan Taruna, Bram, Indri dan Sita yang membuatnya sangat amat iri.  "Ah capek makan dulu"Wina kini kuliah di salah satu UNIV besar di Surabaya.                            ......................Jam 21.00 mata Wina melotot, mulutnya komat kamit memandang foto dari Bram 2th lalu. Ia ingat benar yg ia foto 2th lalu 4 orang. Namun foto ditangannya hanya 3 orang. Mulutnya tak berhenti menyebutkan nama2 temannya.Seingatnya Taruna berdiri di tengah merangkul Indri dan Sita. Tapi dia tak ada.Ia melompat ambil ponsel menghubungi Taruna. Tidak aktif. Tanpa pikir lagi ia menuju mobil, melesat ke rumah Taruna. Penjaganya bilang dia pindah 1th lalu.Wina panik, ia pergi ke rumah Sita karna paling dekat dg Taruna "Sita!"Wina memanggi8lo Sita yg sedang Menyiram bunga "Lho Wina, da pa?" "Taruna pindah kemana?"Sita diam dan menunduk"Sit!! gua tanya Taruna pindah kemana?"menaikan nada suara "Ta..Taruna"Sita bicara terbata-bata "Ngomong yg jelas gua gak denger"menggguncang bahu Sita "Di..dia meninggal 2minggu lalu" "Apa!!kenapa gak da yg kasih tau gua!!" "Sorry Win, gua pikir lo gak kan peduli"Wina lemas takbisa bicara apa-apa. Ia pulang dg pikiran kosong. Dikamar ia tak bisa tidur. Esok pagi Wina kembali melihat foto itu, kali ini gambar Indri lenyap. Belum sempat Wina menyelesaikan terkejutnya, dia mendapat tlp bahwa Indri meninggal dibunuh calon suaminya.Wina kalap tak bisa berbuat apa-apa. Usai melayat Wina memasang foto itu di dinding depan tempat tidurnya agar leluasa melihatnya. "Lo ga pa pa Win"tanya Bram "Ni karna foto itu Bram" "Foto apa an Win"Heran "Nieh"Wina menyodorkan Fota 2th lalu. Bram memandangi foto itu lalu terdiam.                        ......................Berhari-hari sepeninggal Indri Wina masih tak tenang. Bram juga belum beri kabar tentang foto yg di copy sepeninggal Indri. Malam ini hampir jam 11 malam, Tapi Wina tak bisa tidur meski mencoba berkali-kali. Hampir jam 1 malam, Wina hampir tidurPRAAANK...!!!!Wina terkejut dan ia melihat foto yg digantungnya jatuh kelantai dan pecah. Wina segera mengmbil foto itu melihat sedetik kemudian ia berlari keluar. Sambil menelpon Bram, gambarnya lenyap. "Ni uda malem lo gila ya Win"bentak Bram dari sebrang "Lo ga pa pa kan Bram" tanya Wina panikBRANK!!!! "Bram...Bram lo kenapa Bram"Wina makin kalap seperti kesetanan. Ia membangunkan Orangtuanya minta di antar ke rumah Bram. Ia harus menemui Bram sekarang juga.AAAAAAAAAAAAGRHWina terbangun dari tidurnya dg keringat dingin di tubuhnya "Cuma mimpi"tanpa ssengaja Wina memandang foto ulang tahunnya di meja sebelah tempat tidurnya. Tapi ia tak melihat dirinya, yg waktu itu di apit ke-2 orangtuanya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1968987199556825028-3621211684744703495?l=full-stories.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://full-stories.blogspot.com/feeds/3621211684744703495/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://full-stories.blogspot.com/2009/09/cerita-horor.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1968987199556825028/posts/default/3621211684744703495'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1968987199556825028/posts/default/3621211684744703495'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://full-stories.blogspot.com/2009/09/cerita-horor.html' title='Cerita Horor'/><author><name>Full Beautifully Stories</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10171057672386779649</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1968987199556825028.post-8617298296289196099</id><published>2009-09-07T23:59:00.000-07:00</published><updated>2009-09-08T00:04:05.401-07:00</updated><title type='text'>Cerpen Sad Ending</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold; font-family: verdana; color: rgb(153, 51, 153);"&gt;Bunga Nisan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;by : Yuki-chan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langit terliat mendung . Seakan ikut sedih bersamaku . Aku membawa seikat bunga mawar di mulutku . Kemudian bunga-bunga itu kuletakkan diatas tanah . Tepat didepan nisan yang bertuliskan Bunga Sinta Rahayu . Aku mengelus-eluskan pipiku di batu nisan itu .&lt;br /&gt;Aku menatap langit . Mencoba mengingat kembali kenangan-kenangan indah . Ya , kenangan indah yang pernah kualami bersama majikanku .&lt;br /&gt;*                                             *                                              *&lt;br /&gt;“Mochi ! Mochi...! Kamu dimana ?”&lt;br /&gt;Majikanku memanggilku . Uh ! Aku harus cepat-cepat datang menemuinya . Aku menyudahi obrolanku dengan Mey . Kucing betina punya tetangga sebelah . Dia...Ehem ! Pacarku .&lt;br /&gt;“Meong...(Iya )”Kataku .&lt;br /&gt;“Oh , kamu disini rupanya .Mochi , kamu mau ikut aku kerja ?”Tanya&lt;br /&gt;majikanku .&lt;br /&gt;“Meong-meong (Mau-mau ) “Kataku .&lt;br /&gt;Majikanku mengambil tongkat dan tasnya . Kemudian dia berjalan meraba-raba dengan tongkatnya . Dia berusaha mencari pintu rumah . Setelah berhasil menemukannya dia langsung membuka pintunya . Aku keluar duluan . sementara majikanku menyusul dari belakang . Tak lupa dia mengunci pintu rumahnya .&lt;br /&gt;Majikanku itu bernama Bunga . Dia adalah seorang tuna netra . Tapi meskipun begitu , dia tidak mau merepotkan orang lain . Dia berusaha bekerja semampunya . Bunga , majikanku itu bekerja disebuah home industri . Setiap kali bekerja , aku selalu diajak . Aku senang memiliki majikan seperti dia . Dia sangat perhatian padaku . Terkadang ketika dia bekerja , aku pun ikut membantunya .&lt;br /&gt;*                                             *                                              *&lt;br /&gt;“Bunga , akhirnya kamu datang juga . ibu sudah tunggu dari tadi .&lt;br /&gt;Seperti biasa , ya . Tolong bungkus makroni goreng ini .”&lt;br /&gt;“Iya , bu .”Kata Bunga .&lt;br /&gt;Ibu pemilik home industri tempat majikanku bekerja , menuntun majikanku . Dia menuntun majikanku ke tempat pembungkusan . Setelah itu , bunga duduk . Dan mulai bekerja . Meskipun tuna netra , majikanku tetap bisa bekerja layaknya orang normal . Dengan cekatan , dia mulai memasukkan makroni gorengnya kedalam plastik .&lt;br /&gt;“Siti , ini .”Kata Majikanku sambil menyerahkan makroni goreng yang&lt;br /&gt;sudah dibungkusi .&lt;br /&gt;“Oh ya .”Kata orang yang dipanggil Siti .&lt;br /&gt;Oh ya . Majikanku bekerja disini hanya sebatas membungkus makroni goreng saja . Sedangkan bagian yang lainnya , dilakukan oleh teman-teman majikanku yang normal .&lt;br /&gt;*                                             *                                              *&lt;br /&gt;Majikanku dan aku pulang dari tempat kerjanya . Kami pulang dengan menaiki becak .&lt;br /&gt;“Berapa pak ?” Tanya Majikanku .&lt;br /&gt;“ 7000 , mbak .”Jawab Tukang becak .&lt;br /&gt;“Kok sekarang mahal pak .”Kata Majikanku .&lt;br /&gt;“Ya , maklumlah , mbak . Sekarang apa-apa juga naik .”Kata Tukang&lt;br /&gt;becak itu .&lt;br /&gt;Bunga kemudian membayarnya . Setelah itu , aku dan Bunga masuk ke dalam rumah . Didalam tampak gelap . Bunga kemudian menyalakan lampunya . Nah , sekarang sudah terang . Tak lupa majikanku menyalakan TV-nya .&lt;br /&gt;“Nah , Mochi . Kamu disini dulu ya . Lihat TV dulu . Aku mau&lt;br /&gt;mandi .”Kata Majikanku .&lt;br /&gt;“Meong...(Iya...)”Kataku .&lt;br /&gt;“Blam !” Terdengar suara pintu kamar mandi yang ditutup .&lt;br /&gt;Aku menungu majikanku yang sedang mandi . Aku duduk dengan santai sambil menonton TV . Ah...Acaranya membosankan . Aku meraih remote TV-nya . Kemudian kupencet dengan asal tombol-tombol angka yang ada disitu . Dan akhirnya aku menemukan acara yang pas . Hmm....Manusia itu pandai membuat hiburan ya .&lt;br /&gt;Setelah mandi , majikanku kemudian makan malam . Tak lupa dia menyiapkan makan malam untukku . Yah , apalagi kalau bukan makanan favoritku , ikan gereh . Dan minuman favoritku , susu hangat . Hmm...Enak ....&lt;br /&gt;*                                             *                                              *&lt;br /&gt;“Mochi , ayo berangkat .”Ajak Bunga .&lt;br /&gt;“Meong....!(Ayo...!) .”Kataku dengan semangat .&lt;br /&gt;Majikanku berjalan denganku ke tempat pangkalan becak . Kemudian dia memanggil salah satu tukang becak . Dan menyuruhnya untuk mengantar ke tempat kerja majikanku .&lt;br /&gt;“Mas-mas , stop .”Kata Majikanku . “Ini ya ,mas .”Kata majikanku&lt;br /&gt;sambil menyerahkan uangnya .&lt;br /&gt;“Oh ya . Makasih ya , mbak .”Kata tukang becak itu .&lt;br /&gt;Aku dan majikanku kemudian berjalan ke tempat kerja . Tapi tiba-tiba aku merasa ada seuatu yang aneh . Sepertinya ada seseorang yang membuntuti kami . Aku mulai waspada .Karena aku merasakan orang itu semakin dekat , dekat , dan...Dia mengambil tas majikanku !&lt;br /&gt;“Meong!Meong!(Copet!Copet!)”Teriakku .&lt;br /&gt;“Copet...!Tolong....!”Teriak Majikanku .&lt;br /&gt;Copet itu terus berlari .Aku pun berusaha mengejarnya . Dibelakangku ada beberapa orang yang ikut mengejarnya . Dibelakangku ada beberapa orang yang ikut mengejarnya . Mungkin mereka tahu majikanku berteriak , sehingga mereka ikut mengejar copetnya .&lt;br /&gt;Aku berlari lebih cepat lagi . Dan sekarang aku berada didekatnya . Aku melompat ke pantatnya , kemudian menggigitnya .&lt;br /&gt;“Aw ! Apa ini ?! Huh ! Dasar kucing sialan !”Bentak si pencopet .&lt;br /&gt;“Buk ! “ Pencopet itu memukulku .&lt;br /&gt;“Grr...Meong!(Sialan ! Rasakan cakaranku ini !)”&lt;br /&gt;Pencopet itu berhenti berlari , dia merasa kesakitan . Karena mukanya habis aku cakar . Dan itu menjadi kesempatan orang-orang yang ada di belakangku untuk memukulnya . Kemudian salah seorang dari mereka menyerahkan tasnya pada majikanku . Majikanku terlihat senang . Dan aku pun lega melihatnya .&lt;br /&gt;*                                             *                                              *&lt;br /&gt;Hari Minggu ini , majikanku mengajakku pergi ke pasar . Seperti biasa , dia mau belanja untuk kebutuhan minggu ini . Karena jaraknya dekat dengan rumah ,maka majikanku lebih memilih jalan daripada naik becak .&lt;br /&gt;Sesampainya di pinggir jalan raya aku dan majikanku mulai menyebrang . Kaena pasarnya terletak di seberang jalan . Ketika kami menyebrang , tiba-tiba ada mobil yang melaju ke arah kami . Mobil itu melaju dengan kwcwpatan tinggi . spontan aku langsung berlari ke seberang . Fuh , selamat . Tapi...Diaman majikanku?&lt;br /&gt;Rupanya mobil tadi menabrak majikanku . Majikanku pingsan . Orang-orang yang melihat kejadian itu langsung menolong majikanku . Sementara itu , mobil yang menabrak majikanku tadi langsung lari begitu saja .&lt;br /&gt;Setelah kejadian itu , majikanku dirawat di rumah sakit . Dia dirawat selama seminggu . Dan dalam keadaan koma .&lt;br /&gt;*                                             *                                              *&lt;br /&gt;Sekarang , dia sudah pergi untuk selama-lamanya . Yang ada disini hanyalah nisan yang bertuliskan Bunga Sinta Rahayu . Dan kenangan-kenangan indah yang pernah kualami bersama majikanku . Tiba-tiba air mataku menetes .&lt;br /&gt;“Meow , meow meow ( sudahlah , jangan terus ditangisi . Kasihan nanti&lt;br /&gt;dia disana .).”&lt;br /&gt;Sepertinya aku kenal dengan suara ini . Aku menoleh ke belakang . Dan ternyata yang berbicara tadi adalah Mey , istriku .&lt;br /&gt;“Meong , meong meong meong ( Tapi , aku sekarang jadi sebatang&lt;br /&gt;kara ).”Kataku .&lt;br /&gt;“Meow meow meow . Meow meow ( Kau tidak sebatang kara . Kan ada&lt;br /&gt;aku dan anak-anak ).”Kata Mey .&lt;br /&gt;Tiba-tiba muncul lima anak kucing dari belakang Mey . mereka berlari mendekatiku . Kelima anak kucing itu mengelus-eluskan pipnya ke kakiku .&lt;br /&gt;“Meong , meong meong meong ( ayah , jangan pergi lagi ya ).”&lt;br /&gt;“Meong . Meong meong (Iya , yah . Kita kan kangen sama ayah ).”&lt;br /&gt;Aku tersenyum pada anak-anakku . kemudian aku melihat Mey . Dia juga tersenyum lembut padaku . Aku pun membalas senyumannya . Kemudian kucium , Mey . Mey terlihat kaget ketika kucium .&lt;br /&gt;“Meong...Meong-meong (Ayo kita pulang ).”Kataku .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Sepucuk Surat di Senja Sunyi &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;by : Aqit&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nura, mau kemana lagi kamu?” teriak Mama dari dalam kamarnya yang pintunya sedikit terbuka. “A…aku… biasa lah, Ma. Kayak nggak tau aja,” jawabku tergagap sambil melayangkan kamera SLR Sony Alfa 200  kesayanganku yang kubeli sekitar 3 tahun lalu. Aku yakin Mama pasti akan melarangku untuk memotret lagi. Karena, entah kenapa, dia agaknya kurang begitu suka melihat hobi memotretku. Namun kali ini berbeda, tanpa perlu aku meminta izin dan bersusah payah memohon-mohon untuk diperbolehkan memotret olehnya, beliau langsung begitu saja mengizinkanku pergi.            “Baiklah. Tapi ingat, pulangnya jangan sampai larut!” katanya setelah melihat tampangku yang agak memelas. “Oke, Ma. Makasih ya, Ma,” seruku sambil mencium kedua pipi Mamaku, lalu kemudian bergegas pergi sebelum Mama berubah pikiran. Aku sengaja tak mengungkit ketidaksukaan Mama tentang hobi memotretku. Karena seperti yang kukatakan tadi, aku takut ia berubah pikiran.  Akhirnya, sampailah aku ke tempat tujuanku, Taman Cinta—orang-orang biasa menyebutnya begitu, mungkin karena taman ini selalu didatangi oleh pasangan yang sedang memadu cinta. Tapi kalau menurutku wajar saja. Taman kan memang identik dengan tempat kencan.            Aku menuju ke sudut taman yang agak sepi. Taman itu memang lumayan besar sehingga masih tersedia beberapa ruang tersisa yang tidak digunakan oleh para pasangan yang sedang memadu kasih.             Satu per satu kupotret objek yang kurasa bagus. Seperti pemandangan taman yang luas dengan pohon-pohon yang rindang dan daun berserakan, sangat natural. Ada juga sepasang kekasih yang sedang duduk berdua di bangku taman di bawah pohon yang terlihat sangat sejuk, burung-burung yang hinggap di pohon, matahari di sore hari, langit kemerahan, dan sebagainya.             Tak terasa tiga jam telah berlalu sejak aku mulai memotret. Hasil potretanku pun sudah cukup banyak samapi akhirnya kuputuskan untuk pulang. Matahari sudah mulai bosan menampakkan cahayanya. Perlahan-lahan ia pun pergi, menghilang dibalik bayangan atap-atap perumahan, dan seketika alam berubah menjadi gelap. Namun tak lagi gelap ketika perlahan-lahan sang bulan muncul dan menyinari dunia yang seketika gelap. Indah sekali. Tanpa pikir panjang, kuraih kembali kameraku dan menengadahkannya keatas sampai cahaya bulan serta keindahan alam pada malam hari terpatri dalam layar kameraku. Dan… satu gambar lagi kudapatkan hari ini.              “Mer, look at my new pics in nature! Cool isn’t it?” Kutunjukkan gambar baruku kepada Mercy ketika kulihat ia sudah duduk di kursinya. “Yeee, bukannya nyapa gitu, malah langsung nunjukkin foto. Tapi, boleh juga dilirik,” serunya riang dengan senyuman khasnya yang paling kusuka.            Mercy mulai melihat dengan cermat hasil tangkapan gambarku kemarin sore. Mercy memang tidak bisa memotret, tapi ia tahu ilmu-ilmu dasar memotret. Makanya setiap aku mengambil gambar baru, aku selalu menunjukkan hasil tangkapan gambarku padanya.           “Bagus nih, Ra. Yang ini. sini deh,” katanya setelah beberapa menit melihat-lihat hasil tangkapan gambarku. “Anglenya keren banget.” Katanya lagi. Aku yang sedang menikmati sarapanku langsung menoleh melihat ke layar kamera SLR Sony Alfa 200 ku kesayanganku dan melihat gambar yang di maksud oleh Mercy. “Yang itu?” tanyaku dengan mata melotot saking kagetnya. Aku tersedak makananku saking kagetnya. Mercy yang refleks melihatku tersedak makanan langsung mengambilkan botol air minumku yang kuletakkan di sudut meja.            “Kenapa, sih lo? Sampai keselek gitu. Ada yang salah sama gambar ini? bagus, lho.” Mercy memandangku dengan tatapan aneh namun curiga. Astaga! Aku lupa menghapus foto itu. Omigod! Jangan samapi Mercy menyadari siapa yang ada di dalam foto tersebut. “Ng… nggak ko. Gue nggak apa-apa,” jawabku, tentu saja aku berbohong. Namun seperti bisa membaca pikiranku, Mercy sepertinya mulai menyadari siapa yang ada di dalam foto tersebut.            “Ra, entah kenapa, kayaknya gue kenal dia, deh. Tapi dimana ya? dia tuh familiar banget. Walaupun lo ambil anglenya dari samping, tetap aja gw yakin kalo gw ngerasa kenal sama dia.” Omigod! Bener kan apa yang kukatakan barusan. Mercy pasti menyadarinya. Ya Tuhan, jangan sampai dia tahu siapa orang itu.            “Aha! Ini Raka kan, Ra? Gue yakin banget ini pasti Raka. lo motret bareng dia kemarin sore? Gimana bisa? Ceritain dong? Tapi… bukannya lo bilang lo malu kalo ketemu dia? Tapi kok…” belum sempat Mercy melanjutkan cerocosannya yang membuat beberapa mata anak-anak di kelas teralih kepada kami, langsung saja kubekap mulutnya—tentu saja setelah aku menghabiskan makananku yang terakhir.            “Diem! Nggak usah nyebut merk bisa nggak, sih? Untung orangnya belum datang. Dan lebih untungnya lagi, nggak ada anak-anak yang merhatiin kita! Setelah gue lepas tangan gue, lo harus diem ya? nggak usah ngomong. Biar gue yang jelasin. Oke?” Mercy mengangguk. Mukanya mulai memerah karena nggak bisa bernapas. Matanya terbelalak. “Inget ya, setelah gue lepasin bekapan gue, lo diem, nggak usah ngomong soal ini. Oke?” dan anggukannya pun aku anggap sebagai tanda persetujuan.            “Ta… tapi, Ra… gi…” namun kali ini aku tak perlu bersusah payah untuk membekap mulutnya. Karena baru saja Pak Moko masuk ke dalam kelas, dan itu berarti pelajaran dimulai. Dan artinya lagi, kita nggak boleh berbicara, mengobrol, bercanda, atau bahkan mengeluarkan suara sedikitpun—tentunya pembicaraan yang tidak sesuai dengan pelajaran—saat pelajaran berlangsung.              “Ra, gimana ceritanya? Katanya mau ceritain ke gue? Ayo, dong. Gue nggak sabar, nih. Lo bikin gue penasaran banget, tau. Gimana bisa lo jalan bareng Rak… eh maksudnya dia? Tapi itu beneran Rak… eh maksudnya, itu beneran dia, kan?” Mercy memulai lagi cerocosannya yang tak henti-hentinya disodorkannya mulai dari istirahat jam pertama, istirahat jam kedua, dan saat ini, sepulang sekolah.             “Aduh, Mer. Nanti aja ya ceritanya? Gue juga bingung soalnya mau mulai darimana. Oke, sayang?” jawabku kepadanya yang sepertinya tidak puas dengan jawabanku. “Tapi jangan lama-lama ya mikirnya?” tanyanya. Aku pun mengangguk. “Beneran?” tanyanya lagi. Aku pun mengangguk lagi. “Jangan ngangguk melulu kenapa, sih. Jawab iya, dong!” bentaknya kepadaku, kesal karena aku terkesan tidak menaggapinya.            “Iyaaa!!!” teriakku di depan wajahnya. “Puas?” lanjutku lagi sambil berjalan secepat mungkin, menjauh darinya.              Hari ini motret kemana, ya? hmm… oh iya, Danau dekat rumah Oom Burhan. Kok bisa sampai lupa, ya? padahal kan tempat itu udah termasuk di dalam planning. Aduh! Dasar pikun! Baterai, tali kamera, tripod, laptop, USB, udah siap. Apa lagi ya yang belum? Ah gue rasa udah cukup lah. Tapi kayaknya masih ada yang kurang. Apa ya?            Handphone! tuh kan,penyakit luap datang lagi. Tapi dimana ya Handphoneku?  Halo… HP, dimanakah, kau sekarang? I’m looking for you. Nah, ini dia. Tapi sejak kapan aku nyimpen HP di laci? Ah udahlah, nggak penting juga. Yang penting sekarang semuanya udah siap. Dan… ada SMS? Dari siapa ya? Raka! wow… sejak kapan dia mulai mengirim SMS untukku? Tunggu! Sejak kapan juga dia tahu nomor aku? Ih wow! Tanpa banyak mikir, kubuka SMS itu.             Ra, kalo ada waktu, bisa ga kita            Ketemuan di Taman Cinta?            Ada yg mau gw omongin.            Jgn lupa, ya. hari ini…            Mon, 1 Jun 2009. 13.36             Hah? Raka ngajak gue ketemuan? Mau ngapain ya dia? Hmm… temuin apa nggak ya? temuin aja, deh. Tapi sekarang udah jam 14.05. kalo nggak salah tadi Raka ngirim SMS sekitar jam setengah dua, deh. Wah bener! Aku harus cepat! Ya Tuhan, mudah-mudahan Raka masih nungguin aku. “Ma, aku pergi ya. Assalamualaikum…” Aku pamit kepada Mama tanpa tahu dia ada atau tidak. Dan ketika ku membuka pintu rumah, kulihat Raka berdiri di ambangnya, masih memakai seragam sekolah, dan tersenyum kepadaku.            “Hai, Ra. Baru bangun tidur, ya? sampai nggak sadar gitu ada SMS dari gue. Apa SMSnya nggak sampai?” tanyanya santai dengan suaranya yang berat tapi tetap terasa lembut di dengar.            “Oh… iya…iya maaf ya. Tadi gue nyiapin perlengkapan buat motret hari ini. lagian gue juga lupa dimana tadi gue taruh HP gw. Maaf ya. Lama ya nunggunya? Segala datang ke rumah gw lagi. Maaf banget, ya.” Aduh! Kenapa dia mesti datang kesini, sih? Jadi nggak enak hati aku.            “Nggak apa-apa, lah. Lagian gue cuma mau kasih ini, kok ke lo. Mungkin gue aja yang lebai kali ya? hahaha” katanya sambil menyodorkan sebuah amplop cokelat besar kepadaku. “Jangan dibuka sekarang!” serunya ketika hendak membuka amplop berwarna cokelat itu. “Tolong buka amplop itu kalo lo lagi nggak sibuk. Gue nggak mau ganggu lo aja,” lanjutnya lagi.            “Oh. Oke,” jawabku singkat. Kira-kira apaan ini ya? ya Ampun, Raka… saat-saat seperti inilah yang kuharapkan selama ini. bisa berbicara berdua lagi seperti dulu bersama kamu. Sayang, kamu terlalu popular untuk mau berbicara denganku yang tergolong Cupu.            “Nah, sekarang gue pergi dulu, ya. dah…”            “Lho, nggak masuk dulu?”            “Nggak usah lah, kapan-kapan aja. Bye, Nura…”            “Bye, Raka…”            Wow! Raka… ya ampun, lama banget kita nggak ngobrol bareng, tapi sekalinya ngobrol—walaupun sedikit—kamu langsung kasi ini ke aku. Buka sekarang apa nanti ya? hmm… nanti aja, deh. Sekarang mumpung perlengkapan motret udah siap, aku motret dulu aja. Lagian tadi Raka bilang aku nggak harus buka amplop itu sekarang.            Namun, baru selangkah menuju pintu gerbang rumah, tiba-tiba handphoneku berdering. Ada panggilan dari Mercy. Ada apa ya? nggak biasanya dia nelepon. Palingan SMS. Ah mungkin dia cuma mau tanya soal foto-foto di Taman Cinta kemarin. Males ah angkatnya. Namun Mercy nggak jera untuk terus menelepon. Akhirnya karena nggak sabar aku angkat juga telepon dari dia.            “Ada apa sih, Mer? Gue mau pergi, nih! Nanti aja deh di sekolah kalo mau denger cerita tentang foto-foto itu!” Aku berkata dengan ketus kepada Mercy yang belum sempat berkata apa-apa.            “Ra, gue bukan mau denger cerita tentang foto itu, kok. Gue cuma… gimana yah? Lo ke rumah Raka sekarang, deh. sekarang juga. Nggak usah motret! Sekarang juga ke rumah Raka. Oke?” dan telepon pun terputus. Mercy? Kenapa ya dia? Dari nadanya kedengarannya dia sedih banget. Terus ngapain juga dia nyuruh aku ke rumah Raka? Ada apa sih, sebenarnya?              Sesampainya dirumah Raka, kulihat banyak orang berkerumun disana dengan memakai pakaian serba hitam. Aku pun melihat bendera kuning di kejauhan terpasang. Siapa yang meninggal? Salah satu anggota keluarga Raka? Tapi siapa? Setahuku Raka seorang anak tunggal yang tinggal memiliki Ayah 5 tahun yang lalu. Dan kupikir Ayah Raka itu adalah sosok Ayah yang gagah, yang masih kuat. Jadi nggak mungkin Ayah Raka meninggal. Lalu siapa?            Jangan-jangan… nggak mungkin! Saat itu pula aku melihat Mercy yang juga memakai pakaian serba hitam berlari menuju kearahku lalu seketika itu juga memelukku erat-erat sambil berlinang airmata.            “Ra… Raka… Raka… Raka meninggal, Ra. Raka udah pergi ninggalin kita semua. Sabar ya, Ra,” ucapnya tersedu-sedu dan terus mendekapku makin erat.            “Nggak mungkin! I…ini… barusan dia…” seketika itu semua organ tubuhku terasa lemas. Amplop cokelat yang masih kupegang erat ditanganku saat itu juga terlepas dari pegangannya. Mataku mulai terasa gelap, dan semuanya berubah menjadi hitam… sepertinya aku pingsan.            “Lho, Nura… Nura… bangun, Ra! Nura…”              “Ini…” kataku kepada Mercy dan Ayah Raka, Oom Kardi setelah aku sadar dari pingsanku. “Aku belum sempat membukanya. Bisa tolong dibukakan?” lanjutku lagi. “Oh, oke…” jawab Mercy.            Kulihat Mercy membuka amplop pemberian raka itu dengan sangat hati-hati. Kemudian ia mengeluarkan semua isi amplop tersebut. Ada album foto, dan sebuah surat…            Kusuruh Mercy membacakan surat itu. Dear Nura… Andai aku memiliki waktu 1 menit lebih lama untuk mengenalmu, izinkan aku untuk mengenalmu lebih jauh…Andai aku memiliki waktu 1 menit lebih lama untuk melihatmu, izinkan aku untuk terus memperhatikanmu…Andai aku memiliki waktu 1 menit lebih lama untuk bersamamu, adakah kau bersedia memeluku didekapmu?Andai aku memiliki waktu 1 menit lebih lama untuk menjagamu, izinkan aku untuk terus berada disampingmu…Andai aku memiliki waktu 1 menit lebih lama untuk hidup di dunia, izinkan aku mengucapkan kalimat terkhirku untukmu,Aku menyayangimu…Salam Sayang Raka             Mercy memberikan hadiah terakhir pemberian Raka kepadaku. Album Foto yang berisi kumpulan foto-foto kami sewaktu kecil, sampai foto-foto terakhirku yang bisa diambilnya. Jadi, Raka juga suka fotografi? Dan selama ini dia masih memperhatikanku sampai-samapi ia memiliki foto-fotoku dalam berbagai pose. Mengapa aku tak pernah menyadarinya?             Raka, izinkan aku menulis surat cinta untukmu, sebagai balasan atas surat cinta yang kau berikan untukku. Dear RakaAndai Tuhan memberimu waktu 1 menit lebih lama, akan kubiarkan kau mengenalku lebih jauh…Andai Tuhan memberimu waktu 1 menit lebih lama, akan kubiarkan kau untuk terus memperhatikanku…Andai Tuhan memberimu waktu 1 menit lebih lama, akan kubiarkan diriku memelukmu erat dalam dekapanku…Andai Tuhan memberimu waktu 1 menit lebih lama, akan kubiarkan dirimu terus berada disampingku dalam sedih dan dukaku…Andai Tuhan memberimu waktu 1 menit lebih lama untuk hidup di dunia, akan kukatakan,Aku juga menyayangimu…Salam Sayang     Nura             Hari ini di senja yang sunyi di Taman Cinta, kubiarkan surat itu pergi bersama pesawatnya. Kutujukan surat itu untukmu, Raka… agar kamu tahu bahwa aku juga mencintaimu. Goodbye, Raka…&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1968987199556825028-8617298296289196099?l=full-stories.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://full-stories.blogspot.com/feeds/8617298296289196099/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://full-stories.blogspot.com/2009/09/cerpen-sad-ending.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1968987199556825028/posts/default/8617298296289196099'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1968987199556825028/posts/default/8617298296289196099'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://full-stories.blogspot.com/2009/09/cerpen-sad-ending.html' title='Cerpen Sad Ending'/><author><name>Full Beautifully Stories</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10171057672386779649</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1968987199556825028.post-255558453804106053</id><published>2009-09-07T23:53:00.000-07:00</published><updated>2009-09-07T23:57:30.236-07:00</updated><title type='text'>Cerpen SAINS</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0); font-weight: bold; font-family: verdana;"&gt;Cyborg Secret&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;by: Yuki-chan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semarang City tahun 2020&lt;br /&gt;Seorang pria sedang berlari dari satu atap gedung keatap gedung lainnya . Dia terlihat tergesa-gesa . Dia menggenggam sebuah kotak coklat . Dari luar sepertinya itu kotak coklat biasa . Tapi di dalam kotak itu , isinya adalah ganja .&lt;br /&gt;“Max , Tunggu...!” Panggil seseorang dari belakang .&lt;br /&gt;Pria yang dipanggil Max tadi berhenti . Kemudian menoleh ke belakang . Seorang pria yang tadi memenggilnya berlari menuju ke arahnya . Nafasnya tersengal-sengal .&lt;br /&gt;“Gawat ! Agen Rahasia sudah tahu gerak-gerik kita . Mereka sekarang&lt;br /&gt;sedang mengejar kita . Mereka juga membawa polisi .”Kata Orang&lt;br /&gt;Itu .&lt;br /&gt;“Kalau begitu , ayo kita lari lagi . Jangan sampai mereka menangkap&lt;br /&gt;kita . Bungkusan ini harus sampai ke Dr . Black .”Kata Orang yang&lt;br /&gt;dipanggil Max .&lt;br /&gt;“What ?! Tidak , Max . Kita lebih baik sembunyi . Aku capek...Max...&lt;br /&gt;Tunggu...!”Teriak Orang itu .&lt;br /&gt;Max berlari duluan . Sedangkan orang tadi mengejarnya belakangan . Sementara itu , dua orang agen rahasia mengejar mereka . Orang tadi berusaha berlari lebih cepat . Namun sayang , dia sudah tidak kuat lagi . Tenaganya sudah habis . Dan akhirnya , dia terjatuh .&lt;br /&gt;“Max....! Tidak....!”Teriak Orang itu .&lt;br /&gt;“Tertangkap kau sekarang .”Kata salah seorang agen rahasia .&lt;br /&gt;“Kapten , biar saya saja yang mengurusnya .”Kata salah seorang polisi .&lt;br /&gt;“Aoyama ! Ada satu orang lagi yang lari . Ayo kita kejar .”Kata Agen&lt;br /&gt;satunya lagi .&lt;br /&gt;Orang yang dipanggil Aoyama hanya mengangguk . Kemudian dia berlari bersama partnernya . Mengejar orang yang bernama Max tadi . Sementara itu , Max sudah berada jauh dari kedua agen rahasia yang sedang mengejarnya . Dia menengok kebelakang . Dan dia tidak melihat seorang pun berada di belakangnya . Dia akhirnya berhenti .&lt;br /&gt;“Hmm...Sepertinya sudah aman .”Gumamnya .&lt;br /&gt;“Tunggu !” Teriak Aoyama .&lt;br /&gt;“What?! Sialan !”Teriak Max .&lt;br /&gt;Max melihat dua orang agen rahasia yang sedang mengejarnya . Mereka berdua semakin mendekat kearahnya . Tapi Max hanya diam saja . Dia mengamati kedua orang itu dengan seksama . Otak komputernya mulai bekerja menganalisa kedua orang itu .&lt;br /&gt;“Satu manusia dan satu bionik . Huh ! Kupikir mereka Cyborg .”&lt;br /&gt;Kata Max .&lt;br /&gt;Tiba-tiba Max menginjak sepatu kirinya . Setelah dia menginjaknya , muncul sayap dari besi di punggungnya . Ketika kedua agen itu mendekat , dia pun langsung terbang dengan sayap besinya .&lt;br /&gt;“Bye...”Kata ax sambil tersenyum sinis .&lt;br /&gt;“Tidak...!Sialan !” Umpat Aoyama .&lt;br /&gt;“Dia lolos lagi ?”Tanya partner Aoyama .&lt;br /&gt;“Yah , seperti yang kau lihat Rose .”Jawab Aoyama.&lt;br /&gt;“Sudahlah , mungkin ini bukan keberuntungan kita .”Kata orang yang&lt;br /&gt;dipanggil Rose . “Nah , ayo kita kembali ke markas .”&lt;br /&gt;*                                             *                                              *&lt;br /&gt;Max mendarat di depan rumah mewah . Dia menengok ke kanan dan ke kanan . Dia sekitar rumah itu tidak ada orang lain selain dia .&lt;br /&gt;“Aman .”Kata Max .&lt;br /&gt;Kemudian dia cepat-cepat masuk kedalam rumah itu . Ketika dia masuk , dia disambut oleh orang yang berbaju serba hitam . Orang itu tersenyum pada Max .&lt;br /&gt;“Dimana Aresh ? dan mana ganja pesananku ?”Tanya orang itu .&lt;br /&gt;“Aresh ditangkap polisi . Dan ini ganja pesananmu .Tugasku&lt;br /&gt;sudah selesai . Sekarang kembalikan adikku .”Kata Max&lt;br /&gt;“Tidak bisa .”Kata orang itu .&lt;br /&gt;“Apa ?! Kau mau mengulur waktu lagi . Sesuai perjanjian , kau bilang&lt;br /&gt;akan mengembalikan adikku tanggal 25 maret . Hari ini .”Kata Max .&lt;br /&gt;“Benarkah ? Tapi menurutku tanggal 25 Desember aku baru mau&lt;br /&gt;mengembalikan adikmu .”Kata orang itu .&lt;br /&gt;“Kau....!”Kata Max .&lt;br /&gt;“Hohoho...Baiklah . Aku akan mengembalikan adikmu sekarang .”Kata&lt;br /&gt;orang itu .&lt;br /&gt;Orang itu kemudian menekan tombol yang ada di meja kerjanya . setelah menekan tombol itu , dia mundur tiga langkah . Tiba-tiba lantai yang ada di depan mejanya terbuka . Dan keluarlah sebuah tabung besar . Didalam tabung itu , ada seorang pria yang dibekukan secara kyrogenik.&lt;br /&gt;“Al...”Kata Max .&lt;br /&gt;“Adikmu akan kukembalikan . Tapi sebelumnya , aku akan...&lt;br /&gt;Menyiksanya terlebih dahulu .”Kata orang itu .&lt;br /&gt;“Tidak ! Jangan , Dr. Black !”Teriak Max .&lt;br /&gt;Orang yang dipanggil Dr. Black itu tidak memperdulikan teriakan Max . Dia kemudian menekan tombol warna merah yang ada di dekat tabung besar itu . Pria yang ada di dalam tabung tadi membuka matanya perlahan-lahan .&lt;br /&gt;“Kakak....”Panggil pria itu .&lt;br /&gt;“Al !”Teriak Max .&lt;br /&gt;Tiba-tiba Dr. Black menekan tombol warna biru .Seketika itu juga , muncul kilatan di dalam tabung . Kilat itu menyambar adik Max alias Al . Al pun berteriak kesakitan .&lt;br /&gt;“Arrgh...!”Teriak Al .&lt;br /&gt;“Tidak...! Dr. Black hentikan !”Kata Max .&lt;br /&gt;“Kau tadi bilang kan . Kau mau adikmu kembali . sekarang akan&lt;br /&gt;kukembalikan dia . Jika dia sudah menjadi mayat . Haha...”Tawa&lt;br /&gt;Dr. Black .&lt;br /&gt;“Tidak ! Hentikan ! Baiklah...Aku mau bekerja untukmu lagi .”Kata&lt;br /&gt;Max .&lt;br /&gt;Dr.Black berhenti menekan tombol Biru . Dia pun tersenyum puas . Kemudian dia menekan tombol yang ada di meja kerjanya lagi . Tabung besar itu masuk kembali ke bawah . Dan lantai yang ada di dekat meja kerja Dr. Black kembali seperti semula .&lt;br /&gt;“Bagus...Kau memang Cyborg yang pintar .”Kata Dr. Black .&lt;br /&gt;*                                             *                                              *&lt;br /&gt;Di kantor polisi&lt;br /&gt;“Kapten Aoyama , akhir-akhir ini penyebaran ganja makin meningkat .&lt;br /&gt;Padahal kau dan orang-orangmu sudah menangkap beberapa orang&lt;br /&gt;Yang terkait dengan penyebaran ganja . Tapi...”Kata Pak Randi .&lt;br /&gt;“Tapi kita belum berhasil menangkap kurir utamanya .”Kata Kapten&lt;br /&gt;Aoyama .&lt;br /&gt;“Maksud anda ?”Tanya Pak Randi .&lt;br /&gt;“Begini pak , dari sekian kurir ganja yang kita tangkap ada satu yang&lt;br /&gt;belum kita tangkap . Dan menurut analisa saya , dialah kurir utamanya.&lt;br /&gt;Tapi masalahnya dia adalah Cyborg . Jadi kami agak sulit&lt;br /&gt;Menangkapnya .”Kata Kapten Aoyama .&lt;br /&gt;“Itu urusanmu , Kapten . Yang jelas kami , pihak kepolisian Indonesia&lt;br /&gt;sudah membiayai agenmu jutaan rupiah untuk memberantas&lt;br /&gt;ganja , narkoba , atau sejenisnya . Huff! Dasar agen murahan .”&lt;br /&gt;Kata Pak Randi .&lt;br /&gt;“Brak !”&lt;br /&gt;“Kami bukan agen murahan ! Orang-orang kami sudah terlatih&lt;br /&gt;dengan baik .”Kata Kapten Aoyama .&lt;br /&gt;“Buktikan kalau kalian bukan agen murahan . Dengan menangkap&lt;br /&gt;kurir utama itu . meskipun dia Cyborg . Bagaimanapun caranya .&lt;br /&gt;Kalau kalian tidak bisa menangkapnya , pihak kepolisian akan&lt;br /&gt;mengganti kalian dengan agen rahasia lainnya .”Kata Pak Randi .&lt;br /&gt;*                                             *                                              *&lt;br /&gt;Kapten Aoyama keluar dari kantor polisi dengan langkah gontai . Partnernya , Rose dan Reza segera menghampirinya .&lt;br /&gt;“Aoyama , apa yang terjadi?”Tanya Reza .&lt;br /&gt;“Nanti aku ceritakan di markas saja .”Jawab Aoyama.&lt;br /&gt;Aoyama , Reza , dan Rose segera masuk ke Flying car . Mereka kemudian pergi menuju ke markas . Kali ini Reza yang menyetir . Sedangkan Aoyama duduk disampingnya . Dan seperti biasa , Rose duduk di belakang . Suasana pun menjadi hening . Reza yang biasanya cerewet pun kali ini terdiam . Dia tidak bisa cerewet jika melihat Aoyama sahabatnya itu sedang bersedih .&lt;br /&gt;Reza menyalakan tape-nya untuk menghibur Aoyama . Tapi Aoyama tetap saja murung . Sesekali Rose menirukan lagu yang terdengar dari tape . Dia mencoba meramaikan suasana .&lt;br /&gt;“Rose , bisakah kau diam . Jangan menyanyi disini . Suaramu Jelek .”&lt;br /&gt;Ejek Reza .&lt;br /&gt;“Hei , aku dulu guru playgroup . Aku sudah biasa menyanyikan lagu&lt;br /&gt;untuk anak-anak . Dan nyatanya , mereka tidak protes waktu aku&lt;br /&gt;menyanyi . Tidak seperti kau .”Balas Rose .&lt;br /&gt;Reza hanya diam saja . Dia kehabisan kata-kata untuk membalas perkataan Rose .&lt;br /&gt;*                                             *                                              *&lt;br /&gt;Flying car yang ditumpangi Rose , Aoyama , dan Reza mendarat di depan rumah mewah milik mereka . Atau mereka sering menyebutnya markas rahasia . Rose , Aoyama , dan Reza pun turun dari Flying Car . Begitu mereka turun Joe , robot humanoid pelayan mereka menyambutnya .&lt;br /&gt;“Selamat datang...Eh...Apa aku salah menyambut kalian ?”Tanya Joe.&lt;br /&gt;“Tidak kok , Joe . Yeah , mungkin lebih baik kau siapkan sebotol Wine&lt;br /&gt;untuk kami .”Kata Reza .&lt;br /&gt;“Baik, tuan Reza .”Kata Joe .&lt;br /&gt;Joe masuk ke dalam rumah dengan cepat . Dia kemudian menyiapkan tiga buah gelas dan sebotol Wine . Dan embawa itu semua dengan nampan menuju ke ruang tamu . Sampai di ruang tamu , Joe meletakkan itu semua di atas&lt;br /&gt;“Terima kasih , Joe . Oh ya . Kau boleh ikut duduk disini .”Kata Reza .&lt;br /&gt;“Benarkah ? Sungguh menjadi kehormatan bagiku bisa menemani&lt;br /&gt;majikanku .”Kata Joe .&lt;br /&gt;" Aoyama apa yang terjadi?" Tanya Rose sambil menuangkan wine ke&lt;br /&gt;gelasnya dan gelas Aoyama.&lt;br /&gt;Aoyama menatap Rose dengan pandangan yang aneh . kemudian Aoyama pun bercerita tentang apa yang terjadi sewaktu di kantor polisi . Selesai bercerita , dia pun kembali lesu . Reza yang mendengar cerita Aoyama menjadi emosi .&lt;br /&gt;“Aku tidak terima kalau kita dibilang agen murahan !” Kata Reza . “Ayo&lt;br /&gt;kita buktikan pada para polisi itu kalau kita bukan agen rahasia&lt;br /&gt;murahan.”Lanjut Reza .&lt;br /&gt;“Tenanglah ,Reza .”Kata Rose .&lt;br /&gt;“Aku tidak bisa tenang , Rose . Ayo kita kumpulkan teman-teman kita .&lt;br /&gt;dan kita tangkap cyborg sialan itu .”Kata Reza .”Rose, panggil yang&lt;br /&gt;lainnya .”&lt;br /&gt;“Ta...Tapi...Teman-teman kita berada di luar negeri semua . Megumi&lt;br /&gt;kembali ke Jepang .Ronald masih di Inggris . Dan Albert sedang&lt;br /&gt;menyelesaikan kasus di philipina .”Kata Rose .&lt;br /&gt;Tiba-tiba Aoyama berdiri . Dia kemudian berjalan menuju ke kolam renang yang ada di belakang markas . Rose , Reza , dan Joe mengikutinya . Aoyama menatap kolam renang itu dengan tatapan yang kosong .&lt;br /&gt;“May be I must back to Japan . And become  a farmer . like my father .”&lt;br /&gt;Kata Aoyama .&lt;br /&gt;“Hey , guy . Don’t be like that . You’re not a losser .”Kata Reza .&lt;br /&gt;“Honey , if you back to Japan .It mean I must back to America and&lt;br /&gt;become playgroup teacher again . And...”Kata Rose .&lt;br /&gt;“Stop ! Hey , guys . We’re not losser , okay . Kita bisa pakai cara&lt;br /&gt;apapun untuk menangkapnya .”Kata Reza .&lt;br /&gt;Ketika Reza berkata seperti itu , Aoyama jadi teringat dengan kata-kata Pak Randi . “Bagaimanapun caranya . kalian harus menangkap Cyborg itu .” Kata-kata itulah yang terus terngiang di telinga Aoyama . Mendadak dia mendapatkan ide . Wajahnya pun kembali ceria .&lt;br /&gt;“Kau benar , Reza . We’re not losser . kita bisa pakai berbagai cara&lt;br /&gt;untuk menangkapnya.”Kata Aoyama . “Ayo kita minum wine .”&lt;br /&gt;Lanjutnya .&lt;br /&gt;Rose dan Rza pun terbengong-bengong melihat perubahan sikap Aoyama . Sementara itu , Aoyama kembali ke ruang tamu . Dia menuangkan wine ke dalam gelasnya . Diam-diam dia menaruh obat tidur ke dalam gelas wine milik Rose . Kemudian dia kembali ke kolam renang .&lt;br /&gt;“Rose , ini .”Kata Aoyama .&lt;br /&gt;“Hei , curang . Kau tidak mengembilkan wine untukku .”Protes Reza .&lt;br /&gt;“Ambil saja sendiri .”Kata Aoyama .&lt;br /&gt;“Dasar !”Kata Reza .&lt;br /&gt;Dengan memasang wajah sebel dia pergi ke ruang tamu . Untuk menganbil wine-nya .&lt;br /&gt;“Ini untukmu, Rose .”Kata Aoyama .&lt;br /&gt;“Ah , ya . Thank’s....”Kata Rose .&lt;br /&gt;Rose meminum wine pemberian Aoyama . setelah meminumnya , tiba-tiba dia merasakan sakit kepala yang hebat . Rose tidak kuat lagi menahannya . Kemudian dia terjatuh . Aoyama pun menahannya .&lt;br /&gt;“Aoyama...apa maksudnya....”Kata Rose .&lt;br /&gt;“Hei , Aoyama . Aku...Rose...Hey , kenapa dia ?”Tanya Reza .&lt;br /&gt;“Ayo kita ke Lab-mu .”Kata Aoyama .&lt;br /&gt;“He?Maksudmu? Aoyama , tunggu!” Kata Reza .&lt;br /&gt;*                                             *                                              *&lt;br /&gt;Aoyama membawa Rose yang tertidur menuju ke Lab milik Reza . Sedangkan Reza mengikutinya dari belakang . Kemudian Aoyama meletakkan Rose di meja percobaan .&lt;br /&gt;“Ubah dia menjadi bionik . Ganti kakinya denan kaki bionik . Supaya&lt;br /&gt;dia bisa berlari lebih cepat .”Kata Aoyama , tiba-tiba .&lt;br /&gt;“Kau...Kau mau mengorbankan kekasihmu sendiri menjadi bionik .&lt;br /&gt;Orang macam apa kau ini...”Kata Reza .&lt;br /&gt;Tiba-tiba Aoyama mengeluarkan senjata laser dari balik jaketnya . Reza pun tak berkutik ketika senjata laser itu ditodongkan ke kepalanya .&lt;br /&gt;“Lakukan saja...Atau kau mau merasakan senjata ini meledakkan&lt;br /&gt;kepalamu .”Kata Aoyama.&lt;br /&gt;“Ba...Baiklah .”Kata Reza .&lt;br /&gt;Reza kemudian memakia jas Lab-nya . Tidak lupa juga dia menyiapkan peralatannya . setelah itu , dia mulai membuat Rose menjadi bionik . Meskipun dalam hatinya dia tidak mau membuat Rose menjadi bionik .&lt;br /&gt;*                                             *                                              *&lt;br /&gt;“Uh....Dimana ini....Ini kan Lab-nya Rza . Kenapa aku bisa ada disini ?”&lt;br /&gt;Tanya Rose . “Reza...Aoyama...” Lajutnya .&lt;br /&gt;“Rose...maafkan aku....”Kata Reza .&lt;br /&gt;“Biar aku yang menjelaskannya . Rose , kami sengaja mengubah kakimu&lt;br /&gt;menjadi bionik . Supaya kau bisa berlari lebih cepat sehingga kita bisa&lt;br /&gt;menangkap Cyborg itu dan....”Kata Aoyama .&lt;br /&gt;“Plak !!” Tiba-tiba Rose menampar Aoyama . Reza yang melihat itu&lt;br /&gt;hanya bisa diam .&lt;br /&gt;“Jadi , kau memasukkan obat tidur ke alam wine-ku . Dan akhirnya aku&lt;br /&gt;tertidur . Lalu kau menyuruh Reza untuk membuatku menjadi bionik .&lt;br /&gt;Dengan alasan agar kita bia menangkap Cyborg itu . Aoyama...I hate&lt;br /&gt;You !!” Bentak Rose .&lt;br /&gt;Kemudian Rose berjalan menuju ke mesin teleport . Dia menyalakan mesin itu . Aoyama erusah mencegahnya . Tapi sayang , Rose keburu pergi dengan mesin teleport itu .&lt;br /&gt;“Apa yang sudah kulakukan....”Kata Aoyama Lirih .&lt;br /&gt;*                                             *                                              *&lt;br /&gt;Rose tiba-tiba muncul dari mesin teleport yang ada di rumahnya . Erlina , robot humanoid pelayannya terkejut ketika melihatnya . Dia tampak senang melihat majikannya pulang . Tapi raut wajah Erlina berubah ketika melihat majikannya menangis . Tiba-tiba Rose memeluk Erlina .&lt;br /&gt;“Ada apa nona ?” Tanya Erlina .&lt;br /&gt;“Aoyama...Dia...”Jawab Rose, sesenggukan .&lt;br /&gt;Akhirnya Rose bercerita tentang apa yang terjadi pada dirinya . Setelah bercerita , dia pun terus menangis .Erlina berusaha menenangkan majikannya .&lt;br /&gt;“Sudahlah, nona . Mungkin lebih baik aku buatkan teh untuk nona&lt;br /&gt;Rose.”Kata Erlina .&lt;br /&gt;*                                             *                                              *&lt;br /&gt;3 hari setelah peristiwa itu&lt;br /&gt;Rose dan Erlina sibuk menanam bunga di halaman belakang . Dia sudah tidak bekerja menjadi agen rahasia lagi . Dan dia juga berusaha melupakan Aoyama . Tidak hanya itu . Rose juga berusaha menjadi manusia biasa meskipun sebenarnya dia adalah bionik .&lt;br /&gt;“Ah...Erlina . Aku capek . Hari ini cukup segini dulu . Besok dilanjutkan&lt;br /&gt;lagi . Aku mau tidur sebentar .”Kata Rose .&lt;br /&gt;“Baik , nona .” Kata Erlina .&lt;br /&gt;Rose kemudian berjalan menuju ke kamarnya . Begitu sampai di kamarnya , dia langsung merebahkan tubuhnya di tempat tidur . Lalu dia tertidur karena kecapekan .&lt;br /&gt;*                                             *                                              *&lt;br /&gt;“Dimana Aku ?”Tanya Rose .&lt;br /&gt;“Rose...Kemarilah...”Panggil seseorang .&lt;br /&gt;“Kau...Kau kan Cyborg itu . Tidak ! Ini pasti jebakan .”Kata Rose&lt;br /&gt;“Kemarilah Rose...”&lt;br /&gt;Cyborg itu semakin mendekat kearah Rose . Rose mundur , mencoba menjauhinya . Wajahnya terlihat ketakutan . Dia sebenarnya ingin berlari . Tapi tak bisa .&lt;br /&gt;“Rose...Tolong aku...Aku butuh bantuanmu ....”&lt;br /&gt;*                                             *                                              *&lt;br /&gt;“TIDAK....!!Pergi ! jangan...ganggu...a...”Kata Rose .&lt;br /&gt;“Ada apa nona ?” Tanya Erlina .&lt;br /&gt;“Mimpi itu ...Cyborg itu lagi...Erlina...Dia menghantuiku .”Kata Rose .&lt;br /&gt;“Tenanglah,nona . Itu Cuma mimpi buruk .”Kata Erlina&lt;br /&gt;“Aku tidak bisa tenang .Sepertinya ini bukan mimpi biasa.Erlina....bisa&lt;br /&gt;tolong ambilkan HP-ku .”Pinta Rose.&lt;br /&gt;“Ah , ya . baik nona .”Kata Erlina . kemudian dengan cepat dia&lt;br /&gt;mengambil HP milik Rose .&lt;br /&gt;“ini nona .”Kata Erlina .&lt;br /&gt;“Thank’s.”Kata Rose .&lt;br /&gt;Rose buru-buru menekan  nomor HP Reza . Kemudian menelponnya .&lt;br /&gt;“Halo , Reza .” Kata Rose .&lt;br /&gt;“Eh , ya . Ini siapa ?”&lt;br /&gt;“Ini aku . Rose .”Kata Rose .&lt;br /&gt;“Rose ? benarkah itu kau ? Ahoy ! kupikir kau sudah...”Kata Reza .&lt;br /&gt;“Mati ? Huh! Dasar! Dengar , Reza . Sampaikan ini pada Aoyama .&lt;br /&gt;Aku mau bergabung dengan kalian lagi .”Kata Rose .&lt;br /&gt;“Wow! Aoyama pasti kaget mendengar ini . Ya kan Rose...Halo...”&lt;br /&gt;Kata Reza .&lt;br /&gt;Rose tidak berkata apapun . Dia langsung mematikan HP-nya . Kemudian dia menuju ke kamar mandi . Setelah itu , Rose bersiap-siap menuju ke markas .&lt;br /&gt;*                                             *                                              *&lt;br /&gt;Di markas rahasia .&lt;br /&gt;“Mana Aoyama ?”Tanya Rose .&lt;br /&gt;“Dia...Ada didekat kolam renang .” Jawab Reza .&lt;br /&gt;Rose berjalan dengan cepat menuju ke kolam renang . Dan melihat ada Aoyama disitu . Lalu Rose menghampiri Aoyama .&lt;br /&gt;“Aoyama...”Panggil Rose .&lt;br /&gt;“Eh , Rose...Ng...Maafkan aku soal...”Kata Aoyama .&lt;br /&gt;“Tidak perlu membahas soal itu agi . Aku punya rencana bagus untuk&lt;br /&gt;menangkap Cyborg itu .”Kata Rose .&lt;br /&gt;“Kau...Serius Rose ?”Tanya Aoyama .&lt;br /&gt;“Aku serius ! Ayo cepat . Ajak Reza juga . Aku tahu dimana dia&lt;br /&gt;berada .” Kata Rose .&lt;br /&gt;“Ba...Bagaimana...”Kata Aoyama .&lt;br /&gt;“Aku menambahkan fungsi radar dalam tubuhnya ketika kau&lt;br /&gt;menyuruhku untuk membuatnya mejadi bionik . Jadi dia bisa tahu&lt;br /&gt;keberadaan seseorang hanya dengan mengingat wajahnya .”Kata Reza .&lt;br /&gt;*                                             *                                              *&lt;br /&gt;Rose , Aoyama dan Reza segera masuk kedalam flying car mereka . Kali ini Aoyama yang menyetir . Dan tidak seperti biasanya , Rose berada di samping Aoyama . Sedangkan Reza duduk di belakang .&lt;br /&gt;“Di mana dia Rose ?” Tanya Aoyama .&lt;br /&gt;“Di jalan Ve la Rie gang pertama .”Jawab Rose .&lt;br /&gt;Aoyama menyalakan mesing Flying carnya . Kemudian dia langsung tancap gas .&lt;br /&gt;*                                             *                                              *&lt;br /&gt;Sementara itu , di jalan Ve La Rie gang pertama . Max seperti biasa mengantarkan paket ganja untuk Dr. Black . Dia berjalan seperti manusia biasa . Tapi gerakannya agak kaku . Tiba-tiba .....&lt;br /&gt;“Hei , Kau !”&lt;br /&gt;Max menoleh ke belakang . Dan dia melihat ada seseorang mengejarnya. Max  mengamatinya dengan seksama .&lt;br /&gt;“Hmm...Dia agen rahasia yang dulu mengejarku  . Tapi aneh . Dulu dia&lt;br /&gt;kan manusia biasa . Kenapa sekarang dia menjadi bionik .”Gumam&lt;br /&gt;Max .&lt;br /&gt;Orang itu semakin mendekat ke arah Max . Melihat itu , Max langsung berlari . Max berpikir kalau agen rahasia itu tidak akan bisa mengejarnya . Tapi ternyata dugaannya salah . Agen rahasia itu bisa mengejarnya meskipun Max sudah berlari dengan kecepatan tinggi .&lt;br /&gt;“Sialan !”Umpat Max .&lt;br /&gt;“Tunggu ! Berhenti ! Aku ingin bicara denganmu .”Kata Agen rahasia&lt;br /&gt;itu .&lt;br /&gt;Tapi Max tidak percaya . Dia mengira kalau itu adalah jebakan . Dan dia terus berlari . Di tengah pelarian itu dia teringat dengan adiknya .&lt;br /&gt;“Sepertinya percuma aku berlari terus seperti ini . Walaupun aku lolos ,&lt;br /&gt;aku akan tetap bekerja pada Dr. Black . Dan tidak tahukapan kepastian&lt;br /&gt;Al akan dilepaskannya . Tapi bila aku bekerjasama dengan agen&lt;br /&gt;Rahasia itu mungkin Al bisa dibebaskan secepatnya . Ya , berarti aku&lt;br /&gt;Harus bekerjasama dengannya .” Gumam Max .&lt;br /&gt;Tiba-tiba Max berhenti begitu saja . Agen rahsia yang tadi mengejarnya , kemudian mendekatinya . Mereka berdua berhenti tepat di tempat rongsokan besi-besi bekas . Max pun membalikkan badannya . Kini dia berhadapan dengan sang agen rahasia .&lt;br /&gt;“Aku...”Kata Agen rahasia itu .&lt;br /&gt;“Aku ingin bicara denganu . Bisakah kau menolongku ?”Tanya Max .&lt;br /&gt;“I...Iya . Tentu bisa . Tapi semampuku ...”Kata Agen rahasia itu .&lt;br /&gt;Agen rahasia itu memperkenalkan dirinya pada Max . Max sepertinya tidak begitu peduli soal itu .&lt;br /&gt;“Namaku Rose . Dan kau...?”Tanya Agen rahasia itu .&lt;br /&gt;“Max .”Jawab Max singkat tanpa senyum sedikitpun .&lt;br /&gt;“Oh ya . Lalu kenapa kau minta tolong padaku ?”Tanya Rose .&lt;br /&gt;Max hanya diam saja .Kemudian dia berjalan ke suatu tempat .&lt;br /&gt;“Kemarilah...Aku ingin menunjukkan sesuatu padamu .”Kata Max .&lt;br /&gt;*                                             *                                              *&lt;br /&gt;Reza dan Aoyama geliah menunggu Rose yang pergi entah kemana . Bersama Cybog yang bernama Max .&lt;br /&gt;“Rose ngapain sih . Pakai kenalan segala . Memangnya dia pikir ini&lt;br /&gt;acara Mak Comblang apa . Ah...Dasar ! Apalagi yang dia ajak kenalan&lt;br /&gt;Cyborg lagi . Hu-uh!” Kata Reza .&lt;br /&gt;“Reza ! Biakah kau mengunci mulutu itu . Tenanglah...Kita tunggu&lt;br /&gt;reaksinya . Kalau Rose tidak kembali , baru kita menyusulnya .”Kata&lt;br /&gt;Aoyama .&lt;br /&gt;*                                             *                                              *&lt;br /&gt;Rose mengikuti kemana perginya Max . Mereka berdua erus berlari . Dan akhirnya mereka sampai disebuah bangunan . Bangunan yang bisa disebut gubuk itu , terletak di tengah-tengah kumpulan besi yang tidak terpakai . Max mendekati alat pengaman yang terletak di sebelah kiri pintu .&lt;br /&gt;“Pemeriksaan retina selesai . Identias diketahui . Max dengan kode&lt;br /&gt;Cyborg . Diterima . Silahkan masuk .”Terdengar suara dari alat&lt;br /&gt;pengaman itu .&lt;br /&gt;Tiba-tiba pinu gubuk itu terbuka . Di dalamnya hanya ada satu ruangan yang sempit . Di rungan itu , Rose melihat seorang pia yang dibekukan secara kyrogenik di dalam sebuah tabung besar .&lt;br /&gt;“Max...Si...Siapa dia ?”Tanya Rose .&lt;br /&gt;“Dia adikku , Al . Dr. Black yang membekukannya . Dia berjanji padaku&lt;br /&gt;untuk membebaskan Al , asalkan aku mau bekerja padanya . menjadi&lt;br /&gt;kurir ganja .Aku pun menurutinya . Dan berharap Al bisa dibebaskan&lt;br /&gt;secepatnya .Tapi...”kata Max .&lt;br /&gt;“Buk !!”&lt;br /&gt;Max memukul tabung besar itu . Rose pun jadi bingung melihatnya .&lt;br /&gt;“Dia mengingkari janjinya .”Kata Max .&lt;br /&gt;“Kalau begitu , lebih baik kau berhenti saja menjadi kurirnya .”Kata&lt;br /&gt;Rose .&lt;br /&gt;“Tidak bisa ! Dia akan membunuh Al jika aku berhenti bekerja     Padanya .”Kata Max .&lt;br /&gt;Max kemudian menatap Rose . Dari tatapannya terlihat bahwa dia sangat berharap pada Rose .&lt;br /&gt;“Rose , tolonglah aku...Terserah kau mau menangkapku lalu mematikan&lt;br /&gt;siatemku . kemudian membuangku ke tempat ini . Terserah ! yang&lt;br /&gt;penting Al bisa bebas .”Kata Max .&lt;br /&gt;Rose agak bingung menjawabnya . Dia berpikir apa yang harus dilakukannya .&lt;br /&gt;“Hmm...Begini saja . Kita susun strategi dulu untuk menangkap&lt;br /&gt;Dr.Black . Baru setelah itu , kita akan berusaha membebaskan  Al.”&lt;br /&gt;Kata Rose .&lt;br /&gt;*                                             *                                              *&lt;br /&gt;Reza terlihat gelisah terus-menerus . Katika dia melihat Rose membawa Cyborg incaran mereka . Aoyama melihat Rose dengan tegang . Rose membuka pintu belakang . Lalu dia menyuruh Reza untuk duduk di dekat Aoyama . Reza pun menurutinya . Setelah Reza pindah , barulah dia dan Max masuk ke dalam Flying car .&lt;br /&gt;Ketika Rose dan Max masuk , Reza dan Aoyama hanya diam seperti patung .&lt;br /&gt;“Hei ! Kenapa kalian malah jadi seperti patung ?”Tanya Rose .&lt;br /&gt;“Wow! Rose...Kau hebat . Kau bisa menangkapnya sekaligus&lt;br /&gt;menjadikannya selingkuhanmu.”Kata Reza .&lt;br /&gt;“REZA!!! Kau mau mulutmu dijahit . Berhentilah jadi tukang gosip .”&lt;br /&gt;Kata Aoyama .&lt;br /&gt;“Hey , tenanglah . Dengar . Aku punya satu rencana lagi .”Kata Rose .&lt;br /&gt;“Coba aku tebak . Kau pasti mau berkencan dengan Cyborg ini .”Kata&lt;br /&gt;Reza .&lt;br /&gt;“Reza!!”Teriak Aoyama dan Rose .&lt;br /&gt;“Baiklah...Jadi , apa rencanamu?”Tanya Reza .&lt;br /&gt;*                                             *                                              *&lt;br /&gt;“Hahaha....Uang...!Uang...!Uang hasil penjualan ganja kali ini lebih&lt;br /&gt;banyak . Ternyata tidak sis-sia juga aku merubah Max menjadi Cyborg .&lt;br /&gt;Sehingga aku masih bisa menjual ganja . Meskipun kurir-ku lainnya&lt;br /&gt;Sudah ditangkap .”Kata Dr.Black .&lt;br /&gt;Tiba-tiba pintu rumah Dr.Black terbuka . Lalu muncullah Max . Dr.Black tersenyum ketika melihat Max datang .&lt;br /&gt;“Ah , kebetulan Max . Kutunggu dari tadi . Seperti biasa . Antarkan&lt;br /&gt;bungkusan ini .”Kata Dr.Black .&lt;br /&gt;“Maaf , Dr.Black . Sekarang aku sudah tidak bekerja lagi untukmu .”&lt;br /&gt;Max .&lt;br /&gt;“Kau mau main-main denganku lagi .”Kata Dr.Black .&lt;br /&gt;“Yah , begitulah . Tapi aku tidak akan bermain sendirian lagi .”Kata&lt;br /&gt;Max .&lt;br /&gt;“Apa Maksudmu !”Bentak Dr.Black .&lt;br /&gt;Dari belakang Max muncul Rose , Reza , dan Aoyama . Dr.Black pun terkejut melihatnya . Dia berjalan mundur . Tiba-tiba dari arah belakang , muncul sepuluh orang polisi . . Dan para polisi itu langsung menangkap Dr.Black . Dr.Black memberontak . Berusaha melarikan diri . Tapi usahanya sia-sia .&lt;br /&gt;“Max ! Kau pengkhianat !”Bentak Dr.Black .&lt;br /&gt;“Aku bukan pengkhianat . Tapi kau yang pengkhianat .”Kata Max&lt;br /&gt;sambil tersenyum sinis .&lt;br /&gt;*                                             *                                              *&lt;br /&gt;Setelah peristiwa itu , Dr.Black dijatuhi hukuman mati . Sedangkan Max hanya dipenjara selama satu tahun . Kepala Kapolsek Semarang City alias Pak Randi pun senang dengan hasil kerja agen rahasia milik Aoyama .&lt;br /&gt;Sementara itu , Aoyama dan temannya mengadakan pesta kecil-kecilan . Untuk merayakan keberhasilan mereka . Di pesta itu , Erlina pun juga ikut.&lt;br /&gt;“Haha...Ayo tambah lagi wine-nya , Joe .”Kata Reza .&lt;br /&gt;“Ta...Tapi...Tuan sudah mabuk .”Kata Joe .&lt;br /&gt;“Tidak apa-apa . Ayo tambah lagi...!”Teriak Reza .&lt;br /&gt;Aoyama yang melihat itu tertawa sekeras mungkin . Sampai-sampai gelas berisi wine di tangannya hampir jatuh . Tapi Rose sepertinya tidak tertarik dengan hal itu . Kemudian dia pergi ke balkon . Diam-diam Aoyama mengikutinya .&lt;br /&gt;“Rose...”Panggil Aoyama .&lt;br /&gt;“Ya .”Jawab Rose .&lt;br /&gt;“Maafkan aku soal...Waktu itu . Aku sebenarnya tidak mau membuatmu&lt;br /&gt;bionik ...Aku...”Kata Aoyama .&lt;br /&gt;“Lupakan soal itu .”Kata Rose .&lt;br /&gt;Sesaat Rose dan Aoyama terdiam . Mereka saling menatap . kemudian Rose menatap langit yang sedang cerah saat itu .&lt;br /&gt;“Aoyama , aku...Masih heran . Kenapa Max ingin sekali membebaskan adiknya . Padahal kau tahu kan . Cyborg itu kan tidak punya perasaan.”&lt;br /&gt;Kata Rose .&lt;br /&gt;“Hmm...Aku sendiri pun juga tidak tahu . Hal ini masih menjadi misteri&lt;br /&gt;bagi semua orang . Bahkan Ilmuwan sekalipun .”Kata Aoyama .&lt;br /&gt;“Mungkin sewaktu dia masih hidup , perasaan cintanya pada adiknya&lt;br /&gt;sangat besar . Sehingga perasaan itu masih melekat meskipun dia sudah&lt;br /&gt;menjadi Cyborg .”Kata Rose .&lt;br /&gt;“Hmm...Rose . Soal cinta...Aku jadi teringat dengan...Mu . Rose...&lt;br /&gt;Aishiteiru . Meskipun kau adalah bionik bahkan Cyborg sekalipun .&lt;br /&gt;Aku tetap mencintaimu .”Kata Aoyama .&lt;br /&gt;“I love u too...”Kata Rose .&lt;br /&gt;Rose dan Aoyama pun akhirnya saling berpelukan . Di balkon markas mereka . Dan tepat di bawah cerahnya langit sore saat itu .&lt;br /&gt;*                                             *                                              *&lt;br /&gt;Hari ini , Rose dan Aoyama pergi ke penjara C-12 . Penjara khusus Cyborg . Mereka berniat menjenguk Max .&lt;br /&gt;“Halo , Rhea . Bisakah kami bertemu dengan Max ?”Tanya Aoyama .&lt;br /&gt;“Tentu kapten Aoyama . Silahkan masuk . Kebetulan , Max baru saja&lt;br /&gt;selesai mengisi baterainya .”Jawab Rhea .&lt;br /&gt;“Rhea , jangan kaku seperti itu . Cobalah untuk tersenyum . Sebentar&lt;br /&gt;saja...”Kata Aoyama .&lt;br /&gt;“Aku sebenarnya ingin tersenyum . Tapi kode etik penjaga penjara&lt;br /&gt;adalah dilarang tersenyum . Jadi aku tidak bisa .”Kata Rhea .&lt;br /&gt;Max tiba-tiba muncul dari belakang Rhea . Rhea pun kaget . Max kemudian menyapa dua agen rahasia itu . Dan mengajak mereka duduk di tempat yang telah disediakan . Max berterima kasih pada Rose dan Aoyama .Karena berkat mereka berdualah , Al bisa bebas . Kini Al berada di tempat rehabilisasi khusus orang-orang yang dulunya pernah di bekukan secara kyrogenik . Al berada di tempat itu untuk memulihkan kondisinya kembali . Karena dia sudah dibekukan selama tiga tahun oleh Dr.Black .&lt;br /&gt;“Rhea tiba-tiba memperingatkan Aoyama dan Rose . Bahwa waktu berkunjung sudah habis . Aoyama dan Rose bangkit dari tempat duduk mereka . kemudian mereka pulang .&lt;br /&gt;“Oh ya . Aku lupa . Bye Max ...”Kata Rose .&lt;br /&gt;“Bye...”Kata Max sambil tersenyum . Tapi kali ini bukan senyuman sinis yang dia tunjukkan .Melainkan senyuman kebahagian .&lt;br /&gt;THE END&lt;br /&gt;NOTE&lt;br /&gt;Cyborg : Tubuh manusia / organisme yang fungsinya diambil alih oleh bermacam-&lt;br /&gt;Macam alat elektronik . Orang yang dijadikan Cyborg adalah orang yang&lt;br /&gt;Yang sudah mati .&lt;br /&gt;Bionik : Penggantian bagian tubuh tertentu dengan alat buatan sehingga kekuatan dan&lt;br /&gt;Kemampuan bertambah .&lt;br /&gt;Kyrogenik : Sistem Pembekuan tubuh dengan suhu -150 derajat celesius . Sistem ini&lt;br /&gt;Memperlambat siklus tubuh .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(255, 102, 0); font-family: verdana;"&gt;SANTET&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;By : Mustaqiem&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  Mendung pekat menerabas persis di tengah rembulan yang menggantung meredup. Cahaya kilat membelahnya seperti bulan itu telah terpotong. Udara memang nyingsit. Di atas ranjang dipan yang terbuat dari besi Parni tampak tak berdaya. Tubuhnya lemas dan mukanya begitu pucat. Sejak maghrib dia sudah tertidur pulas di atasnya. Tapi dari mulutnya terus bergetar nyaris seperti menahan sakit dari ulu hati. Kaki dan badannya dingin sekali. Dan dari keningnya terus saja mengalir butiran keringat dengan begitu derasnya, menandakan bahwa dalam tubuhnya telah  terbakar oleh hawa panas yang cukup misteri. Dan terus saja keluar dari mulutnya rafalan-rafalan yang tak jelas, seperti bukan suaranya sendiri.&lt;br /&gt;            “ Jangan pernah coba kamu mengusir saya dari sini” suara laki-laki tua dengan wibawa  keluar dari mulut Parni.&lt;br /&gt;            “Kenapa kamu selalu mengganggu Parni”  kata Langgar.&lt;br /&gt;            “Kamu tidak pernah tahu tentang Parni. Biarlah saya menjaganya”&lt;br /&gt;            “Bagaimana kamu bisa mengatakan itu menjaga, sementara tubuh Parni selalu kamu jadikan korban setiap kamu ada kehendak. Itu sekarang Parni terlihat sakit di ulu hatinya” bela Langgar.&lt;br /&gt;            “Sudahlah… saya tidak mau berdebat, yang jelas kamu tak akan pernah mengeluarkan saya dari tubuh Parni” tegas suara laki-laki itu makin membesar keluar dari mulut Parni.&lt;br /&gt;            Langgar terus saja komat-kamit membaca doa-doa di hadapan Parni. Tubuhnya terasa panas hingga seluruh tubuhnya meretas butiran keringat. Tangannya disilangkan persis di depan dada. Kali ini ia mengeluarkan jurus Qulhu Geni; sebuah ilmu kanuragan yang bertujuan untuk mengusir setan. Langgar memang sangat yakin, bahwa dalam tubuh Parni sekarang tengah diganggu oleh orang jahat. Dan terus saja ia berusaha mengeluarkannya. Tapi selalu saja usahanya sia-sia. Suara laki-laki tua yang bersarang di tubuh Parni itu terlalu kuat untuk Langgar. Segera Langgar memanggil kedua orang tua Parni, sebagai syarat untuk menambah kekuatannya agar bisa mengusir laki-laki tua itu Keduanya disuruh berdiri menghadap tubuh Parni. Bapaknya di atas kepala Parni, sedangkan ibunya di atas kaki Parni. Lantas kedua orang tua Parni oleh Langgar disuruh melangkahi tubuh Parni tiga kali. Mendadak sebuah tenaga kuat yang datang dari tubuh Parni melemparkan orang-orang yang ada di sekitar Parni. Langgar, kedua orang tua Parni dan Saka yang sejak tadi melihat kejadian itu terpelanting dengan sendirinya. Sepertinya tubuhnya terdorong oleh tenaga laki-laki perkasa. Mereka tak sanggup menahannya. Tubuh Langgar sempat membentur almari kamar dan nyaris terjatuh.&lt;br /&gt;            Di dalam kamar tubuh Parni terasa sangat panas sekali, hingga ia terbangun dari tidurnya. Tapi betapa terkejutnya Parni, di sekitarnya sudah berdiri Langgar, kedua orang tuanya dan Saka. Rasa tak percaya, tapi Parni tidak terlalu memeperdulikannya. Rasa ingin ke kamar mandi untuk buang air memaksanya ia bergegas bangun dari ranjang. Tapi Langgar dan kedua orang tuanya terlanjur berpikiran salah terhadap Parni. Mereka mengira Parni hendak melarikan diri. Keadaan yang tak pernah diduga oleh Parni ini menjadi aneh.&lt;br /&gt;            “Saya mau kencing…jangan dihalang-halangi !!!” teriak Parni terasa aneh dengan sikap langgar dan kedua orang tuanya yang bersikap tak wajar atasnya.&lt;br /&gt;            “Kamu pasti mau melarikan diri…” kata Langgar.&lt;br /&gt;            “Minggiiir!!” menyusul sebuah tenaga reflek Parni mendorong Langgar hingga Langgar kembali terjatuh. Bergegas kedua orang tuanya dan Saka segera membantu langgar. Tapi entah kenapa, tiba-tiba juga tenaga Parni malam itu lebih kuat diabanding  ketiganya.&lt;br /&gt;            Langsung saja parni menerabas mereka.&lt;br /&gt;            “Saya mau kencing….dengar nggak…” tegas Parni dengan mata marah memerah.&lt;br /&gt;            Nampak Langgar, kedua orang tua Parni dan Saka membuntutinya dari belakang menuju kamar mandi.&lt;br /&gt;            “Saya ini anak kamu mak, bukan orang gila. Kenapa sih sikap kalian pada aneh begini…, orang mau kencing saja dilarang” kata Parni dari dalam kamar mandi, sadar kalau mereka selalu membuntutinya.&lt;br /&gt;            Selesai dari kamar mandi Parni menuju ruang tengah.&lt;br /&gt;            “Kalian ini pada kenapa …?” Tanya Parni heran.&lt;br /&gt;            “Kamu disantet orang Parni…, dalam tubuh kamu itu sudah ditanam penghuninya. Orangnya sangat kuat. Ia menaruh dendam yang amat sangat dengan kamu” kata bapaknya.&lt;br /&gt;            “Ah kalian ini, tidak baik berburuk sangka terhadap orang, dosa!” jawab Parni.&lt;br /&gt;            “Mbak tidak tahu apa yang terjadi pada tubuh mbak barusan…” jawab Langgar yang tidak lain adalah adik kandungnya Parni sendiri.&lt;br /&gt;            “Ya, saya tahu, tubuh saya sangat capek dan letih. Ulu hati saya tadi sangat perih, di tambah udara malam ini sangat panas, maka saya tidak bisa tidur”&lt;br /&gt;            “Itu perasaan mbak. Tapi baru saja saya mencoba mengeluarkan pengaruh orang jahat dari tubuh mbak, hingga tenaga mbak menjadi berlipat-lipat. Sadar kan mbak…., mbak itu perempuan, masak bisa mengalahkan tenaga kami berempat …”&lt;br /&gt;            “Ya jelaslah, orang kalian menghalangi jalan mbak sewaktu mau ke kamar mandi. Kalian sadar nggak, saya ini sudah tidak kuat menahan kencing, maling saja kalau sudah terdesak saat dikejar-kejar hendak ditangkap bisa melompat pagar setinggi tiga meter” Parni mencoba memasukkan unsure logika agar Langgar mengerti yang dimaksudkan.&lt;br /&gt;            “Bukan hanya itu, tapi saat kamu pingsan” kata ibu Parni menegaskan keterangan Langgar agar Parni bisa mengerti tentang kejadian yang mereka saksikan.&lt;br /&gt;            “Itu namanya delusia…” jawab Parni.&lt;br /&gt;            “Kamu ini kalau dibilangi ngeyel..” kata bapaknya.&lt;br /&gt;            “Maklumlah pak, saya ini posisi tubuh tengah capek, ditambah udara panas malam ini gerah sekali. Jadi wajar saja kalau tidur saya gelisah..” bela Parni.&lt;br /&gt;            “Itu tidak hanya gelisah…, tapi kamu itu disantet orang…” tampak bapak Parni geram. Terlalu sulit untuk mendialogkan kenyataan yang tengah mereka alami.&lt;br /&gt;            “Sekarang kata siapa saya ini disantet orang…. Pasti kata Mbah Jaro guru kebatinan Langgar kan”&lt;br /&gt;            “Kalau tidak percaya dengan apa yang terjadi pada tubuh mbak, besok kita menemui Mbah Jaro”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Terlalu sulit Parni menerima cara berpikir dengan orang-orang yang ada di sekitarnya. Bagi Parni, sesuatu yang ghaib dan tak tampak tak perlu harus digali secara dalam. Baginya, tentang urusan yang ghaib itu adalah hak mutlak dan urusan Tuhan semata. Toh kewajibannya hanyalah mengakui dan mengimaninya saja. Tak lebih dari. Maka ketika Langgar adiknya, bahkan kedua orang tuanya sendiri sangat dekat dengan urusan dan hal-hal yang menyangkut klenik, membuat Parni sangat hati-hati dengan setiap pemikirannya. Apalagi bagi Parni, terlalu tipis batas antara keimanan dan sirik. Dan ia tahu, kalau mereka adalah orang-orang yang tidak terlalu begitu perduli dengan agama. Bagi keluarga Parni, urusan dunia ini adalah harta dan kekayaan, yang segala kebaikan dan keburukan diukur hanya dengan takaran banyak sedikitnya harta yang dipunya. Maka ketika rezeki Parni tengah seret, langsung saja itu dihubungkan dengan keyakinan bahwa itu diguna-guna oleh orang, dimana pintu-pintu rezeki Parni ditutup. Sehingga segala usaha dan kerja yang Parni jalani selalu saja macet dan gagal.&lt;br /&gt;            Parni sendiri tidak demikian. Bagi Parni, rezeki itu tidak hanya dalam bentuk harta. Kesehatan, keselamatan dalam langkah, mengenal Tuhan, ditemukan dengan orang-orang yang baik, bisa menyantuni anak yatim, berpikir sehat, teramasuk harta itu sendiri selama jalan untuk mendapatakannya benar dan halal itu semua adalah rezeki. Pemahaman tentang rezeki bagi Parni adalah luas, tidak sempit.&lt;br /&gt;            Senja, Parni dan Langgar menemui mbah Jaro, guru kebatinan Langgar. Selain seorang ustad mbah Jaro adalah tempat orang-orang meminta jampi-jampi dan doa agar hidupnya pada dimudahkan rezekinya.&lt;br /&gt;            “Mbah apa benar saya ini diganggu oleh orang…” Tanya Parni.&lt;br /&gt;            “Orang yang mengganggumu itu sangat kuat. Namanya Singkih, pasti kamu sangat kenal, orang ini sebenarnaya sudah mati seratus tahun yang lalu. Dan yang ada sekarang itu adalah perwujudannya saja. Dia sangat dendam dengan kamu, karena kamu tidak mau menuruti kata hatinya” kata Mbah jaro.&lt;br /&gt;            Parni Nampak hati-hati untuk menerima kata-kata mbah Jaro. Memang benar, Singkih adalah nama yang sangat dikenal dekat dalam hidupnya. Namun sebaliknya, di mata Parni Singkih adalah orang tua yang baik dan selalu memberikan nasehat-nasehat dan keilmuan yang berharga dalam hidupnya hingga ia mengenal jalan-jalan terang yang selaras dengan tuntunan agama yang diyakini Parni. Dan  Parni masih mencoba diam mencerna. Kali ini ia sangat hati-hati menangkap setiap butiran-butiran kata mbah Jaro yang membakar keimanannya.&lt;br /&gt;            “Mbah, terus terang saja maksud saya ke sini tidak ingin meminta batu cincin atau sejenisnya, saya takut musrik. Tapi saya hanya ingin memastikan apakah benar mbah Jarolah orang yang mengatakan kalau saya ini sekarang tengah disantet orang”&lt;br /&gt;            “Ini kamu saya beri doa Qulhu Geni untuk mengusir setan” kata Mbah Jaro.&lt;br /&gt;            “Dalam pemahaman agama saya, doa Qulhu Geni itu tidak ada ajarannya mbah” jawab Parni.&lt;br /&gt;            “Ya, apa salahnya untuk menenangkan pikiranmu …”&lt;br /&gt;            Setelahnya Parni dan Langgar pamit pulang meninggalkan Mbah Jaro dengan menyelipkan selembar uang lima puluh ribuan ke sakunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Parni masih belum bisa menerima semuanya. Tubuhnya sehat. Sesekali memang kadang-kadang ia sakit. Itupun ia sangat sadar karena tubuhnya yang selalu diporsis untuk bekerja sehingga menyebabkan tiba-tiba ia demam tinggi. Dan itu sakit biasa. Tidak pernah ia merasa disantet oleh orang. Maka ketika pada suatu malam Langgar datang menemuinya membawa cambuk Kalimosodo untuk keselamatannya, batin Parni semakin berontak. Tapi naluri kemanusiaan Parni sangat tidak ingin adiknya yang berniat baik kepadanya menjadi tersinggung. Maka ia terima saja semuanya tentunya dengan setengah hati.&lt;br /&gt;            Hingga sebuah HP diangkatnya. Ditekan sebuah nomor khusus.&lt;br /&gt;            “Saya Parni” katanya.&lt;br /&gt;            “Ya, ada apa…?”&lt;br /&gt;            “Saya mau Tanya tentang santet yang ada pada diri saya”Tanya Parni&lt;br /&gt;            “Kamu dengan saya, dimana posisi jarak kita yang sangat jauh dan kita tidak berhadap-hadapan, apa bedanya dengan istilah santet yang kerapkali dipahamkan oleh orang-orang, dimana mengirim suatu benda apa saja ke dalam tubuh orang yang ingin dicelakai dari jarak jauh”.&lt;br /&gt;            “Maksudnya …”&lt;br /&gt;            “Di dalam HP kita pada jarak tertentu bisa mengirimkan sebuah materi gambar atau audio tanpa ada koneksitas lewat kabel atau sentuhan langsung yang kita sebut sebagai bluetoth apakah itu juga bukan santet? Sebuah materi kertas pada kertas fax, yang kemudian dilebur menjadi sebuah partikel yang sangat kecil dan lembut  berbentuk immateri lantas dihantarkan pada jaringan kabel hingga bisa dicetak kembali dalam wujud dan bentuk yang sama persis, sementara jaraknya yang sangat jauh, apakah itu bukan santet namanya” jawab suara di telpon itu membuat Parni mengernyitkan dahi.&lt;br /&gt;            “ Jadi, apa hubungannya dengan santet?” Tanya balik Parni.&lt;br /&gt;            “Tidak ada manusia di dunia ini yang bisa mengetahui persoalan-persoalan yang ghaib. Karena sesungguhnya di dunia ini yang nyata sendiri sesungguhnya itu adalah ghaib sendiri. Semua materi yang kamu pegang di dunia ini sebenarnya adalah immateri”&lt;br /&gt;            “Jadi ?”&lt;br /&gt;            “Ya, apakah di dunia ini semua ada yang abadi, kekal tak lekang waktu?”&lt;br /&gt;            “Jadi apa yang sebenarnya terjadi pada tubuh saya?” penasaran Parni masih menggeliat-geliat.&lt;br /&gt;            “Jiwa dan ruh itu sebenarnya bersatu. Keduanya lebur seimbang. Maka ketika kita membuat keduanya tidak seimbang, di sinilah akan muncul rapuhnya persenyawaan. Kamu seringkali memporsir jasad kamu untuk melakukan persoalan-persoalan yang teramat besar di luar kadar kesanggupan ruh kamu yang sebenarnya, hingga nyaris ruh itu terkadang tertinggal di bilik-bilik kosong dan kehilangan doa. Begitu kesenyapan menjelma ruh meronta, dan cahaya berikutnya sudah berwujud tikungan-tikungan. Di sinilah kenapa batinmu selalu gelisah dan tidak tenang. Hingga dirimu terpojok di delusia. Pernah ingat kisah Sumanto yang memakan mayat manusia kan. Itu juga delusia”&lt;br /&gt;            “Kalau begitu….”&lt;br /&gt;            “Tidak ! Kamu jelas tidak seperti Sumanto… tapi tak jauh beda…” kelakar suara dalam telpon itu.&lt;br /&gt;            “Haaaah…” Parni terkaget.&lt;br /&gt;            “Gurau saja….” Jawabnya menenangkan Parni.&lt;br /&gt;            “Bukan, kira-kira benar apa tidak saya ini terkena santet ?”&lt;br /&gt;            “Berpikirlah nol. Jadilah manusia lillah yang tidak memberi kesempatan hati ini curiga terhadap orang lain meskipun benar adanya, sebab kasih sayang Tuhan sudah lebih cukup untuk tidak menimbun sakwa-sakwa. Batas sesat dan kebenaran lebih tipis dari 0,0000000000001 trilyun, dan biasanya kita mudah terperangkap keyakinan kita saat kita tak berdaya. Jangan pernah berpikir negatif dan sakit terhadap siapapun” terangnya.&lt;br /&gt;            “Lantas apa yang harus saya lakukan, ketika orang-orang disekitar saya semua bersikeras tetap yakin kalau saya disantet orang”&lt;br /&gt;            “Sebagai manusia biarlah kita menjadi manusia yang terbatas untuk menembus Ghaib-Nya. Tuhan telah membuat batasnya begitu tipisnya sepersekian trilyun-trilyun. Sehingga iblis lantas menangkapnya  untuk selanjutnya menjadi ‘tuhan tandingan’ di dunia. Di sinilah iblis sakti berperan membabat aqidah. Hingga tak ada dosa yang terampuni oleh-Nya selain sirik. Belajarlah menjadi manusia yang ikhlas dan pandai bersyukur. Serahkan semua tubuh, hidup dan kehidupan ini hanya pada Tuhan”.&lt;br /&gt;            Sejak suara telepon itu, Parni mulai menjadi cahaya bahwa dirinya tak pernah disantet oleh siapapun. Sekalipun informasi itu mucul dari orang tuanya sendiri. Parni lebih memilih menyerahkan hidup dan matinya total  pada Tuhan.&lt;br /&gt;            “Tidak ada orang yang lebih kuat kecuali Tuhan” kembali Parni membeningkan batinnya. Menyusul kepalanya yang selalu runduk ke tanah setiap waktu persembahyangan***&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1968987199556825028-255558453804106053?l=full-stories.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://full-stories.blogspot.com/feeds/255558453804106053/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://full-stories.blogspot.com/2009/09/cerpen-sains.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1968987199556825028/posts/default/255558453804106053'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1968987199556825028/posts/default/255558453804106053'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://full-stories.blogspot.com/2009/09/cerpen-sains.html' title='Cerpen SAINS'/><author><name>Full Beautifully Stories</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10171057672386779649</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1968987199556825028.post-1307222558759664474</id><published>2009-09-07T23:48:00.000-07:00</published><updated>2009-09-07T23:52:41.952-07:00</updated><title type='text'>Cerpen Remaja</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(255, 255, 0);"&gt;Pacar Bohongan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;by: Mery&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi yang cerah. Menyenangkan berangkat ke sekolah dengan cuaca yang membangkitkan semangat seperti ini. Vrila sudah siap sejak sepuluh menit yang lalu. Dia tampak kesal. Tangannya disilangkan di depan dadanya, mondar-mandir dan sesekali melirik jam tangannya. Dia sedang menunggu temannya yang katanya akan tiba sepuluh menit yang lalu. Tapi sampai detik ini temannya itu belum tampak batang hidungnya. Vrila mulai tidak sabar menunggunya. Afi sudah janji akan menjemputnya, tapi sepertinya dia akan terlambat lagi. Padahal Vrila tadi sudah mengatakan pada anak itu dia lebih suka naik bus daripada harus menunggu yang nantinya malah akan membuatnya terlambat ke sekolah.Anak itu memang tidak bisa diandalkan, batin Vrila kesal. Setiap kali dia membuat janji pasti akan terlambat hingga membuat orang kesal. Tadi waktu di telpon dia mengatakan kalau ada hal penting yang harus dia bicarakan denganku. Apa tidak bisa menunggu sampai di sekolah. Katanya ini sangat penting dan tidak bisa dibicarakan di sekolah. Tapi kenapa sampai sekarang dia belum muncul juga. Lama-lama anak itu bisa membuatku meledak.Dan baru lima menit kemudian, tampak dari jauh sosok Afi dengan mengendarai sepeda motornya melaju dan pelan-pelan berhenti di depan Vrila.“Kau benar-benar mengesalkan!” Sambut Vrila begitu Afi datang tanpa menunggu dia turun dari motornya.“Aku minta maaf,” kata Afi, tampak bersalah menyodorkan helm ke arah Vrila. “Tadi ibuku minta antarkan dulu ke pasar.”“Alasan yang klasik,” kata Vrila sinis, naik ke boncengan motor Afi. “Memang kakakmu tidak ada.”“Dia sudah berangkat kuliah pagi-pagi sekali,” kata Afi sambil melajukan motornya lagi. “Katanya ada tugas yang harus dia selesaikan hari ini.”“Lalu apa yang ingin kau bicarakan, sampai kau membuatku menunggu lama seperti itu,” kata Vrila setengah berteriak sambil mencondongkan kepalanya ke depan. “Ini harus sangat penting agar lima belas menit waktu untuk menunggumu tidak sia-sia.”Kemudian Afi pun menceritakannya. Ternyata tentang cowoknya. Dia bertengkar lagi dengan cowoknya itu. Cowoknya adalah salah satu teman kuliah kakaknya. Perkenalan mereka dimulai ketika kakaknya membawanya ke rumah. Awalnya hubungan mereka baik-baik saja, seperti pasangan pada mulanya menjalin hubungan. Tapi ketika sudah beberapa bulan mereka jalani, katanya banyak ketidakcocokan pada diri masing-masing. Dan sekarang sudah ke tiga puluh kalinya Afi mengeluhkan pertengkarannya dengan cowoknya itu, tapi Vrila yakin keesokan harinya mereka pasti sudah akan berbaikan kembali. Inikah hal sangat penting yang tidak bisa dibicarakan di sekolah yang membuatku menunggu begitu lama, hanya untuk mendengar keluhan Afi yang tidak ada gunanya ini. Benar-benar membuatku ingin muntah. Dan dia terus bercerita hingga sampai di parkiran sekolah, dan baru berhenti ketika masuk ruang kelas.“Aku tidak tahu harus bagaimana lagi, Vrila,” kata Afi, duduk di bangkunya. “Apa aku putuskan saja dia?”Vrila menghela napas sebelum menjawab pertanyaan Afi. Tapi ketika itu, Risa dan Windy memasuki ruangan dan mereka langsung duduk di bangku mereka, di depan Vrila dan Afi.“Hey, coba lihat!” seru Risa, memutar tubuhnya menghadap ke posisi Vrila dan Afi. Kemudian dia menunjukkan sebuah arloji cantik yang melingkar di tangan Windy. “Pacarnya baru memberikannya kemarin. Katanya dia baru dapat gaji bonus dan dibelikannya kado untuknya. Cantik kan jam tangannya.”Windy memperlihatkannya pada Vrila dan Afi. Keduanya tampak terpukau melihatnya. Jam tangan Windy memang cantik. Tidak hanya bermerk berkualitas tinggi, tapi jam tangan itu juga dilapisi permata. Cowok Windy memang mempunyai selera tinggi. Dia sering membelikan Windy barang-barang yang bermerk. Tidak heran Windy selalu jatuh cinta padanya. Sepertinya semua gajinya dibuat untuk membelikannya barang-barang itu. Cowok Windy sudah bekerja dan mapan. Katanya, setelah lulus dari SMU dia tidak akan melanjutkan ke perguruan tinggi, karena cowoknya sudah siap melamarnya.“Jam ini—” kata-kata Risa terpotong dengan bunyi beep. Dia mengeluarkan ponsel mungilnya dari saku seragamnya. Kemudian dia memeriksa pesan yang masuk.“Pasti dari cowoknya,” terka Afi. “Heran aku melihat cowoknya Risa, pagi-pagi begini sudah ber-sms ria.”“Hu-uh,” timpal Windy. “Tadi saja sudah yang keseratus kali cowoknya mengirim pesan. Sekarang belum bosan juga. Benar-benar, deh.”Sepertinya Risa tidak menghiraukan komentar teman-temannya mengenai dirinya. Dia sibuk mengirim pesan balasan pada si pengirim. Memang benar kata kedua anak itu. Cowok Risa memang keranjingan. Dalam sehari saja dia bisa terima seribu pesan dari cowoknya itu. Sampai-sampai pernah ponselnya dirampas kepala sekolah gara-gara di kelas tidak memperhatikan pelajaran tapi sibuk mengirim pesan ke cowoknya. Tapi itu tidak membuatnya jadi jera. Sampai sekarang Risa masih melakukannya meski dengan cara sembunyi-sembunyi.“Pagi, semua,” sapa Biby, memasuki kelas ditemani Gading, yang baru dua minggu yang lalu jadi pacarnya. Kedua anak ini selalu lengket. Ke mana-mana selalu bersama. Membuat semua orang jadi risih melihatnya. “Wah, ada berita apa nih, pagi-pagi sudah kumpul.”“Biasa masalah cewek,” jawab Afi, singkat.Biby dan Gading kemudian duduk di bangku yang sama, bersebelahan dengan bangku Vrila dan Afi. “Kalau begitu, aku tidak boleh nimbrung, dong,” sahut Gading.“Lebih baik kalian di situ saja,” ujar Windy. “Kalau nanti kalian ikut bergabung, semua jadi kacau.”“Enak saja,” hanya itu ucapan yang dilontarkan Biby untuk memprotes, karena setelah itu dia sudah tidak peduli lagi dengan yang lainnya selain cowok di depannya itu.“Dasar Biby,” kata Afi, menggelengkan kepala. Kemudian dia beralih ke Windy, kembali membicarakan tentang jam tangan pemberian cowoknya itu. Dan pembicaraan mereka berkembang ke masalah mereka dengan cowoknya masing-masing. Vrila hanya bisa diam dan mendengarkan ketika mereka sudah mulai bicara tentang cowok. Hal itu sudah di luar batas kemampuannya, karena dia tidak tahu harus bagaimana. Dari keempat temannya, hanya Vrila yang tidak mempunyai cowok. Setiap kali teman-temannya sudah berbicara menyangkut hal itu, dia merasa tersisih dan tenggelam. Dia seperti orang bodoh ketika mendengarkan cerita mereka yang terdengar menyenangkan. Dan dia hanya bisa menelan ludah mendengarnya. Dia ingin seperti mereka. Mengalami hal-hal yang belum pernah dia alami. Tapi sepertinya itu hanya sebuah mimpi bagi Vrila. Mimpi yang sangat menjemukan.****Aku sudah tampak cantik, batin Vrila menatap dirinya di dalam cermin, mengagumi dirinya sendiri bahwa sebenarnya dia nyaris tampil sempurna. Tapi dia selalu terusik dengan bentuk hidungnya yang tidak masuk dalam standar kecantikan. Hidungnya hampir tenggelam dan tidak membuatnya tampak lebih baik. Vrila menghembuskan napasnya. Kemudian mengambil kado yang sudah dipersiapkannya untuk Afi. Hari ini dia ulang tahun. Dia mengundang semua temannya untuk hadir dalam pesta ulang tahunnya. Dan dalam undangannya disisipkan sebuah pesan bertuliskan tinta merah kalau semua undangan harus membawa pasangannya masing-masing. Hal itu membuat Vrila terasa berat untuk menghadiri pesta tersebut. Berarti dia harus berbohong lagi. Kalau nanti teman-temannya menanyakan tentang pacarnya, dia akan menjawab, pacarnya sedang sibuk saat ini. Seperti yang selama ini dia lakukan ketika pertanyaan itu dilontarkan oleh teman-temannya yang tidak bisa dihindarinya.Vrila tahu dia sudah melangkah terlalu jauh. Kebohongan ini cepat atau lambat harus diakhiri. Tapi Vrila masih merasa belum sanggup. Dia masih membutuhkannya, meski nantinya hal itu akan menyebabkan rusaknya hubungan persahabatannya dengan teman-temannya.“Selamat ulang tahun!” seru Vrila begitu Afi membuka pintu untuknya. “Terima kasih—masuklah,” Afi mempersilahkannya masuk, sembari menerima kado dari Vrila. Dia tampak cantik dengan balutan gaunnya yang berwarna purple. “Mana pacarmu? Aku kan sudah menyuruh kalian untuk membawa cowoknya masing-masing.”“Aku juga sebal dengan Martin,” kata Vrila pura-pura kesal, memasuki ruangan. “Setiap kali aku butuhkan dia tidak pernah ada untukku.”“Kenapa tidak kau putuskan saja dia,” kata Afi menyarankan. “Aku rasa kau tidak memilih cowok yang tepat.”“Yah, nanti akan kupikirkan saranmu itu,” kata Vrila tersenyum kering.“Baiklah kalau begitu, aku ke sana dulu, ya. Kau nikmati saja makanannya dulu.”Afi meninggalkan Vrila untuk menaruh kadonya. Pestanya lumayan meriah. Semua anak membawa pasangannya seperti yang diperintahkan Afi. Vrila tidak bisa membohongi dirinya kalau dia merasa iri melihat meraka bercengkrama dan berdansa, seolah tidak ada hal lain selain mereka berdua di dunia ini.Aku juga ingin punya pacar. Pacar sesungguhnya, bukan cuma karanganku saja. Apa aku tidak boleh mempunyai pacar hingga semua bangsa laki-laki yang kudekati sudah tidak sendiri  lagi. Vrila pernah mendekati salah satu teman sekolahnya. Dia berusaha agar anak itu tertarik padanya dengan mengirimkan surar padanya. Tapi surat itu tidak pernah mendapatkan balasan, dan belakangan dia mendapati kalau anak itu sudah mempunyai pacar. Sejak saat itu dia tidak berani lagi mendekati seorang cowok. Takut dengan resiko yang akan dia hadapi nantinya. Dan sekarang dia dihadapkan pada kenyataan di depannya bahwa kesempatan itu sudah terlambat baginya. Dengan hanya melihat banyaknya pasangan di sekitarnya. Vrila merasa dia adalah orang paling menyedihkan di dunia ini.“Apa kau akan memakan kue itu atau kau ingin dibungkus untuk dibawa pulang,”“Apa!” Vrila terkejut mendengarnya, dan mendapati kakak Afi, Choky sudah ada di sebelahnya.“Itu, yang kau pegang,” Choky menunjuk ke tangan Vrila.“Oh, maaf,” Vrila buru-buru menaruh kue yang dipegangnya ke tempatnya semula.“Kenapa dikembalikan?” Choky tampak bingung.“Aku baru saja ingat, aku harus segera pulang,” Vrila buru-buru melangkah pergi dari tempatnya berdiri.“Tapi acaranya kan belum juga dimulai,” kata Choky.Tapi Vrila tidak menghiraukan kata-kata Choky. Dia sudah tidak tahan berada satu detik saja di tempat itu. Melihat semua anak bersenang-senang sementara dia hanya bisa menyaksikannya dengan wajah bodoh yang berharap dikasihani karena hanya dia saja yang tidak memiliki pasangan. Itu sangat memalukan. Vrila merasa dunia ini sungguh kejam padanya.****Kenapa mereka selalu membicarakan cowok, seperti tidak ada hal lain selain itu saja. Apa mereka tidak bisa membicarakan tentang pelajaran, buku-buku yang bagus, musik, atau bahkan film yang baru dirilis. Apa mereka bodoh atau memang di kepala mereka hanya ada beberapa suku kata itu yang tersangkut di jaringan otak mereka. Benar-benar menyebalkan.Sekali lagi Vrila merasa kesal dengan teman-temannya. Dia merasa otaknya kram begitu mereka sudah membicarakan tentang cowok mereka. Di mana pun, kapan pun, mereka tidak pernah sehari pun absen untuk membicarakannya. Sekarang mereka berlima berada di kantin, dan membicarakan cowoknya lagi setelah beberapa jam yang lalu mereka sudah membicarakannya hampir setengah jam pelajaran ketika pelajaran kosong. Vrila benar-benar tidak tahan.“Bagaimana denganmu?” tanya Windy, pada Vrila. Vrila tersentak dari lamunannya. “Apa?!”“Kemarin,” timpal Risa. “Kenapa kamu pulang cepat?”“Ya,” Biby ikut menambahi. “Kata Afi Martin tidak ikut.”Afi mengangguk di sebelahnya, mengiyakan.“D—dia sibuk,” awalnya Vrila akan gugup menjawabnya. Tapi setelah dia menguasai keadaan, dia akan ikuti skenario karangannya layaknya air mengalir dengan alami. “Yah, kalian tahulah. Dia ‘kan kuliah sambil kerja, jadi aku tidak bisa setiap saat mengajaknya keluar. Kebetulan waktu itu dia sedang lembur, jadi…”Hal itu sudah menjadi kebohongan yang alami baginya. ****“Terima kasih,” Vrila mengambil kantung belanjaannya, setelah membayar tagihannya di kasir. Belum sampai dia melangkah keluar dari wilayah swalayan di mall itu, tiba-tiba ponselnya berbunyi.“Hallo,” Vrila mengangkatnya, sambil berjalan keluar. “Vrila, kau sekarang ada di mana?” tanya suara di seberang, langsung. Vrila mengenal suaranya.“Afi, ada apa?” tanyanya, berhenti di pinggir balkon lantai tiga.“Apa kau sibuk sekarang,” Afi terdengar tidak sabar. “Aku benar-benar butuh bantuanmu. Apa kau bisa menemaniku ke rumah bibiku? Anaknya kemarin meminjam kalkulator cos-tangenku dan sekarang belum dikembalikan. Aku butuh sekali sekarang untuk tugas matematika yang dikumpulkan besok. Apa punyamu sudah selesai?”“Sudah, kukerjakan kemarin.” Kata Vrila, karena dia tidak mempunyai kesibukan yang biasa dilakukan anak remaja pada hari Sabtu, jadi dia bisa cepat menyelesaikannya. Menyedihkan. “Apa kakakmu tidak bisa mengantarmu?”“Sejak dia bangun, dia sudah pergi,” kata Afi, terdengar kesal. “Tolonglah aku Vrila, yang lain tidak ada yang bisa, mereka sibuk berkencan. Kau tahu sendiri ‘kan hubunganku dengan Agus akhir-akhir ini tidak baik, aku tidak bisa minta bantuan padanya.”Ini hari Minggu. Kalau aku ingin kebohonganku tidak terkesan mencurigakan, aku rasa aku harus berbohong lagi.“Kurasa aku juga tidak bisa,” kata Vrila. “Hari ini aku juga sedang bersama Martin. Kau tahu ‘kan, dia sibuk sekali. Jarang-jarang dia ada waktu luang. Jadi, aku minta maaf, ya…”“Ya… sudah kalau begitu,” kata Afi, terdengar kecewa. “Maaf mengganggumu. Selamat bersenang-senang, ya.”“Terima kasih,” kata Vrila merasa bersalah. Kemudian dia menghela napas sebelum menutup ponselnya. Satu lagi kebohongannya yang tidak bisa dia kontrol.“Telepon dari siapa?” tiba-tiba Choky muncul di hadapan Vrila, dan membuatnya kaget hingga dia merasa jantungnya terjun ke lantai dasar.“Sepertinya itu membuatmu sangat tertekan,” lanjut Choky.“Bukan dari siapa-siapa,” jawab Vrila singkat, menghindari pertanyaan itu.“Apa itu dari pacarmu?” kata Choky. “Pacar yang sesungguhnya tidak pernah ada, kan?”Vrila serasa telah menerima tamparan yang sangat keras begitu mendengar kata Choky.“Apa maksudmu?” Vrila berusaha menyangkal.“Aku tadi tidak sengaja melihatmu,” ujar Choky, menjelaskan. “Waktu aku mau menyapamu, kau sudah berbicara di telepon. Dan… sedikit banyak aku mendengar percakapanmu.”Vrila tidak tahu harus berkata apa. Dia tidak punya kata-kata lagi untuk membela dirinya. Kebohongannya sudah berakhir. Dia tahu itu. Kemunafikan dan kepura-puraannya, telah terbongkar. Kegelisahannya yang selama ini menjadi momok baginya kini menjelma menjadi kenyataan.“Kau tahu, aku juga pernah mengalami hal serupa seperti yang kau alami,” kata Choky. “Dulu aku pernah diejek teman-temanku karena tidak punya pacar. Di antara mereka hanya aku yang tidak punya pacar. Aku merasa diriku ini sangat bodoh, jelek, dan kurang pergaulan karena aku tidak bisa mendapatkan cewek satu pun. Aku sempat berpikir untuk berbohong seperti yang kau lakukan saat ini. Tapi kemudian aku sadar, hal itu justru akan menyakiti orang lain dan diriku sendiri. Aku tidak mau egois. Hanya karena aku tidak sama seperti orang lain, bukan berarti kita tidak istimewa. Kau tidak perlu merasa rendah diri Vrila. Aku yakin, di luar sana pasti akan ada seseorang yang akan membuat dirimu merasa sangat istimewa.”Choky tersenyum hangat menatap Vrila. Tatapan itu membuat Vrila merasa tenang. Dia seolah telah mengembalikan jati dirinya yang selama ini tersesat. Vrila balas tersenyum padanya, juga pada dunia yang telah membukakan kesempatan kedua baginya. ****Vrila tidak bisa duduk dengan tenang. Sedari tadi kakinya berpindah-pindah posisi yang dirasa nyaman untuknya duduk. Ini berkaitan dengan apa yang ada di pikirannya. Hari ini Vrila rencananya akan mengaku pada teman-temannya. Setelah bertemu Choky tempo hari, dia terus memikirkan kata-katanya. Dia benar mengenai kebohongannya yang akan menyakiti orang lain. Meski Vrila merasa ini semua sudah terlambat, tapi dia tidak mau melangkah lebih jauh lagi untuk melanjutkan kebohongannya yang nantinya justru akan lebih menyakiti semua orang.“Teman-teman, boleh aku bicara sebentar,” kata Vrila, memulai. Dia merasa gugup. Dia tidak tahu apa yang akan terjadi nanti.Semua mendongak menghentikan aktivitas mereka. Kelima anak itu sedang mengerjakan tugas kelompok di rumah Afi. Mereka semua duduk di lantai dengan meja tamu sebagai tempat bantuan untuk bekerja.“Aku ingin mengakui sesuatu,” kata Vrila, takut-takut.Keempat anak di depannya masih terdiam, menunggu Vrila melanjutkan kata-katanya.“Aku tahu ini salah,” lanjut Vrila. “Aku tahu ini seharusnya tidak kulakukan. Tapi aku harus mengakhirinya seperti ketika aku memulainya. Sebenarnya… selama ini aku telah berbohong kalau aku sudah punya pacar—”“Apa?!”“Jadi selama ini kau—”“Itu tidak mungkin,”“Aku minta maaf—aku benar-benar minta maaf,” Vrila menunduk, tidak bisa menahan air matanya. “Aku tahu kalian pasti merasa dihianati. Tapi aku tidak tahu harus bagaimana lagi. Aku sedih dan juga iri ketika melihat kalian selalu membicarakan pacar kalian. Sepertinya dunia kalian sangat menyenangkan dengan hadirnya seorang pacar. Sementara aku, aku hanya seorang gadis kesepian yang tidak punya pacar. Aku tidak mau dikatakan kuper atau terbelakang dari anak lain. Jadi aku putuskan untuk menciptakan Martin agar terdengar nyata bagi kalian. Tapi yang sebenarnya, dia hanya karanganku untuk mendukung statusku.”Suasana mendadak berubah sepi. Lebih sepi dari malam yang dingin. Lebih mencekam dari kuburan di malam hari. Semuanya membeku. Bahkan pena itu berhenti melakukan pekerjaannya. Dan buku-buku itu sengaja terbuka untuk menyaksikan pengakuan Vrila. Kedua benda itu seolah ingin bekerja sama, mengabadikan peristiwa ini dalam kertas kosong itu untuk dijadikan sejarah. Vrila tahu dengan resiko yang dia hadapi sekarang. Mereka sudah pasti berpikir akan mengakhiri persahabatan mereka dengannya setelah ini. Kalau memang itu yang harus dilakukan, Vrila bisa mengerti. Mereka pasti tidak ingin memiliki sahabat yang penuh dengan kemunafikan dan bisa menghianati sahabatnya sendiri. Setelah kerja kelompok ini selesai, Vrila berjanji tidak akan mengganggu mereka lagi.“Aku juga minta maaf, Vrila,” kata Afi tiba-tiba, memecahkan keheningan “Selama ini aku juga egois, tidak pernah memikirkan perasaanmu. Aku selalu berbicara mengenai kekesalanku dengan Agus, tanpa mempertimbangkan apa kau suka atau tidak. Padahal kau mencoba untuk menolongku.”Vrila merasa bongkahan es itu perlahan mencair.“Aku juga minta maaf, Vrila,” Windy juga ikut menimpali. “Aku selama ini terlalu membanggakan cowokku. Padahal dia tidak seistimewa itu. Dia hanya memamerkan benda-benda yang terkadang membuatku seperti barang dagangan saja.”Kemudian diikuti Biby dan Risa juga meminta maaf pada Vrila. “Kami juga minta maaf, Vrila. Kami telah salah padamu.”“Sudahlah, kalian,” Vrila tidak bisa menahan haru. “Kalian membuatku ingin menagis saja.”Semua tertawa mendengarnya. Kemudian mereka saling berpelukan. Menyatukan tangan, raga, juga jiwa mereka bersama. Pelukan itu bagaikan simbol pengikat kelima anak itu dalam sebuah persahabatan abadi, dan bahwa hal itu tidak bisa dipisahkan oleh apaapun di dunia ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0); font-weight: bold;"&gt;Let Her Go!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;by: Tarie&lt;br /&gt; “Aku ada di sini, Tara,” bisiknya lembut menenangkan aku yang tengah gemetar hebat. Dia terus memelukku dengan erat tanpa melepaskanku sedikitpun. Ia yang tahu bagaimana perasaan dan keadaanku saat ini. Para dokter dan perawat rumah sakit ini pun tak tahu apa yang harus mereka lakukan padaku. Memang hanya dia seorang yang memahami diriku luar dan dalam. Mungkin sudah lewat dua jam Arie memelukku seperti ini. Tapi tak sedikitpun dia mengeluh atau melonggarkan dekapannya. Tubuhku masih gemetar keras. Aku baru kehilangan. Kehilangan sesuatu yang menjadi inti hidupku selama ini. Setelah hari ini, aku tak akan bisa lagi melihatnya, berbicara dengannya, berbagi banyak hal dengannya, tak akan ada lagi pelukkan hangat seorang saudara untukku saat ku sedih.  Aku berusaha untuk tenang agar gemetaran tubuhku berhenti, namun sulit sekali melakukannya. Setelah sedikit tenang, aku mulai bisa berbicara. “Lara udah pergi, Rie,” jeda sejenak, aku menarik napas panjang. “Aku nggak akan bisa ketemu Lara lagi. Selamanya! Dan itu salahku!” aku mulai histeris lagi, dan Arie mempererat pelukkannya padaku. Aku duduk di lantai rumah sakit memunggunginya sehingga dia memelukku dari belakang sejak tadi.  Arie membenamkan dagunya di rambutku. “Ssh, kamu nggak salah, Tara, semua yang terjadi adalah kehendak Dia. Kita hanya manusia, dan kita nggak punya kuasa untuk menghentikannya. Ssh, please, tenang ya,” katanya penuh pengertian. Kami berdua baru jadian selama 9 bulan, dan kami ini adalah hasil comblangan Lara saudara kembarku. Dia memang senang sekali menjodoh-jodohkan orang sedari kecil, dan comblangannya selalu sukses. Yah, seperti kami ini.  Perasaanku semakin kacau saat aku melihat tubuh tak bernyawa Lara dibawa keluar dari ruang operasi. Seluruh tubuhnya tertutup kain putih. Tiga puluh menit yang lalu, dokter keluar dan mengabarkan pada kami kalau Lara sudah tak mungkin lagi diselamatkan, dan hatiku luluh lantak saat mendengarnya. Kalau tak ada Arie di sampingku, aku pasti sudah jatuh menghantam lantai yang keras dan dingin. Rasanya aku ingin berlari menghampiri Lara dan membangunkannya, tetapi aku tahu itu adalah hal bodoh. Lara, belahan jiwaku dan bagian dari hidupku, tak akan pernah bangun lagi dan tersenyum untukku. “Tara, kita rawat luka-lukamu ya?” ajak Arie sambil dengan perlahan membantuku berdiri. Kakiku masih gemetar sehingga aku harus bersandar sepenuhnya pada Arie. Karena kecelakaan tadi, tubuhku memang terluka, tapi luka-lukaku hanya luka gores. Meski banyak darahnya, aku tahu aku tak mungkin mati hanya karena luka-luka ini.  Saat dua orang perawat membersihkan dan merawat luka-lukaku, sedangkan Arie pergi untuk mengurus masalah rumah sakit dan menenangkan orang tuaku yang shock stengah mati mendengar kami berdua kecelakaan dan bahwa Lara meninggal, pikiranku melayang ke kejadian siang tadi.  Kami berdua, aku dan Lara, berencana pergi ke Surabaya Town Square untuk nonton film dan kami sepakat kalau aku yang menyetir. Awalnya semuanya baik-baik saja. Kami masih tertawa dan bernyanyi mengikuti suara Lady Gaga yang menyanyikan Big Girl, sampai ada dua taksi yang sepertinya sedang adu balap dan menyetir dengan serampangan. Mobil kami berada di jalur yang benar, dan aku menyetir dengan kecepatan normal, tapi kemudian, salah satu taksi itu kehilangan control dan kudengar suara ban berdecit mengerikan beradu dengan aspal, lalu taksi itu menghantam sisi sebelah kiri mobil, tempat Lara duduk, dan mobil kami menabrak pembatas jalan raya. Kaca depan pecah berantakan, mengenaiku tapi aku seakan mati rasa. Tak ada suara yang keluar dari tenggorokanku, hanya air mata yang mengalir tanpa kusadari, dan kemudian semuanya menjadi gelap. Begitu sadar, aku menemukan diriku sudah di rumah sakit. Aku menolak untuk dirawat dan langsung berlari mencari telepon. Nomor pertama yang muncul dibenakku adalah nomor ponsel Arie. Aku merasa lega saat kudengar suara Arie setelah nada sambung ketiga. Dengan panik aku memintanya untuk segera ke Rumah Sakit Vincentius A Paulo atau lebih dikenal dengan nama Erkazet. Seperti biasanya, Arie masih berkepala dingin walau dalam keadaan genting sekalipun.  Mataku terasa panas lagi, dan air mataku meleleh tanpa bisa dihentikan. Padahal aku sudah menangis lebih dari dua jam tadi, tapi rasanya air mataku tak akan pernah habis. Aku mendongak saat kudengar pintu kamar rawatku dibuka perlahan. Dan di sanalah Arie berdiri, tenang dan sama sedihnya denganku. Arie dan Lara adalah teman dekat selama kami SMA, mereka sangat akrab dan sudah seperti saudara kandung. Ia mendekat dan memelukku lagi, tapi kali ini tidak lama. Erat tapi sebentar. Lalu dia tersenyum sendu. “Tara, please, sudah jangan nangis lagi. Aku yakin Lara pasti nggak akan suka melihatmu begini,” ucapnya dengan suara lembut sambil menghapus air mataku dengan jemarinya.  Aku menatapnya dalam, sarat kepedihan. “Lara mati, Rie. Kamu nggak sedih? Dia kan sahabatmu! Kenapa kamu bahkan nggak menangis sedikitpun?!” bentakku keras, dan aku langsung menyesal begitu melihat wajahnya yang terluka. Aku tahu dia pasti sedih sama seperti diriku. “Aku sedih, Tara. Sangat malah! Lara sudah seperti adikku sendiri!” jawabnya hampir membentak. “Aku ngerti kamu sedih, Tara, tapi Lara nggak akan bangun lagi hanya karena kamu menangis.” Arie melembutkan suaranya. “Tegarlah! Segalanya nggak akan jadi lebih baik dengan menyalahkan diri sendiri, aku sudah bilang kan, kalau ini semua adalah kehendak Yang Di Atas, jadi ini bukan kesalahan Tara. Relakan Lara pergi. Believe that she’s gone for good. Don’t send her go with tears, but do it with your prayer. Ada Dia bersamanya, Lara pasti bahagia. No need to worry,” kata Arie yakin dengan ketegaran luar biasa. Aku hanya bisa mengangguk dan dia kembali mendekapku erat.  Esoknya saat pemakaman Lara, Arie dengan setia mendampingiku, meremas tanganku seakan ingin menyalurkan kekuatannya padaku. Aku pun berusaha untuk tidak menangis karena aku tak ingin mengantarnya pergi dengan tangis tapi dengan doaku. Semua yang dikatakan Arie benar. Segalanya yang terjadi di dunia adalah kehendakNya, dan kita manusia tak mungkin bisa mencegahnya, hanya bisa menerima dan mengikhlaskan segalanya. Tuhan tahu yang terbaik bagi anak-anakNya, karena itu aku yakin Dia pasti tahu apa yang terbaik untuk Lara.  Setelah semua orang pergi hingga tinggal aku dan Arie, aku minta orang tuaku untuk pergi lebih dulu. Mereka tak menyalahkanku sedikitpun, mereka tahu yang salah bukanlah aku tapi supir-supir taksi seenaknya itu, kami berdiri dekat dengan nisan Lara. Arie melingkarkan tangannya di bahuku untuk menguatkanku.  Aku menyentuh nisan Lara lembut. “Bye, Lara. Aku sangat bersyukur memiliki saudara sepertimu. Semua yang telah kita lewati bersama, tak akan pernah kulupakan. Kamu tahu, kamu adalah hal terbaik yang pernah Tuhan berikan padaku, seperti halnya Tuhan dan kamu memberikan Arie untukku. Makasih ya, sudah jadi saudara, teman, dan sahabat terbaikku. Makasih karena ngenalin aku dan Arie. Thanks my sister, thanks for everything.” Sebenarnya masih ada banyak hal yang ingin dan bisa kukatakan, tapi lidahku rasanya kelu.  Di sampingku, Arie menatap nisan Lara masih sambil merangkulku. “Lar, thanks udah mau jadi sahabat dan adikku selama tiga tahun ini. Dan thanks karena sudah ngenalin aku ke Tara. Aku janji akan selalu buat dia tersenyum, akan selalu menjaganya apapun yang terjadi. Just…thanks for everything,” ucapnya lirih. Lalu kami berdoa untuk Lara.  Setelah berdoa kami berdua berjalan kembali ke tempat mobil Arie diparkir. Aku berjalan di depan dan Arie di belakangku. Angin berdesir lembut membuatku sedikit merinding, lalu aku mendengar suara lembut ceria yang sangat kukenal.  “Be happy Tara, now and always…send my regards to Arie too, ” angina berdesir lagi lembut  dan aku berbalik. Ada sosok yang kukenal berdiri di sisi nisan Lara, ia tersenyum. “Bye. See you.” Aku pun tersenyum lalu berbalik melanjutkan langkahku disisi Arie.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1968987199556825028-1307222558759664474?l=full-stories.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://full-stories.blogspot.com/feeds/1307222558759664474/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://full-stories.blogspot.com/2009/09/cerpen-remaja.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1968987199556825028/posts/default/1307222558759664474'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1968987199556825028/posts/default/1307222558759664474'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://full-stories.blogspot.com/2009/09/cerpen-remaja.html' title='Cerpen Remaja'/><author><name>Full Beautifully Stories</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10171057672386779649</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1968987199556825028.post-2804991542413512580</id><published>2009-09-07T23:43:00.000-07:00</published><updated>2009-09-07T23:47:58.582-07:00</updated><title type='text'>Cerpen Romantis</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(204, 102, 0);"&gt;Cerita pelangi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;by : Deedee&lt;br /&gt;Jakarta diguyur hujan lagi Maz. Sekarang emang musim udah gag bisa dibedain lagi ya? Padahal kalo di jaman SD dulu, katanya kan ini harusnya udah musim kemarau. Hehe, malah jadi bahas pelajaran. Kalo lagi hujan gini selalu timbul harapan buat aku, harapan buat bisa ngliat pelangi lagi. Udah lama banget aku gag liat pelangi, saking lamanya sampai aku lupa kapan terakhir kali aku pernah ngliatnya. Mungkin waktu SD, sebelum di Gebanganom banyak dibangun pabrik- pabrik yang asap hitamnya menutupi pelangiku.Tapi kan sekarang aku ada di Jakarta, bukan di Semarang lagi, kenapa aku tetep gag bisa ngliat pelangi? Oia, aku lupa kalo ini malem, pasti pelangiku ditelan ma gelapnya malem. Hmfh, harapanku belum bisa terwujud lagi de! Suatu saat nanti, aku pengen banget de ngliat pelangi lagi, tapi bareng kamu. Habis pelanginya bilang malu kalo cuma diliat ma aku, dia pengennya aku ngajak kamu buat dinikmati bareng- bareng keindahannya. Kapan ya Maz? Duh, ngarepnya ktinggian niy kayaknya! Jangankan buat ngliat pelangi bareng, buat ngliat kamu lagi aja gag tau bisa apa gag. LAkhir- akhir ini aku banyak mikirin tentang pelangi. Entah dalam arti sebenarnya maupun filosofinya. Kayak sekarang ini, udah jam setengah dua belas malem, mataku masih belum bisa terpejam, hampir tiap hari aku begadang, insomnia gag ketulungan ni! Pelangi, terdiri dari tiga suku kata, PE-LA-NGI, dan tersusun dari tujuh huruf, P-E-L-A-N-G-I, mengandung banyak arti buat aku. Bias warnanya yang indah memantulkan keceriaan setelah hujan yang deras mengguyur, kadang diselingi dengan kilatan petir. Walaupun hujan itu sering bikin sedih karena lagi- lagi bikin Gebanganom banjir, pelangi selalu bisa membuat semua kesedihan itu lenyap. Aku ingin seperti pelangi, memancarkan warna- warni, membawa sejuk di hati. Walau hanya sekejap saja, tapi indahnya selalu ada…Pernah liat Kepompong gag? Iya, yang maen Derby dkk itu. Mereka menamakan genk-nya “DeRainbow”. Tau gag apa alesannya? Mau aku kasih tau gag? Mau gag mau aku bakal tetep kasih tau kuk, tenang aja. JMereka bilang, pelangi itu sebuah simbol dari persahabatan mereka. Jalan yang harus mereka lalui diibaratkan seperti hujan deras berpetir itu Maz. Meskipun berat untuk melalui jalan berbadai, tapi mereka tetep selalu yakin bahwa setelah hujan itu akan ada pelangi indah yang menanti mereka setelahnya. Nah, harapan inilah yang selalu ada buat nyemangatin aku Maz, dan aku harap Maz bisa punya harapan dan semangat yang sama dalam ngejalani hari- hari. Seperti janji kelingking kita dulu Maz, tetep semangat dan pantang menyerah! Aku yakin Maz bisa, seperti Maz yang selalu yakin sama aku bahwa aku pasti bisa nglaluin semua ini.Maaf ya aku jadi curhat gini, aku gag punya temen berbagi sekarang. Ria lagi pulang ke Semarang long weekend ini. Temen-temen deketku di kelas pada pulang ke Bekasi. Aku udah cerita belum sih kalo Desi, Dita, ma Dewi tu rumahnya di Bekasi? Jadi ya di sini cuma ada aku, ditemani oleh empat ekor sapi yang selalu setia,hehe…Biasanya sih gangguin Abie ato si Anto kalo belum bisa bubu gni, entah sekedar smsan yang gag penting ato telpon sampe ketiduran denger cerita mereka. Tapi gag enak juga lama- lama, mereka udah pada punya cewek. Pacar Anto malah bilang terus terang kalo cemburu ma aku. Jadi serba salah.Jadi ya emang cuma bisa gini, duduk di depan laptop, terus cerita- cerita sendiri. Gag tau ini bakal nyampe ke kamu ato gag, setidaknya aku udah cerita itu udah bikin lega, walaupun cuma sama laptop, hehe. JEh, gag kerasa niy ujannya udah reda. Jadi inget pas SMA niy, inget gag Maz waktu dulu mau pulang habis dari mindset? Sore itu juga hujan deres, aku bingung gag bawa paying. Terus kamu lepasin jaket buat mayungin aku. Aku gag akan pernah lupa moment itu, habisnya disorakin anak- anak Paski, dibilang kayak film India sih! Geli sendiri niy. Tapi kangen banget ma saat- saat seperti itu. Huh, bingung mau ngomong apa lagi. Udahan ah, udah hampir jam satu niy, skali lagi maaf udah ganggu waktunya. Oia, nyambung soal pelangi tadi, aku sekarang lagi suka banget ma lagunya Vidi Aldiano yang judulnya Pelangi di Malam Hari ma lagunya Dygta yang Seperti Pelangi. Aku selalu dengerin itu sebelum tidur, bagus de, aku rekomendasiin, coba dengerin ya kalo gag keberatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana; font-weight: bold; color: rgb(0, 153, 0);font-size:100%;" &gt;&lt;br /&gt;" Sebuah cerita untukmu...."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;by:  Pika&lt;br /&gt;Ditempat ini ku terdiam....dan sayup-sayup terdengar suara jemari yang menari diatas keyboard,sedangkan malam terus kian mengantarkan kedinginan yang tak beralasan...Hingga tuk kesekian kalinya pertanyaan itu kembali dia ucapkan..." ini fotonya siapa,Wa...kenapa ada di dompetmu ??" tanya-nya." coba tebak dulu,Din..cantik ga?? " jawabku mencoba berkilah." jujur aja deh,ni fotonya sapa...!! " nadanya meninggi dengan kesabarannya yang mulai habis. Meskipun sebenarnya aku ga yakin dia siap dengar jawaban yang sesungguhnya...tapi setidaknya aku berusaha jujur dengan apa yang terjadi saat itu.... Huffftt... :)" Ya udah deh...aku jujur,itu fotonya mantanku..." jawabku " Dinda,foto itu masih di dompet,bukan karena ada apa tentang dia..tapi karena aku ga pernah ada waktu buat beresin isi dompetku..." belaku, karena itu yang terjadi sebenarnya dan aku jelaskan kepadanya." Kenapa masih disimpan juga si...buang tinggal buang aja kenapa susah...?? " Kenapa ga ada waktu buat buang..padahal kan ga butuh waktu lama..!!! kesalnya. Aku rasa emang bakalan seperti ini..tapi itu yang terjadi saat itu. " Kamu ga usah nyimpen fotoku..Wa!! Aku buang aja..!!!" sambil melemparkan beberapa fotonya yang aku simpan di dompetku... Yha..aku memang sering melihat foto itu ketika rindu tentang dia menghampiriku." Kenapa dibuang Din...???" Udah ga usa nyimpen fotoku aja,..." jengkelnya.&lt;br /&gt;22.45&lt;br /&gt;Beberapa saat aku terdiam..begitu juga denganya... Malampun semakin larut tuk mengantarnya pulang..diluar udara pasti sangat menusuk sumsum tulang. Begitu juga dengan suasana antara aku dan dia...saat itu. Seperti jarum,dingin dan menyakitkan buat dia....Aku tau akan hal itu.. Klopun sebuah hubungan berakhir saat itu...jelas aku yang pantas untuk disalahkan.aku tidak tau apa yang harus aku jelaskan ke dia.karena penjelasan dengan kalimat yang sama aku ulangi terus menerus. Hingga akhirnya...didalam sela-sela diamnya..dengan lirih dia mencoba mengucapkan sesuatu..." Aku mau pulang..udah malam" sambil menunduk menutupi wajahnya yang begitu lembut waktu itu. Aaahh...ingin rasanya ku menenangkannya tuk kesekian kali." Yakin kamu ingin pulang dengan keadaan kita seperti ini..sedangkan kita dalam Beberapa hari kedepan ga bisa ketemu...??? " Dinda, aku besok pergi ke jakarta tuk beberapa hari,...kamu yakin mau kaya gini keadaanya kita..?? " Bener,aku ga bole nyimpen fotonya kamu lagi..??bener...?? tanyaku penasaran dengan keputusanya semenit yang lalu. " Tolong ambil fotonya lagi..."suruhku.Dia beranjak dari tempatnya mencoba mencari foto yang di buangnya tadi.aku coba diam mencoba memikirkan kesalahanku.Sedangkan dia larut dalam pencarianya...setelah beberapa saat kemudian..." Ga ketemu,Wa..aku tanya orang tadi yang mau kesini juga ga tau..."" ko bisa ga ketemu...? coba dicari lagi mungkin terselip..." suruhku penasaran.&lt;br /&gt;23.10&lt;br /&gt;5 menit kemudian...dia kembali duduk disebelahku.. " aku datang kali ini bukan untuk kaya gini,..bukan untuk pergi tanpa bawa fotomu,Dinda..." Dia hanya terdiam....memikirkan sesuatu yang nantinya terjadi di hari esok. Tanpa saling bertemu dalam keadaan seperti ini..sangat-sangat tidak mengenakan pastinya buat kita berdua. Matanya mulai dihiasi bilur-bilur air yang memaksa untuk turun... Yha...akhirnya dia menangis,setelah sekian lama menahan air mata dengan tembok pendirian egonya yang semakin meninggi tadi. Ku meraih kedua tanganya...aku peluk dia." Ydh,gpp..." mencoba menenangkannya. " Mungkin memang hari kedepan tidak cuma aku yang ga bakalan ketemu,tapi aku juga ga pegang fotomu,Din..." " Ydh gpp deh..."jawabku lemes, mencoba menenangkanya lagi. Dalam pelukanku dia menangis semakin menjadi... Maafkan aku Dinda...aku yang mulai semua ini..aku yang salah Hingga akhirnya kau meneteskan air mata itu..pikirku dalam hati." Dah malam,Din..kita pulang aja..."ajakku." Maafin aku ya Wa...gara-gara aku kamu ga pegang fotoku buat hari kedepanya.."suara lirihnya terdengar di telingaku. Malam semakin larut..entah apa yang membawa mereka..tapi yang aku tau pasti. keadaan itu membuatku sangat ingin memeluknya lebih lama.. Tapi sepertinya waktu terus memaksaku untuk mengantarnya pulang.aku tau malam telah sangat larut.. Huuufttt...&lt;br /&gt;23.30&lt;br /&gt;Hingga akhirya diujung jalan tempat aku mengantarkanya pulang... dia berhenti...mencoba mengucapkan sesuatu yang terlihat sulit untuk diutarakan." Sekali lagi maafin aku Wa...gara² aku sekarang jadi ga pegang fotoku lagi" sesalnya." Dinda,...aku takut ada apa² yang terjadi denganku besok.aku takut ini pertemuan terakhirku, Din..." Aku coba jelaskan perasaanku saat itu.. " Aku bisa merasakan tanda²nya..kita besok ga ketemu sedangkan malam ini kamu buang fotomu yang ada didompetku "" Dinda, aku takut...kenapa² besok.." terangku. Dia menangis mendengar penjelasanku tadi.." Dewa, jangan bilang kaya gitu...!!!" sambil meneteskan air matanya. " jangan....Wa !! " Oh my God...perasaanku bergetar.. Bulu tanganku merinding,bukan karena takut tapi karena entah apa yang memasuki pikiranku saat itu..aku merasa itu suatu pertanda buruk yang nantinya terjadi. Aku merasa..itu pertemuan terakhir..." Kenapa Dinda nangis...plis jangan nangis seolah-olah ga ketemu aku lagi...Din !!!! " " jangan nangis..."" Iya...." jawabnya sambil membendung air matanya yang terus turun. Kututup kaca helm-ku..karena aku tau... Aku tak sanggup menahan air mataku...huufftt.. Sesaat aku tersenyum dalam tangisku... Aku mencoba menikmati hari itu..kalau seandainya itu hari terakhir buatku bersamanya... Setelah kita larut dalam tangisannya masing².. " Udah Dinda..." usahaku tuk menenangkannya. " Jangan nangis lagi,..sepulang nanti dari jakarta..aku janji aku besok nemuin kamu buat afdruk foto lagi.."dia masih terisak isak dalam tangisnya..berusaha menahan agar air itu tidak jatuh..." Kamu janji..jgn ada apa² ya Wa ... !!! " suruhnya. " Janji kita besok pergi lagi ya... !!! " " iyha Dinda..aku janji " jawabku sembari tersenyum untuknya.&lt;br /&gt;23.40&lt;br /&gt;Beberapa saat kemudian dia pulang...seolah dia menyuruhku melihat sketsa punggungnya yang begitu dingin karena malam itu...hingga akhirnya akupun mulai menghidupkan mesin motorku... Dalam perjalanan pulang,tak henti-hentinya aku memikirkan kejadian tadi... aku begitu menikmati keadaan seperti itu.. sakit,perih dan kebahagiaan datang secara tiba² dalam sebuah hubungan.. cinta yang menangis karena sesuatu yang indah..menjadikan keduanya semakin dewasa dalam menjalaninya... Meskipun ada kisah ROMEO and JULIET...atau kisah yang lebih romantis diluar sana. aku tetap yakin.. Apapun yang terjadi antara kita dan pasangan kita..baik sedih atau bahagia. itu lebih mengharukan daripada kisah teromantis diluar sana, sekalipun itu ROMEO and JULIET. Bukan begitu???" Untuk seseorang diluar sana...terima kasih atas inspirasinya. Aku sangat menyukai cerita ini.. Apapun yang kau lakukan...itu sangat berarti tuk orang yang kau cintai..."&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1968987199556825028-2804991542413512580?l=full-stories.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://full-stories.blogspot.com/feeds/2804991542413512580/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://full-stories.blogspot.com/2009/09/cerpen-romantis.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1968987199556825028/posts/default/2804991542413512580'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1968987199556825028/posts/default/2804991542413512580'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://full-stories.blogspot.com/2009/09/cerpen-romantis.html' title='Cerpen Romantis'/><author><name>Full Beautifully Stories</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10171057672386779649</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1968987199556825028.post-1778746963175226794</id><published>2009-09-07T23:37:00.000-07:00</published><updated>2009-09-07T23:43:41.474-07:00</updated><title type='text'>Cerpen Motivasi</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Aku Benci Mama&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;by : Yutachi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi hari buta sudah terdengar teriakan mama membangunkanku. "lisaaa. banguuun. mau solat subuh jam berapa?" teriak mama dari luar. bukannya bangun, aku malah menutup kepalaku dengan bantal. mama tidak pernah merasa lelah untuk terus membangunkan ku solat. mama akhirnya membuka pitu kamar ku dan BYUURR! air dingin sudah membanjiri mukaku. "banguuuun! harus berapa kali sih mama bangunin kamu?! susaaah banget di bangunin. anak gadis susah banget di bangunin. solat subuh dulu sana." aku berjalan ke kamar mandi sambil mengelap mukaku yang basah terkena air dingin. selesai wudhu, aku sola subuh dikamar. lalu kembali tidur. sepertinya belum lama aku tertidur, aku sudah dibangunkan lagi oleh mama. tiba-tiba pintu kamar di buka dengar keras, aku kaget dan langsung membuka mata. kepala ku pusing. "ckck! bagus ya, mama beres-beres sendirian, tuan putri malah asikasikkan tidur."ku tarik langkah ku yang berat ke kamar mandi untuk gosok gigi dan cuci muka setelah itu aku duduk di depan tv untuk menyegarkan pikiran ku. tapi kakak-kakak dan papa ku mengira aku sedang nonton tv. "lis, kok kamu nggak bantuin mama sih?kasian tuh mama cape" aku menjawab "iya, aku nanti emang mau bantuin kok." setelah diceramahin seperti itu , aku membantu mama beres-beres rumah.pagi berganti siang, siang berganti malam. aku disuruh beli makanan di luar karena mama sedang tidak masak. sesampainya dari beli makanan, aku pulang dengan disembur dengan omelan mama, lagi. "lis, kamu masak air?" aku menjawab "nggak, ma. kenapa?" mama bicara lagi " itu masak air nggak dimatiin, sampai air nya habis. emang dikira gas murah apa.?! masih untung nggak kenapakenapa..."mama masih ngomel sama aku tanpa dia tahu bukan aku yang  masak air. akhirnya aku nggak tahan dan teriak. "BUKAN AKU MA YANG MASAK AIR!" bersamaan dengan itu, papa dan kakak-kakakku datang dan bertanya ada apa. cerita lah mama , semuanya jadi marah sama aku. aku kesal, marah, benci. aku berusaha jelasin semuanya tapi sama sekali tidak merubah keadaan. akhirnya aku berkata "mending aku mati aja deh kalo tiap hari dimarahin terus, disalahin terus! AKU BENCI MAMA!" aku kelUar rumah dengan membanting pintu. aku nggak tau mau kemana. aku bingung. aku jalan entah kemana. begitu sadar, malam sudah semakin dingin. aku lapar karena dari sore belum makan dan minum apa-apa. aku duduk di trotoar dan merenungi apa yang baru aku lakukan. aku menangis menyesal. sungguh menyesal. aku tidak pernah mau menjadi anak yang durhaka. tapi apa yang sekarang bisa aku perbuat?aku takut untuk pulang kerumah. aku berjalan lagi tanpa tujuan dan tiba-tiba...aku mendengar suara mama yang menangis meraung-raung seperti itu. sungguh suara tangis yang menyakitkan. aku bahkan tak tahan mendengarnya. dan belum pernah aku mendengar mama menangis seperti itu. akhirnya aku membuka mata, disampingku mama sudah banjir air mata sedangkan kakak-kakak dan papa ku mengelilingiku. aku tersedar kalau aku sedang di rumah sakit dan rasanya badan ku sudah tak bertulang lagi, sakit melanda seluruh tubuhku.aku langsung minta maaf dengan mama. mama bukannya bicara malah hanya menagis dan menangis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 102, 102); font-weight: bold;"&gt;Save Our Earth&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;by: Egina&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bumi memejamkan matanya, mencoba beristirahat dari kerja rodinya yang tidak pernah dihargai. Tapak kaki kecil yang diiringi derap langkah riang berlari kearahnya dan memeluknya, yang sejenak membangunkannya dari mati suri. Ia berkata “bumi jangan tidur, aku sayang bumi!”. Mendengar itu bumi meneteskan air mata, yang membasahi semua dengan kepiluan hatinya. Anak itu mengusapnya dan berkata “bumi jangan nangis, kasihan ayah dan ibu ku, saudara-saudara ku dan semua orang, mereka pasti akan menangis juga, karena air mata bumi mengganggu aktivitas mereka!”. Mendengar itu bumi tak mau egois, dia mencoba menahannya dan merubah semua itu menjadi tawa yang menggelegar, untuk melampiaskan kepiluan hatinya. Tapi… cepat-cepat tangan anak itu menutup mulutnya, dan mendendangkan suaranya, “berhenti bumi, kau mengusik semua dengan tawa mu yang keras, kau menghancurkan semua yang ada, kasihan mereka!”. Bumi mulai muak, dalam hati ia berkata “dasar, masih kecil saja kau telah tahu rasa egois, tak mementingkan aku, sama halnya kau dengan mereka!”.            Bumi merasa serba salah, ia marah dan membuat wajahnya memerah, ia goncangkan tubuhnya kuat-kuat, agar terasa amarahnya. Anak itu menangis melihat ulah bumi, ia mencoba dengan tangan kecilnya untuk menenangkan bumi, sambil merengek “bumi jangan marah, aku takut… bumi…tenang…bumi…tenang, aku sayang bumi!”. Bumi terdiam, menghela nafas yang panjang, tapi anak itu berbisik, “ssst…hati-hati dengan nafas mu bumi”. Bumi menatap wajah anak itu, ia mencoba mengusap sisa air matanya, bumi pun berkata, “aku kesal, muak dan cukup lelah. Apa yang pernah bangsa kalian lakukan untuk kebahagiaan dan ketenangan ku? Kalian mengeksploitasi ku dengan mencukur habis rambut ku, sehingga aku tampak konyol diusia ku yang renta ini. Kalian membuat aku berat dengan tindihan besi-besi yang menjulang tinggi di tubuh ku, yang harus ku pikul berpuluh-puluh tahun, pada hal aku sudah tua!! Kalian membuat aku terjaga dari istirahat ku dengan suara-suara bising yang kalian buat dari setumpuk besi-besi berengsek yang menghamburkan asap dan membuat paru-paru ku rusak! Aku muak, setiap kali aku  menangis karena besi yang kalian paksa taruh di badan ku, kalian pasti merengek dan menyalahi ku. Setiap aku bersin dan batuk akibat dari besi-besi rongsokan mu itu, kalian pasti meraung-raung sambil menyesali ku. Hai bodoh… aku juga punya perasaan!!!”                        Anak itu mendekati bumi, memegang jantung hatinya, “bumi… aku berjanji aku pasti akan membela mu, tidak akan menggunduli rambut mu, menaruh beban yang berlebihan, dan membuat mu terjaga dari istirahat mu. Tapi tidak sekarang bumi, tangan ku masih terlalu kecil, dan perkataan ku di usia yang masih sangat muda ini tak akan di dengarkan. Bersabarlah bumi…bersabarlah aku sayang bumi!” bumi menanggapi perkataan anak itu dengan nada yang sedih dan putus asa, ia berkata “sampai kapan… sampai kau benar-benar telah mengenal uang??? Sampai aku tak kuat lagi menahan semua ini?!” anak tersebut memancarkan kesedihan di matanya seolah ia menyesali telah menjadi bangsanya, ia mencoba menarik kepercayaan bumi dengan berbisik “aku mengerti pasti kau sulit percaya kepada ku… tapi percayalah bumi, setidaknya kau memiliki harapan. Bumi… aku sayang bumi!!” anak itu berlari menjauh dari bumi dan bumi…. MENUNGGU&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1968987199556825028-1778746963175226794?l=full-stories.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://full-stories.blogspot.com/feeds/1778746963175226794/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://full-stories.blogspot.com/2009/09/cerpen-motivasi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1968987199556825028/posts/default/1778746963175226794'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1968987199556825028/posts/default/1778746963175226794'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://full-stories.blogspot.com/2009/09/cerpen-motivasi.html' title='Cerpen Motivasi'/><author><name>Full Beautifully Stories</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10171057672386779649</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1968987199556825028.post-5542006252614443196</id><published>2009-09-07T23:30:00.000-07:00</published><updated>2009-09-07T23:37:18.747-07:00</updated><title type='text'>Cerpen Islami</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(255, 0, 0); font-family: verdana;"&gt;Kiamat&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;by: Mahmud&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Kring..... kring ..... kring........”Rasyid kaget dan terbangun karena bunyi alarm HP sangat keras di telingahnya. Matanya terasa berat untuk dibuka. Kain selimut ditarik kembali untuk menutupi badannya yang terasa dingin. Matanya masih terasa mengantuk. Kedua tangannya di masukkan diantara kedua paha, terasa hanyat tangannya. beberapa saat ia tertidur lagi”kring ........... kring....... kring......” alarm Hp kembali berbunyi. Rasyid melirik jam yang menempel didinding kamar. ”hhaa sudah jam setengah satu”. Gumamnya. sambil melempar selimut ia pergi ke kamar kecil untuk mengambil air wudlu. Dibasuhnya bagian-bagian anggota wudlu dengan tertib. Air suci mengalir menembus kulitnya. Memang terasa dingin. Percikan, tetesan air menyentuh dinding lantai bagaikan irama yang tidak teratur tapi penuh makna. Rasyid sudah biasa melakukan shalat malam. Ia ingat betul pesan bapaknya ” kalau kau syid ingin menjadi orang yang sukses, jangan lupa shalat tahajjud”. Pesan itu dia ingat betul seperti lukisan yang terpatri dalam hatinya.Rasyid melaksanakan shalat tahajjud dengan kusyuk kemudian berdo’a.Ia mengangkat kedua tangannya ” Ya Allah hambamu yang hina ini, yang penuh dengan dosa dan maksiyat ini hadir dihadapanMu untuk memohon ampun dari dosa yang telah aku lakukan disiang hari ataupun malam hari, baik dosa yang kecil maupun besar, baik dosa itu aku sengaja maupun tidak, baik karena  aku mengetahui kalau itu dosa maupun aku khilaf. Ampunkanlah ya Allah karena hanya Engkau yang maha pengampun. Rasyid tenggelam dalam munajadnya. Air matanya mulai mengalir menetes disajadah tempat ia bersujud. Mulutnya terus menerus berdzikir. Allah...Allah....Allah... Allaah.... Alllaaahhh  semakin dalam ia melafalkan kalimat itu semakin deras airmata yang keluar. Tuhan ....... Aku ini hina, aku ini sombong, aku ini pengecut. Betapa besar nikmat yang kau berikan kepadaku tetapi aku tak pernah bersyukur, aku kufur ya Allah. Betapa besar kasih dan sayangMu tetapi kenapa aku tak tahu berterima kasih. Kau berikan nyawa kehidupan kepadaku tapi kenapa nafas yang keluar dari mulutku selalu berbisa dan menyakitkan hati orang,  betapa luas pintu ampunanMu tapi kenapa aku selalu berbuat salah. Ampuni Aku Yaaa... Aku tidak pantas masuk surga yang engkau janjikan karena itu tempatnya pada nabi dan rasul, para shaleh dan mujahid tetapi aku juga tidak akan kuat bila Engkau masukkan kedalam  neraka jahannam berkumpul dengan syetan . Karenanya Ya Allaah berikanlah ampunanMu karena Engkau yang mengampunkan segala dosa. Terimalah do’a dan permohonanku ya Allah......Alllaah... Al ....lla....a...a...a..h .Bersamaan dengan itu tubuh Rasyid terkulai lemas, matanya tertutup dan .........”bismillahiirahmanirrahiim. Idzaa zulzilatil ardlu zilzaalahaa. Wa akhrajatil ardu atsqaalahaa. Waqaalal insaanu maa lahaa”.  pengeras suara di masjid berbunyi memecah kesunyian malam. Rasyid kaget dan bingung. Ia melihat jam dinding masih menunjukkan pukul 01. 30 dini hari. ” biasanya suara orang mengaji dimasjid jam 04.00, kenapa jam segini sudah ada orang mengaji. Apa nggak salah ini”. Rasyid bergegas segera turun dari tempat tidur kemudian keluar rumah. Dilihatnya para tetangga banyak yang keluar. Aneh ini. Mereka hanya saling pandang dan menyimpan beribu pertanyaan. Langit cerah berhias cahaya bulan dan kerlib-kerlib bintang. Cak Mad yang membalut tubuhnya dengan sarung untuk mengusir udara dingin mendekati Rasyid”Syid kamu ke Masjid.  Kan ganggu orang istirahat kalau begini”. Rasyid manggut manggut dan  berlalu dengan cepat menuju masjid . Ternyata di depan masjid sudah banyak orang yang bergerombol  ditemui juru kunci. ”Bapak-bapak, ini sungguh aneh, pengeras suara berbunyi dengan sendirinya, saya sudah mematikan mesinya bahkan aliran listrik sudah saya putus. Tapi suara orang mengaji di atas menara sana tetap berbunyi”. ”mana mungkin pengeras suara bisa berbunyi sendiri, mustahil, tidak mungkin”. Kata Haji Dullah  ”betul pak haji, kami sudah mengeceknya dan memang orang mengaji itu terus berbunyi walaupun sudah di matikan mesinnya. Orang-orang mulai berdatangan ke Masjid karena suara orang mengaji semakin keras dan tidak dapat dikendalikan. Mereka menutup telingah dengan kedua tangan. Rasyid semakin bingung. Semua orang saling berpandangan, menggelengkan kepala tanda tak mengerti . Suara orang mengaji itu mulai terdengar diseluruh masjid dan mushalla di kampung itu. Bersaut-sautan dan semakin keras. Tidak hanya orang laki-laki dewasa, orang perempuan dan anak-anak mulai keluar rumah dengan pakaian tidur seadanya. Suasana mulai kacau, tangisan anak anak kecil, mereka menjerit dalam ketakutan yang mendalam. Mendadak langit berubah menjadi gelap, bintang dan rembulan yang tadi bersinar terang bersembunyi dibalik awan yang bergulung-gulung tak tentu arah. Hujan sekonyong-konyong datang, Kilat menyambar dan guntur bergelegar. Listrik padam, angin berhembus dengan sekencang-kencangnya  sehingga banyak pohon yang tumbang. Atap-atap gedung mulai tersapu angin. Manusia yang tadinya bergerombol lari pontang-panting tak tentu arah dan tujuan. Suara jeritan, tangisan dan guntur menjadi satu, kacau, sangat kacau. Rasyid berlari mencari tempat yang aman diikuti oleh beberapa orang. Tapi Brak.... pohon mahoni disampingnya tumbang dan mengenai beberapa orang. Tolong- tolong.... tolong. Suasana semakin mencekam. Dari  atas langit selatan muncul benda langit yang terbakar. Bummmm. Blaaaar air laut selatan datang bergulung-gulung menyapu apa saja yang ada. Semua orang lari tunggang langgang menuju utara tapi dari utara bumi bergelombang dan pecah, air dan lumpur menyembur dengan derasnya, Bumi bergoncang sekencang-kencangnya,Gunung-gunung meletus dan memuntakan laharnya. Mayat manusia bergelimpangan , berserakan bertempuk tumpuk tak karuan. Rasyid terus berlari dan berlari mencari tempat yang tinggi. Dengan sisa-sisa tenaga dengan nafas yang terputus-putus Rasyid terus berlari sendirian. Jauh sekali  dan tidak tahu ia berada dimana. Sejauh mata memandang hanya kelihatan tumpukan mayat. Suasana gelap gulita, sepi tak terdengar suara apapun. Rasyid berhenti mepelas lelah. Disaat yang bersamaan Rasyid melihat cahaya putih .Dengan sisa tenaga ia berjalan mendatangi cahaya itu. Hati Rasyid berdebar karena yang dilihatnya adalah sebuah masjid yang masih utuh dan tidak hancur. Dilihatnya masjid itu terbuka dan didalamnya keluar sinar yang menyilaukan mata. Rasyid heran,  dilihatnya ratusan sampai ribuan  orang yang berpakaian serba putih sedang duduk rapi. Mereka berdzikir. Badan mereka bergoyang teratur, bagaikan dikomando mengiringi kalimat kalimat yang keluar dari mulutnya. Sungguh pemandangan yang indah yang tidak pernah dilihat oleh Rasyid. Ia mulai terasa tenang dan aman. Diikutinya gerakan gerakan dzikir yang asing baginya. Laa ilaaha ilallah.. laa ilaaha illallah...Tidak ada teriakan, tidak ada jeritan, tidak ada tangisan yang merontah –rontah. Semuanya dilakukan  dengan pelan, tenang  dan khusuk. Rasyid terus mengikutinya tanpa berfikir. Sudah sekian banyak kalimat dzikir diucapkan tetapi belum berhenti juga, pantat rasyid sudah mulai panas. Dia berusaha melihat orang yang disebelah kirinya tetapi orang itu hanyut dalam dzikirnya. Kemudian mata Rasyid dipalingkan ke arah sebelah kanan. Rasyid sangat kaget karena ia merasa sangat kenal degan orang disamping kanannya. Dilihatnya sekali lagi dengan teliti. Dan ternyata orang itu ayah rasyid yang sudah meninggal 10 tahun yang lalu. Spontan Rasyid memeluknya. Mendekapnya dengan kuat.  Ditumpahkannya kerinduan hati yang selama ini ada, tapi orang yang dipeluknya tidak memberikan reaksi. Badannya terasa dingin, beku, tak ada tanda tanda kehidupan. Orang itu  terus berdzikir dan menggoyangkan badannya. Laa ilaaha illallah... laa ilaaha illallaah........... laa ilaaha illallaah. Pak.... ini anakmu ...., ini rasyid pak....ini rasyid ....Kenapa bapak diam saja. Ini Rasyid pak....Rasyid terus memeluknya dengan sangat kuat, ”Syid.. Rasyid ...ayo bangun,bangun... itu beduk adzan subuh sudah berkumandang. Nanti ketinggalan berjama’ah”. Ibu Rasyid mengoyang-goyang tubuhnya. Ia membuka mata.  Bantal guling masih dipeluknya dengan erat. Ia baru sadar bahwa ia tertidur diatas sajadah tempat shalat. ”Ah.rupanya aku bermimpi. ”Mengapa mimpiku aneh banget ya.... kok mimpi kiamat segala”. badannya terasa kaku dan sakit. Seakan akan ia telah melakukan pekerjaan yang berat. Ia cepat cepat bangun dan pergi ke masjid melaksanakan shalat subuh berjama’ah..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: lucida grande; font-weight: bold; color: rgb(204, 51, 204);"&gt;Perempuan Yang Hebat&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;by: Arofah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suasana berisik di sebuah pasar malam membuat kuping gue sangat pengang. Entah itu suara ibu-ibu sedang tawar menawar atau suara permainan komedi putar yang ramai di naiki oleh anak-anak kecil. Tidak hanya itu, di sini penuh sekali orang sampai-sampai gue tidak bisa bernafas. gue dan kawan-kawan kalau tidak karena tugas tiadak mau datang ke tempat ini. Memang asyik tapi untuk anak kecil sedangkan aku empat tahun lagi baru kepala dua. Tak apalah sesekali menjernihkan pikiran yang mumet dengan pelajaran yang hampir setiap hari ulangan harian.    &lt;br /&gt;     “Ri, pulang yuk! Sumpe deh gue gak kuat di sini.” Ucap Teman baik gue yang bernama Ogi. &lt;br /&gt;       “Loe kenapa Gi? Mabok loe?” Tanya Tomo. Dia juga teman baik gue.    &lt;br /&gt;      “Bener banget. Gue sepertinya kena asma nih gara-gara kekurangan oxigen di tambah bauket gila.” Jelas Ogi yang mukanya sudah seperti mayat  hidup.    &lt;br /&gt;      “Ya sudah, sekarang kita pulang biar nanti gue aja yang ngerjain sisa tugasnya.” Jelas gue. &lt;br /&gt;      Gue dan teman-teman keluar dari arena itu dengan terburu-buru.       ”Loe berdua tunggu disini aja gue beli minum dulu.” Ucap gue.       ”Jagan lama-lama gue udah mau mati!” ucap Ogi yang terduduk  pasrah di dekat pangkalan ojek di depan pasar malam itu.    &lt;br /&gt;      Gue berjalan dengan cepat menuju warung yang menjual air mineral. Gue keluarkan uang sebesar seribu lima ratus dan aku mendapatkan sebotol air mineral. Ketika gue mau berbalik ternyata gue tidak sengaja menabrak seorang Nenek-nenek yang berjalan bungkuk.    &lt;br /&gt;     ”Maaf Nek saya tidak sengaja soalnya buru-buru.” ucap gue sedikit seseal. &lt;br /&gt;     ”Tak apa cuk.” ucap Nenek itu dengan memegang muka gue dan memperhatikan mata gue. &lt;br /&gt;     ”Nek, saya duluan ya.” gue pamit.    &lt;br /&gt;      “Sebentar Nak!” &lt;br /&gt;      “Kenapa Nek? Apa ada yang luka?”    &lt;br /&gt;      “Tidak.”     &lt;br /&gt;     ”Lalu?” tanyaku penuh tanda tanya dan bingung.  &lt;br /&gt;     ”Hai anak muda, hidup mu sangat beruntung. Kelak kau dewasa kau akan mendapatkan wanita yang begitu cantik, pintar dalam segala hal. Wanita itu sungguh dekat pada tuhannya. Ia menutupi auratnya hingga tak sedikit pun yang terlihat. Imannya kepada tuhannya tak pernah gugur seperti daun yang berguguran bila di hadapi suatu permasalahan. Wanita itu juga bisa melakukan segala seuatu. Tetapi anak muda, satu hal yang harus kau ingat baik-baik. Jika kau menghadapinya kau harus berhati-hati untuk memilih wanita itu jika tidak wanita itu akan menjadi milik orang lain untuk selamanya. Dan keberadaan wanita itu tidak terlalu dekat dengan mu.” jelas panjang lebar Nenek itu.  &lt;br /&gt;     Gue hanya termenung dengan ucapnnya Nenek itu. Saat gue ingin melontarkan pertanyaan gak taunya Nenek itu sudah tiadak ada sepanjang pengelihatan gue, yang gue lihat hanyalah Tomo yang dari kejauhan melambai tangan ke pada gue. guepun berlari kecil menyaparinya.    &lt;br /&gt;     ”Beli minuman aja seabad, ngapain loe tadi pake acara bengong segala? Nih si Ogi udah gak jes bentuknya.” ngomel Tomo ke gue.       ”Gi, ni minumannya. Maaf ya tadi ada sedikit masalah. Nanti kalau ada waktu gue mau cerita pada loe berdua.” ucap gue sambil membuka tutup minuman itu.      &lt;br /&gt;     Setelah Ogi sedikit baikan, kita semua pergi dari tempat itu dan pulang ke rumah masing-masing. Sesampainya di rumah, perkataan nenek-nenek tadi sangant membingungkan, entah mengapa sampai detik ini gue masih memikirkannya. Gue putuskan untuk memejamkan mata.      &lt;br /&gt;    ”Hai anak muda, hidup mu sangat beruntung. Kelak kau dewasa kau akan mendapatkan wanita yang begitu cantik, pintar dalam segala hal. Wanita itu sungguh dekat pada tuhannya. Ia menutupi auratnya hingga tak sedikit pun yang terlihat. Imannya kepada tuhannya tak pernah gugur seperti daun yang berguguran bila di hadapi suatu permasalahan. Wanita itu juga bisa melakukan segala seuatu. Tetapi anak muda, satu hal yang harus kau ingat baik-baik. Jika kau menghadapinya kau harus berhati-hati untuk memilih wanita itu jika tidak wanita itu akan menjadi milik orang lain untuk selamanya. Dan keberadaan wanita itu tidak terlalu dekat dengan mu.”   &lt;br /&gt;      ”Aaaa......” gue bangun. ”Untunglah cuma mimpi saja.”&lt;br /&gt;   #     #     #        &lt;br /&gt;     ”Hai bro! Kenapa ngelamun aja?” tanya Ogi.       ”Gak, gak kenapa-napa.” jawab gue.     &lt;br /&gt;     ”O iya, tadi loe di cariin sama Nadia tuh, katanya jadi gak wawancarai ketua rohis,taekwondo dengan apa gitu yang baru.” tanya Tomo.    &lt;br /&gt;     ”Ya ampun gue sampe lupa. Ya udah deh gue ke kelas dia dulu sebentar.” Gue langsung keluar dari kelas. &lt;br /&gt;      “Ari, loe udah ngerjain PR mat belom?” tanya Ogi.   &lt;br /&gt;     “Ya ampun gue lupa juga. Eh tapi pelajaran terakhir ini kan? Ya undah itu bisa di atur.” Teman  gue geleng-geleng kepala sedangkan gue langsung ngibrit ke kelas Nadia.    &lt;br /&gt;     “Pagi kak?” sapa anak perempuan dengan penampilan yang nyentrik.  &lt;br /&gt;     “Pagi juga.” Jawab gue. Gak enak juga jalan di koridor anak kelas sepuluh sendirian tapi gak papalah dari pada tugas gue gak kelar-kelar. Akhirnya sampai juga di kelas Nadia.   &lt;br /&gt;     “Maaf bisa tolong panggilin Nadia gak?” suruh gue sama anak cowok yang mau keluar dari kelas itu. &lt;br /&gt;      “Eh, kak Ari kenapa?” tanya Nadia.   &lt;br /&gt;     ”Tanya kenapa? Tadi bukannya nyariin gue?”     &lt;br /&gt;”Oh, iya itu jadi gak wawancarai ketua ekskul buat mading bulan depan?”     &lt;br /&gt;     ”Jadilah gimana kalu misalkan nanti pulang sekolah ngumpul kita bicaraiin tentang ini.” usul gue.     &lt;br /&gt;    ”Oh yaudah.”     &lt;br /&gt;    ”Kasi tau anak kelas sepuluh yang lain kalo gue kasi tau yang kelas sebelasnya.”     &lt;br /&gt;    ”Oke. Makasi.”    &lt;br /&gt;    Gue pun turun kembali ke kelas. Saat di tikungan mau menuju kelas gak taunya gue menabrak seseorang.     &lt;br /&gt;    ”Bruukkk......”    &lt;br /&gt;    ”Aduh....”    &lt;br /&gt;    Gue menabrak perempuan yang membawa buku lumayan banyak. Karena ini kesalahan gue mangkanya gue bantuin.    &lt;br /&gt;    “Maaf ya.” Saat perempuan menatap gue, dia langsung menebarkan senyuman pada gue.  &lt;br /&gt;     “Oh, gak papa kak ini salah saya.” Gue dengan dia sama-sama berdiri.     &lt;br /&gt;     “Duluan ya kak.” Dia pamit. Dia pergi dengan anggun.       Sepulang sekolah, gue pergi ke ruang mading untuk nunguin anak mading yang lain. Gue sendirian, Ogi ada ngumpul di ekskul ilmiah. Tomo ngumpul di taekwondo. Gue??? Tapi, gue masih bingung dengan apa yang di ucapin Nenek-nenek semalam. Apa jangan-jangan Nadia lagi. Eh bener tuh kan katanya perempuan misterius itu cantik, nadia juga cantik. Pintar dia juga rengking satu. Gak kelihatan sedikit auratnya Nadia juga pakai jilbab. Kenapa harus hati-hati memilih kalau sudah jodohkan gak kemana-mana? &lt;br /&gt;    Tok....tok...tok....     &lt;br /&gt;    Suara itu membuyarkan lamunanku.   &lt;br /&gt;    ”Masuk.” suruh gue.    &lt;br /&gt;    "Oya kak ada satu murid baru.” ucap Nadia.     &lt;br /&gt;    ”Bagus dong. Sekarang di mana?” tanya gue.  &lt;br /&gt;    “Katanya masi ada yang harus dia urus sebentar. Mungkin telat.” jawab Nadia.     &lt;br /&gt;    ”Kayaknya udah pada ngumpul semua ya? Kenapa gak kita mulai aja Ri?” tanya wakil ketua mading yang namanya Lisa.    &lt;br /&gt;    ”Lima menit lagi. Karena ada anak baru yang ikut mading.”&lt;br /&gt;     Tok....tok...tok...    &lt;br /&gt;    ”Assalamua’alaikum?” seorang perempuan berjilbab rapi mengucapkan salam.    &lt;br /&gt;    ”Wa’laikum salam.” jawab semua anak mading yang ada.    &lt;br /&gt;     ”Hai semua?” sapa perempuan itu dengan senyuman.    &lt;br /&gt;     ”Kak Ari ini lo anak mading yang baru.”    &lt;br /&gt;    ”Lho, bukannya kamu yang tadi? ”   &lt;br /&gt;    ”Eh kakak yang tadi pagi nabrak saya ya? Kayaknya kita sehati deh bisa ketemu lagi.” Perempuan itu langsung ngasi sesuatu ke Nadia.    &lt;br /&gt;     ”Baik, silakan duduk semuanya. Sebelum kita mulai rapatnya, ada anak baru di ekskul mading ini jadi kita beri waktu untuk memperkalkan diri. Silakan.” suruh gue.    &lt;br /&gt;     ”Terimakasi.” dia berdiri. ” Assalamua’alaikum semuanya. Kakak-kakak maupun temen-temen semuanya. Saya mau memperkenalkan diri. Nama saya, Maryam cukup panggil saya Rya aja gak papa kok. Saya sekelas sama Nadia. Jadi cukup sekian terima kasih.” duduk kembali.    &lt;br /&gt;     ”Nama gue Ari. gue disini sebagai ketua mading.”    &lt;br /&gt;     “Gue Lisa. Wakil ketua. Yang sebelah kiri gue Boby sekertaris1, sebelahnya Doni sekertaris2 dan yang lainnya kenalkan.” Ucap Lisa.      “Kita mulai rapat kali ini. Rencananya bulan depan kita mau nerbitin hasil wawancara dari masing-masing ekskul tapi sampai saat ini belum ada yang wawancarai. Selain itu ada masalah lagi bulan depan tinggal besok dan mading ini harus terbit awal  bulan. Ini semua karena kebanyakan libur Idul Fitri. Jadi menurut kalian bagaimana?” jelas gue.     &lt;br /&gt;    ”Maaf kak, gimana kalo kita panggil aja ketua ekskul masing-masing ke sini terus kita wawancarai satu persatu.” usul Tina.      &lt;br /&gt;    ”Gak mungkin Tina soalnnya kita lagi nguber waktu. Gue rasa untuk seharian wawancarai tu masing-masing ekskul gak akan cukup.” jelas Lisa.     &lt;br /&gt;     ”Emangnya ada berapa ekskul kak?” tanya Maryam.      &lt;br /&gt;     ”Sekitar sepuluh sampai dua belas.” Jawab Lisa.     &lt;br /&gt;     “Segitu ya! Pasti anak mading lebih dari itu kan?” tanya Maryam.      ”Maksudnya?” tanya Ari.     &lt;br /&gt;     ”Gini lo. Katanya mading buat bulan depan itu kepepet dan nguber waktu. Aku punya ide jadi mulai besok satu persatu dari anak mading secara bersamaan mewawancarai masing-masing ekskul jadi pasti selesainya barengan juga dan nggak ngebuang waktu.”   &lt;br /&gt;     ”Gue ngerti dan setuju dengan usul Maryam. Yang lainnya gimana?” tanya Lisa.    &lt;br /&gt;     ”Setuju....” ucap semuanya.&lt;br /&gt; #    #     #     &lt;br /&gt;     ”Akhirnya mading kita kali ini banyak yang baca. Makasi ya buat semuannya yang sudah ngebantuin mading ini.” ucap Ari.&lt;br /&gt;     ”Terus tema buat bulan Depan apa?” tanya Doni.&lt;br /&gt;     “Ntar deh gue pikirin lagi. Yang jelas yang bagus.”&lt;br /&gt;     “Ya iyalah.” Lemes Nadia.&lt;br /&gt;     “Maryam, lagi ngapain loe?” tanya Ari.&lt;br /&gt;     “Oh, ini lagi buat burung.”&lt;br /&gt;     ”Burung?” ucap semua anak mading dengan bingung.&lt;br /&gt;     ”Iya burung.”&lt;br /&gt;     ”Buat apa?” tanya Ari.&lt;br /&gt;     ”Gak buat apa-apa sih. Tapi  maryam jadi punya ide buat mading bulan depan.” jawab Maryam.&lt;br /&gt;     ”Apa?” tanya semuanya.&lt;br /&gt;     ”Tentang kesenian. Jadi bikin angket perkelas untuk nentuin kesenian apa yang paling di minati. Setelah tau apa, misalnya musik dan nanti kita bahas darimana asal musik siapa yang nyiptainnya dan sebagainya. Tapi sih terserah ini kan baru ide aja. Kalo ada yang lebih bagus sih ya mendingan yang lebih bagus.” jelas maryam panjang lebar.&lt;br /&gt;     ”Ri, menurut gue sih bagus juga itu idenya. Lagian kan kita selama ini belum pernah bikin tema atau judul seperti itu.” jelas Lisa.      ”Yang lainnya gimana?” tanya yang lainnya.&lt;br /&gt;     ”Kita coba aja dulu. Lagiankan masih panjang waktunya.” ucap Nadia.&lt;br /&gt;     ”Oke.”  Sebulan kemudian.&lt;br /&gt;     ”Ari...” teriak Lisa.&lt;br /&gt;     ”Ada apa sih teriak-teriak?” tanya Ari.&lt;br /&gt;     ”Liat nih Ri. Biasanya ni kotak saran kosong kalau pun ada palingan  cuma satu tapi kenapa sekarang banyak begini?”  tanya Lisa kebingungan.&lt;br /&gt;     ” Iya juga. Tapi itu masi mending Lis liat nih di meja gue!”      ”Kenapa ya?” lisa bertanya-tanya.&lt;br /&gt;     ”Udah sebagian gue baca. Kebanyakan sih mereka seneng dengan apa yang kita terbitin mulai dua bualn yang lalu dan mereka berharap kita bisa menerbitin yang temanya yang bagus.”&lt;br /&gt;     "Kalo gitu sekarang mading kita berjaya dong!” nyambung Tina.      ”Bisa di bilang sih iya. Tapi gue sekarang lagi pusing mikirin ulangan yang setiap hari jadi gue minta bantuan loe pada ya mikirin tema buat bulan depan.” Ucap gue kualahan.&lt;br /&gt;     “Pagi.” Sapa Maryam. “ Kenapa? Kok banyak surat begini?” tanyanya bingung.&lt;br /&gt;    “Ini semua berkat loe Yam.” Semua senyum.&lt;br /&gt;     “Kok Maryam emangnya kenapa?” Maryam bingung.&lt;br /&gt;     “Mereka semua bikin saran ke mading kita supaya mading kita ini lebih bagus lagi.” Jelas Tina.&lt;br /&gt;     “Wah bagus dong. Lagian bukan Maryam aja kali yang lainnya juga bagus.” Maryam merendah diri.&lt;br /&gt;      Sepulang sekolah gue, Ogi, dan Tomo makan bareng di kantin.      ”Mau ngomong apa Ri?” tanya Tomo.&lt;br /&gt;     ”Loe masih ingetkan pas di pasar malam waktu itu.” tanya Ari.      ”Kenapa emangnya?” sahut Ogi.&lt;br /&gt;     ”Waktu itukan gue beli minuman buat Ogi, masa ya gue ketemu dengan Nenek-nenek padahal gue udah minta maaf dengan dia eh... malah dia bilang begini sama gue ”Jika gue udah dewasa nanti gue dapet jodoh perempuan yang cantik, pinter, berjilbab tapi kata nenek-nenek itu gue harus hati-hati nyari itu cewe.” Gue harus gimana dong? Semenjak itu terjadi, gue selalu mimpiin itu.”      ”Ya jelas lah lo mimpiin itu. Abisnya loe mikirin itu terus.” jelas Ogi.&lt;br /&gt;     ”Ada lagi yang dia omongin?”&lt;br /&gt;     ”Ada.”&lt;br /&gt;     ”Apa?” tanya Ogi sama Tomo.&lt;br /&gt;     ”kalau gak salah Jarak antara gue sama dia itu dekat, mungkin kayak gue kenal dengan dia begitu juga sebaliknya.”&lt;br /&gt;      ”Ada lagi?”&lt;br /&gt;     ”Gak.” Ari menggelengkan kepala.&lt;br /&gt;     ”Cewek berjilbab yang deket sama loe setau gue cuma Nadia. Dia kali. Loe suka gak sama dia?” tanya Tomo.&lt;br /&gt;     ”Gue pikir sih Nadia juga tapi gue masih ragu. Soalnya nenek-nenek itu bilang gue harus hati-hati milihnya kalo ngak ntar cewek itu jadi milik orang lain. Maksudnya?”&lt;br /&gt;     “Mungkin loe harus ngerebut hati Nadia sebelum orang lain.” Jawab Ogi.&lt;br /&gt;     “Iya juga ya!” Ari mikir-mikir.&lt;br /&gt;     “Gue dukung deh Ri. Iya kan Tom ? ” tanya Ogi&lt;br /&gt;     ”Betul banget”&lt;br /&gt;      ”Ri, mading kitakan ada anak baru tuh gue rasa dia juga cantik feminin gitu loh.”&lt;br /&gt;     ”Ah, dasar Tomo gak bisa diem kalao ngeliat cewek cantik.”&lt;br /&gt;  #     #     #&lt;br /&gt;      Setelah sebulan gue PDKT sama Nadia, gue akhirnya jadian juga sama Nadia. Tapi kenapa setelah gue jadian sama Nadia tetap aja nenek itu selalu hadir dalam mimpi gue lebih sering dari sebelum jadian. Saat gue habis ngedate sama Nadia hari sabtu malam, gue nganterin Nadia pulang ke rumahnya, tiba-tiba ada sekelompok pria yang berwajah sanganr memberhentikan mobil yang sedang gue kendarain.&lt;br /&gt;     Tok....tok....tok....&lt;br /&gt;     Salah satu pria dari mereka mengedor-gedor kaca jendela sebelah gue. Nadia sudah ketakutan.&lt;br /&gt;     ”Heh jangan pura bego deh buka ayo pintunya?” suruh pria yang mengedor jendela gue.&lt;br /&gt;     ”Ri, gue takut banget. Udah buka aja pintunya kasi aja apa yang dia mau dari pada nyawa kita taruhannya.” Nadia berseru.&lt;br /&gt;     Kita berdua  turun dari mobil seketika itu juga, tas Nadia di rampas kemudian HP gue dia ambil dari saku setelah itu gue di pukulin habis-habisan sedangkan Nadia hanya berteriak.&lt;br /&gt;     ”Ari awas Ari awas...” Gue terjatuh dan gak berdaya.&lt;br /&gt;      Nadia di dorong ke tengah jalan dan mau di perkosa gue langsung nolongin Nadia tapi mereka malah memukuli gue dan dia mengambil batu besar lalu menimpuk gue dan Nadia. Gue gak betindak hanya melindungi nadia tapi kenapa tak terjadi apa-apa. Gue coba membuka mata untuk melihat yang terjadi.&lt;br /&gt;     ”Hei kalo mau ngerampok jangan sama orang yang lemah. Sini lawan gue.”&lt;br /&gt;     "Maryam. Maryam ngapain di sini?"tanya Ari.&lt;br /&gt;    “Kak Ari sama Nadia pergi sana biar Maryam yang ngatasin ini.” ucap Maryam.&lt;br /&gt;     ”Loe?” tanya Ari.&lt;br /&gt;     ”Gak usah pikirin Maryam. Maryam bisa ngatasin ini mendingan cepat pergi sana. Tapi jangan lupa lapor polisi.” ucap Maryam sambil cengengesan.&lt;br /&gt;     Terimakasih Maryam dan maaf gue ninggalin loe. Gue pergi dan mencari pertolongan.&lt;br /&gt;     ”Hei kalo ngerampok liat orangnya dulu.”  Gue liat Maryam menghabisi perampok itu tanpa ampun. Tak lama kemudian polisi datang.&lt;br /&gt;     Polisi pun datang ke TKP aku dan Nadia sedang di obatin dan semenjak gue kembali gue gak melihat Maryam.&lt;br /&gt;     ”Pak tadi bapak liat anak perempuan pake jilbab besar ke sini?” tanya gue.&lt;br /&gt;     ”Maryam?” tanya balik polisi itu.&lt;br /&gt;     ”Iya pak.”&lt;br /&gt;     ”Dia sudah pergi dari tadi. Perempuan yang perfact.” Polisi itu langsung pergi.&lt;br /&gt;#     #     #&lt;br /&gt;      “Hai anak muda sesungguhnya kamu telah kehilangan seorang perempuan yang tadinya calon pendampingmu. Aku sudah katakan padamu. Kau harus hati-hati memilih. Tetapi kau memilih wanita yang sangat berbeda jauh dengannya. Kau sudah memilih takdirmu dan waktu tidak bisa kembali terulang.”&lt;br /&gt;     “Tidaaaaaakkkk.....”&lt;br /&gt;     Saat di sekolah gue menanyakan pada kedua sahabat baik gue.      “Jadi menurut loe gue harus bagaimana” tanya gue.&lt;br /&gt;     “Polisi itu bilang perempuan perfact. Apa jangan-jangan Maryam semua yang ngabisin itu perampok?” tanya Ogi.&lt;br /&gt;     ”Iyalah. Gue berhutang budi sama Maryam, bukan hanya dalam mading aja dia juga udah nyelamatin nyawa gue dan Nadia.”&lt;br /&gt;     ”Gue rasa loe emang keliru Ri. Guekan udah nanya sama loe waktu itu apa ada yang kurang dari ucapan Nenek itu tapi loe bilang ga ada. Tapi kalo nggak keliru masa iya bisa salah!. Menurut gue sih masih ada yang kurang kalo nggak gak mungkin loe keliru.” Tomo menganalisa.&lt;br /&gt;     ”Braaakkkkk!!!” Ari memukul  meja.&lt;br /&gt;     ”Kenapa lo Ri?” tanya Ogi.&lt;br /&gt;     “Bener Tom ada yang kurang. Gue baru inget kalo Nenek-nenek itu pernah bilang sama gue kalu perempuan yang nenek itu maksud adalah perempuan itu bisa...bisa... apa ya gue jadi luapa!”      ”Loe emang orangnnya pelupa!” ejek Ogi.&lt;br /&gt;     ”O iya perempuan itu bisa melakukan segala susuatu. Segala susuatu.”&lt;br /&gt;     ”Tuh kan Ri. Walau itu kata gak berguna tapi ternyata itu lebih penting.” ucap Ogi. ”Terus. Si Nadia itu bisa ngapain aja? Sudah terbukti kalau dia gak bisa bela diri.”&lt;br /&gt;     “Menurut gue Maryam deh yang di maksud Nenek itu Ri. Ya... walau gue tau sedikit tentang dia, awalnya gue kira dia itu femenin banget karena dia ikut ekskul kuliner tapi yang bikin gue kaget pas dia ikut sekali dia masuk ekskul taekwondo dan dia sudah sabuk hitam di atas gue. Bayangin donk!.” Ucap Tomo.&lt;br /&gt;     “Sebentar, gue baysngin dulu!” Ogi melucu.&lt;br /&gt;     “Gue rasa walau loe udah telat tapi dari pada loe penasaran menidingan loe coba deketin atau PDKT dengan dia tapi jangan sampe ketauan Nadia.” Jelas Tomo.  Sepulang sekolah, gue ngambil motor di parkiran gak sengaja gue bertemu Maryam di parkiran motor juga.&lt;br /&gt;     “Hai maryam.”&lt;br /&gt;     “Hai juga.”&lt;br /&gt;     Dia membuka jok motornya untuk mengambil helm dan jaket.      “Maryam.” Panggil gue.&lt;br /&gt;     “Iya.”&lt;br /&gt;     “Yang kemarin terima kasih ya!”&lt;br /&gt;     ”Oh, sama-sama. Namanya juga manusia kan harus saling tolong menolong.”&lt;br /&gt;    ”Iya juga. Oiya, abis ini mau ke mana?”&lt;br /&gt;     ”Pulang.”&lt;br /&gt;     ”Sama dong.”&lt;br /&gt;     ”Duluan ya kak!”&lt;br /&gt;      Sesampai di rumah gue coba SMS-an dengannya.&lt;br /&gt;Hai Maryam lagi ngapain? Menurut loe tema mading bulan Depan apa ya? -Ary-&lt;br /&gt;      Sepuluh menit kemudian dia baru balas SMS gue.&lt;br /&gt;Maaf kak! Tadi ,M srysm habis sholat. Gimana kalau  tentang makanan yang Di sukai dan metodenya sama  Kaya bulan lalu.&lt;br /&gt;      Esok siang, gue coba untuk membahas tema bulan depan pada anak  mading semunannya.&lt;br /&gt;     ”Menurut kalian gi mana tentang makanan yang di sukai buat tema bulan depan?” tanya gue pada anak mading.&lt;br /&gt;     ”Boleh juga idenya tu. Manusia gak mungkin kalau gak makan.” Jelas Bom-bom.&lt;br /&gt;     “Yang lainnya setuju? metodenya sama kaya bulan lalu.”      “Setuju.” Ucap semuannya.&lt;br /&gt;      Sepulang dari rapat, mumpung Nadia gak masuk hari itu, gue coba bicara dengan Maryam.&lt;br /&gt;     “Maryam. Gue ingin ngomong sedikit bisa kan?”&lt;br /&gt;     ”Bisa.”&lt;br /&gt;    ”Gue kan ketua di mading ini jadi gue ingin nanyai biodata loe. Ntar kalo ada apa-apakan jadi gampang menghubungi atau apa gitu. Yang lainnya juga gitu.”&lt;br /&gt;     “Boleh.”&lt;br /&gt;     “Hobi loe apa?”&lt;br /&gt;     “Gue suka melakukan segala sesuatu.”&lt;br /&gt;     Druaaarrrr....&lt;br /&gt;     Seperti terdengan suara geledek yang besar di gendang telingaku dan teringat ucapan Nenek-nenek itu.&lt;br /&gt;     ”Kak Ary. Kenapa?” Maryam menyadarkan gue.&lt;br /&gt;     ”Gak papa kok.”&lt;br /&gt;    Sore itu gue menanyakan semua pada meryam. Dan anehnya semua pembicaraan gue tadi dengannya itu semua sama persis yang di katakan semua dengan Nenenk itu. Gue juga bilang dengan Ogi dan Tomo. Ogi nganjurin gue untuk mengatakan semuanya yang terjadi pada Maryam apa pun yang akan terjadi.&lt;br /&gt;      Esoknya gue sudah putus asa nyariin Maryam soalnya gak ketemu-ketemu. Gue putuskan untuk besok aja ngomongnya. Sore ini sepertinya akan hujan langit mulai mengitam. Gue jalan menuju rumah tiba-tiba di tengah perjalanan hujan turun dengan deras. Jadi gue berteduh di halte terdekat. Gue mendengar suara yang mirip seperti  suara Maryam. Gue menoleh ke suara itu ternyata benar maryam juga sedang berteduh di halte ini. Gue samperin dia.&lt;br /&gt;     ”Maryam.”&lt;br /&gt;     ”Eh kak Ari. Berteduh juga?”&lt;br /&gt;     ”Iya nih abisnya hujan deres banget jadi terpaksa deh. Gue boleh duduk di sini?”&lt;br /&gt;     “Silakan.”&lt;br /&gt;     “Nih minumannya Neng.” Pedagang itu memberikan sebuah minuman soda pada Maryam.&lt;br /&gt;     ”Minum kak.” Tawar Maryam.&lt;br /&gt;     ”Thank’s.. Maryam?” panggil gue.&lt;br /&gt;     “Ya. Kenapa? Ngomong aja.”&lt;br /&gt;     “Em, gue sendiri bingung gimana harus berbicara, memulai atau apa gitu.”&lt;br /&gt;     "Kenapa bingung?”&lt;br /&gt;     “Beberapa bulan yang lalu gue bertemu dengan seorang Nenek-nenek gue baru inget kata-kata dari dia.”&lt;br /&gt;     “Nenek-nenek itu bilang apa?”&lt;br /&gt;    ”Nenenk itu bilang : Hai anak muda, hidup mu sangat beruntung. Kelak kau dewasa kau akan mendapatkan wanita yang begitu cantik, pintar dalam segala hal. Wanita itu sungguh dekat pada tuhannya. Ia menutupi auratnya hingga tak sedikit pun yang terlihat. Imannya kepada tuhannya tak pernah gugur seperti daun yang berguguran bila di hadapi suatu permasalahan. Wanita itu juga bisa melakukan segala seuatu. Tetapi anak muda, satu hal yang harus kau ingat baik-baik. Jika kau menghadapinya kau harus berhati-hati untuk memilih wanita itu jika tidak wanita itu akan menjadi milik orang lain untuk selamanya. Dan keberadaan wanita itu tidak terlalu dekat dengan mu.”&lt;br /&gt;    ”Lalu apa yang terjadi?”&lt;br /&gt;     ”Aku berfikir teman dekat aku itu yang berjilbab Cuma Nadia dan aku juga bilang pada ke dua sahabatku mungkin Nadia. Jadi gue putuskan gue jadian sama Nadia tapi tiba-tiba kejadian itu terjadi. Malam itu juga Nenek itu masuk dalam mimpiku dan dia berkata: Hai anak muda sesungguhnya kamu telah kehilangan seorang perempuan yang tadinya calon pendampingmu. Aku sudah katakan padamu. Kau harus hati-hati memilih. Tetapi kau memilih wanita yang sangat berbeda jauh dengannya. Kau sudah memilih takdirmu dan waktu tidak bisa kembali terulang. Sungguh Yam gue gak tau harus bagaimana saat itu. Terus gue bilang lagi pada sahabat gue dan setelah dianalisa oleh Tomo dan Ogi, di mengira kalau perempuan yang di maksud Nenek itu adalah teman yang gak deket sama gue.”&lt;br /&gt;     ”Lho emang benarkan.”&lt;br /&gt;     ”Benar?” tanya gue bingung.&lt;br /&gt;     ”Coba deh kakak ulangi kalimat yang terakhir.” suruh Maryam     ”Jika kau menghadapinya kau harus berhati-hati untuk memilih wanita itu jika tidak wanita itu akan menjadi milik orang lain untuk selamanya.”&lt;br /&gt;     ”Terus?”&lt;br /&gt;     ”Gak ada lagi.”&lt;br /&gt;     ”Ada kok. Yang keberadaan wanita itu tidak sangat dekat. Bukannya itu yang tadi kakak ucap?”&lt;br /&gt;     ”Ya ampun Maryam. Ternyata benar dugaan temen gue.”&lt;br /&gt;     ”Loe udah tau siapa dia?”&lt;br /&gt;     “Gue udah tau.” gue berfikir sejenak.” Loe mau tau Yam?”      “Siapa ? “&lt;br /&gt;     “Loe Maryam.’’&lt;br /&gt;     “Hah, Maryam. Salah kali Kak. Kenapa harus Maryam kan banyak wanita yang lain.’’&lt;br /&gt;     “Gue tau dan kata Nenek itu juga gue udah telat untuk mendapatin Maryam jadi gue cuma berusaha. Maryam mau jadi pacar gue ?“&lt;br /&gt;     “Hahah, Kak Ari itu lucu. Kakakkan sudah jadian sama Nadia. Lagian itu kan cuma omongan dari orang lain dan emang sih kita harus mempercacai orang lain tapi ya menurut Maryam jangan segitunya. Jujur Kak, misalkan Maryam juga suka dengan kak Ari tetap aja Maryam gak mau pacaran karena itu dosa dan di tambah cinta itu gak bisa dipaksakan. Apalagi kakak baru menanam cinta bersama Nadia dan itu jangan di hancurin karena cinta itu bukan permainan. Maryam yakin kalau semua perempuan itu hatinya sangant sensitif. Hati perempuan itu bagaikan berlian dan jika ada yang menyakiti hati perempuan maka sama aja bagai berllian yang hancur berkrping-keping. Dan satu lagi jika memang yang di katakan Nenek itu benar kan jodoh atau pasangan setiap manusia itu tidak akan pergi jauh dan sudah di tentukan sama Allah. Dan Maryam gak mau cuma karena nenek itu dan Maryam kakak hancurkan cinta kakak dengan Nadia.”&lt;br /&gt;      Perkataan yang di ucapkan Maryam itu ada benarnya dan menggerakkan hati gue. Dan gue putuskan untuk menjaga cinta gue dengan Nadia. Dan ada hikmah dengan kejadin ini semua yaitu gue harus bisa memilih jalan hidup gue dengan hati-hati. Setelah ini juga gak hanya ekskul mading aja yang berjaya tapi setiap ekskul yang di ikuti maupun yan tidak  ikuti Mryam menjadi jaya dan semakin sedikit persentase anak murid yang tidak ikut sama sekali ekskul. Saat kenaikan kelas yang mendapat ranggking satu dari seanggkatanya yaitu Maryam yang tadinya Nadia di semester satu. Dan saat pemilihan ketua OSIS saat kelas dua, Maryam lah yang terpilih. Suara yang memilih maryam sangat jauh dari yang lain. Gue cukup puas bisa mengenal Maryam dan gue rasa bukan gue aja yang bilang seperti ini  ”Memang pantas Maryam mendapatkan semua itu. Perfact girl, altough no somebody perfact in wold.”&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1968987199556825028-5542006252614443196?l=full-stories.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://full-stories.blogspot.com/feeds/5542006252614443196/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://full-stories.blogspot.com/2009/09/cerpen-islami.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1968987199556825028/posts/default/5542006252614443196'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1968987199556825028/posts/default/5542006252614443196'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://full-stories.blogspot.com/2009/09/cerpen-islami.html' title='Cerpen Islami'/><author><name>Full Beautifully Stories</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10171057672386779649</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1968987199556825028.post-1144352467801227250</id><published>2009-09-07T23:19:00.000-07:00</published><updated>2009-09-07T23:29:50.950-07:00</updated><title type='text'>Cerpen Cinta</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(255, 0, 0);font-size:100%;" &gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;Cinta Online&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;by: Ridho&lt;br /&gt;"Dunia maya".itulah tempat yang pantas untuk kehidupanku sekarang,yang penuh kekosongan dan kehampaan.karna disana pulalah aku berbagi segalanya,sedih dan kesepianku yang tak berujung dari balik layar computer kesayanganku,bahkan mungkin kutlah melupakan dunia nyata yang tlah merebut sgalanya dariku .Siapalah aku ”CELLO”seorang remaja yang menuju kedewasaan ,yang kutak yakin memiliki masa depan kelak .hanya sisa-sisa kenangan,kasih sayang dan cinta yang mungkin akan lenyap dari hadapku.semua berawal dua tahun lalu ,tragedi yang tak pernah terlupakan dihidupku.dimana kumasih memiliki ayah,ibu dan tia kekasihku,merekalah tujuan hidupku.kami ingin sekedar mengisi liburan kami ,berkumpul dan mengukir kenangan terindah.aku masih ingat betul tawa canda,kebahagiaan dan senyum tanpa kesedihan ,hingga tragedi berdarah itu terjadi.mobil yang kami tumpangi ditabrak truk dari lajur kanan yang tiba-tiba oleng,sehingga mobil kami terhempas kejurang ,kutak tau lagi tubuhku pun tak dapat kugerakan ,indra yang masih berfungsi ditubuhku hanyalah penglihatanku .keadaan dimobil saat itu benar-benar diluar nalar.kuhanya bisa melihat  tia ayah dan ibuku yang bersimbah darah segar,serta warga yang mulai tampak berusaha menyelamatkan kami.&lt;br /&gt;  ”tolong !”teriaku tanpa suara dan pandanganku pun mulai lenyap seketika itu.saatku sadar tubuhku tlah tersambung dengan selang infus dan terbaring lemas dikasur rumah sakit yang tipis.tapi entah kenapa kutak dapat merasakan kakiku.tangisku takdapat terbendung lagi saat kutau tia ,ayah dan ibuku tlah meninggal karna pendarahan yang parah.apalagi dokter memvonis kedua kakiku lumpuh ”gak mungkin,ini gak mungkin !!!! teriaku disertai tangis yang menghambur dahsyat.Ku kini tinggal dengan kakak perempuanku dari Sidney,yang kurasa dia tak pernah padaku.hari-hari kuhabiskan dikursi roda dan computer dua puluh inciku.tanpa pernah kumelihat dunia luar lagi.bahkan kukehilangan teman dunia mayaku”MRS.LOLI”dia orang yang selalu mendengar keluh kesahku ,kebencian ku akan kenyataan dunia,dan mensupportku dikala sedihku . tapi sudah berapa hari status fbnya offline kupikir kutlah kehilangan dia.dihari itu tak biasanya kakakku memanggilku”cello, cepat kesini !” panggilnya dan kemudian mengenalkan ku pada seseorang yang kurasa kusangat megenal sosoknya walau selama ini hanya dari wabcam komputerku .“mrs.loli ? ucapku.dengan kagetnya .kakakku pun bingung melihat keakrabanku dengannya dia hanya bilang “gak kusangka adikku makhluk dunia maya ini bisa mengenalmu? celanya .sambil menggelengkan kepalanya khas orang bingung Kuhanya menampangkan wajah sedikit kesalku dan menatap senyum mrs loli yang kuyakin ia tujukan padaku.&lt;br /&gt;  Hari-hariku terasa lebih terang setelah kehadiran “MIA”(nama asli mrs.loli).kusudah banyak mengenalnya begitupun dia ,yang kutau mia gadis yang baik,tulus dan paling penting dia dapat menerima kondisiku.dia berasal dari Australia,ia ingin menghabiskan liburannya dijakarta untuk mengunjungi ibunya,sedangkan ayahnya tinggal diaustralia . entah mengapa selama didekatnya aku merasakan hidupku yang dulu.ia seperti cahaya yang hilang didiriku dari masa lalu ,dan mengajarkan bahwa hidup adalah perjuangan bukan keputusasaan tiada akhir.dihari itu mia melakukan sesuatu yang tak pernah lagi kulakukan selama bertahun-tahun”mengajaku kedunia luar.kupun mau karna kupercaya pada mia.Tapi hari ini hari terakhirku dapat melihat wajahnya.karna besok hari kepergian mia kembali kesidney ,yang kubingungkan ia mengajaku kekebun teh,ia bicara dibalik kursi rodaku”kamu pernah bilang padaku ,kamu benci dengan kenyataan dunia,kan?mendekatkan wajahnya disampingku.            &lt;br /&gt;   “iya,memang begitu,”jawabku .kutak bisa menyembunyikan ketakutanku kehilanganya saat itu.&lt;br /&gt;“lihatlah dedaunan ini ,daun teh seperti kehidupan kita ,bila dipetik ia akan kembali tumbuh .begitu juga dengan hidup ada saatnya kita jatuh dan ada juga saatnya kita bangkit kembali,”tukasnya padaku.     Tapi aku mengatakan”percuma bila kebangkitan itupun akan pergi ! tuntutku dengan percikan air mata.saat itu kilihat mia terdiam sesaat menahan kesedihannya akan diriku .lalu ia mulai berucap “aku gak akan pergi lama ,aku akan kembali sebagai kebangkitanmu ,tepat ditempat ini ,itu janjiku,”ia langsung beralih kehadapku menyeka air mataku lalu mencium bibirku dan memeluku tuk terakhir.   &lt;br /&gt;   2 tahun kemudian.....&lt;br /&gt;  Tahun demi tahun kutunggu kedatangannya ditempat itu,namun belum kulihat hadirnya .dari terbit sang pajar dan tenggelamnya bias cahaya mentari kembali keperaduannya.hingga hari terakhir itu saatku mulai tak percaya akan kebangkitan itu ."takdir begitu kejam," jeritku dalam hati.saat kakakku ingin mengantarkanku kemobil untuk pulang .tiba-tiba ada suara teriakan "tunggu !! kudengar itu ,kumencoba menghentikan kursi rodaku.dan menujukan pandanganku kearah suara itu.&lt;br /&gt;  Itu mia sosok kebangkitan yang tlah ku tunggu lama akan hadirnya ,mia berlari kearahku dan memeluku lalu berucap indah"ku menepati janjiku kan? ku bukan akan hanya menjadi cahaya kebangkitan mu ,tapi akan menjadi pelindungmu selamanya."saat itu kusadar dibalik pahitnya hidup ada setitik cahaya,dan bila kita menyadari cahaya itu akan menjadi jalan menuju kebahagiaan.berjuang untuk hidup bukan kesia-siaan tapi keajaiban yang tertunda.kuterus percaya akan hidup bersama mia disisiku selamanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(51, 255, 51);"&gt;Kabut&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 255, 255); font-weight: bold;"&gt; Cinta&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;by;Admin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kala cinta harus berkata yang terasa hanya kenangan belaka. Lamunan dan hayalan hanya sebagai peneman tidur yang akan bertukar dengan mimpi yang indah. Senyuman yang terpancar hanya sebagai penghias wajah. Mentari yang bersinar hanya akan membantu aku untuk menceritakan kisah-kisah hidupku.Biar bintang-bintang menghiasi malam namun malamku begitu kelam, hingga sinar-sinnarnya akan hilang tertukar kegelapan hatiku. Hidup yang penuh dengan bunga-bunga indah seakan bertukar dengan duri-duri sang mawar yang tiap saat menikam kulitku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku seoarang pemuda yang sudah mulai menggerti cinta, memahaminya, dan merasakanya. Namun semua itu hanya aku tata rapi didalam hatiku. Aku tutup dengan aliran darahku hingga setiap kali hatiku terasa panas, darahku akan mengalir menyejukanya. Aku pernah jatuh cinta bahkan cintaku pernah terbalas. Bagiku kisah itu adalah kisah yang paling indah dalam hidupku. Seorang bidadari datang dan memberi aku berjuta kebahagiaan. Memberi air kehidupan yang menyejukan hatiku.Takdir yang telah memisahkan kami. Memberikan aku luka yang lebih sulit aku lupakan.Namanya Tia, gadis kecil yang baik hati. Seseorang yang pernah mengisi hari-hariku. Aku masih ingat pertama kali dia menyetakan cinta padaku yang aku balas dengan curahan air mata. Aku tersentuh oleh keindahan kata yang keluar pelan. Memeluk wanita untuk pertama kali dalam hidupku. Tia adalah seorang wanita cantik yang tinggal dekat rumahku, dia keturunan orang berada di komplek aku yang setiap saat akan mengendap-endap masuk kamarku. Enam bulan bulan aku telah hidup dalam lautan cintanya. Malam2 kami hiasi dengan pertemuan.&lt;br /&gt;Teringat jelas ketika dia biLang “ sayang biar ada seribu kumpang yang akan hinggap di kelopak bungamu ini, biar ada seribu kumpang yang berkakikan emas yang memohon untuk hingap di kelopak bungamu ini, satupun dari antara mereka tidak akan ijinkan. Karma aku telah memiliki kumbang yang berhatikan emas”kata itu telah aku simpan dalam hatiku, dan akan terucap dalam hatiku setiap kali aku mau memejamkan mata. Kisah cinta itu harus terputus saat orang tua tiA mengetahu bahwa putrinya telah jatuh cinta pada seorang yang tak punya kaki.Malam itu tia datang dan masuk kekamar aku lewat jendela. Aku buka dan aku melihat senyum manis sang bidadariku. “ boleh masuk kan sayang”katanya pelan. Sambil memutar balik kursi rodaku aku berucap” masuklah aku menunggumu dari tadi!!”Tia masuk dan duduk di tepi ranjangku.”sayang dah mau tidur?” katanya pelan.” Tanpa menunggu jawaban dia memegang tanganku.&lt;br /&gt;Tersa tanganya kirinya mengangakat bahuku. Aku ditariknya dari kursi roda dan aku berbaring menghadap kearahnya.“maaf aku telah merepotkanmu” kataku pelan sambil memandangi diding kamarku. “tidak apa2, aku malah senang jika bersamamu. Karma aku mencintaimu”.Katanya sambil duduk di tepi kasurku.Aku memutar tubuhku kearah jendela hinnga aku membeakanginya “ suatu saat kau harus meningalkanku dan melupakanku, aku lumpuh dan kau harus hidup bersama orang yang bisa membahagiakanmu”kataku. “yang bisa membahagiakanku hanya kamu Ben, kau yang akan memberiku arti hidup, aku tak butuh apa-apa selain hatimu, selain cintamu, aku akan hidup demi kamu dan kamu harus hidup demi aku. Jangan pernah katakana hal itu lagi ben, aku mencintaimu dengan sepenuh hatiku.”Aku berputar kugengam tanganya “ aku mencintamu juga dan , aku sayang kamu lebih dari apapun, aku ingin kau selalu menimani hari-hariku. Tapi aku takut aku akan mengecewakanmu.” Tia membalas gengamanku, dia memandang mataku mataku, menyentuh bibirku dan aku kecupan pertama. Kecupan bibir terindah dalam hidupku.&lt;br /&gt;Saat wajahnya mendekat aku merasa tetesan air matanya berjatuhan di atas mataku hingga air matanya mengalir bersatu bersama air mataku.  Kala aku sedang terbuai dalam indahnya cinta, tiba2 pintu kamar diketuk. Suara yang sangat keras telah memberitahuku bahwa sang gadis dalam bahaya.” Bapakku…bappakku…”kata tia denga sangat pelan.” Aku terduduk di atas ranjangku. Tanpa banyak kata Tia langsung bersembunyi di bawah kolong tidurku. Dengan pelan-pelan aku mencoba menaiki kursi rodaku. Setelah itu aku menuju pintu dan membukanya. Bentakan demi bentakan. Hinaan demi hinaan terucap dan melekat ditelingaku. Pak bahyu ayahnya tia langsung mengamuk dan mencari-cari tia. Dia memegang leherku dan mengancam akan membunuhku kalau aku tetap berhubungan dengan tia.” Tia dimana? Bentaknya. Papaku datang menghampirinya.” Heh bung… jangan asal nuduh aja, anakmu tak ada disini. Cepat kau keluar atau kau akan kuhajar disini.&lt;br /&gt;Suasana makin panas saat mamanya tia datang dan menendang kursi rodaku hingga aku terbalik.”kau piker aku tidak tahu kalau anakmu yang tidak berkaki ini sedang memelet putriku. Sekarang cepat dimana Tia kau sembunyikan, kau pasti suadh main dukun ya..” hinaan demi hinaan terdengar nyaring dari kamarku. Mendengar itu mama kau tak kuat dengan cepat tanganya mendarat di wajah mamanya tia sambil berkata” jangan sembarang ngomong. Aku tahu kau punya segalanya, anakmu cantik2 kau punya hharta, namun kau tak punya hati. Suasana semakin tidak tenang saat mamaku bertengakar mulut dengan mama tia. Hingga akhirnya hal yang paling aku benci pertengkaran pun dimulai. Aku melihhat papaku membawa golok dan mendarat di tangan papanya pia. Dan diwaktu bersamaan mamanya tia memukul kepala mamaku dengan kursi hingga mama terjatuh dan pingasn.Teriakan terdengar dari dalam kamarku. Tia kelura dari kolong tidur dan melihat semua kejadian itu.&lt;br /&gt;Darah mengalir dari tangan ayahnya yang hamper putus dan dari kepala mama aku. Aku bergerak nyesot kea rah mamaku yang telah terpapar tak berdaya. Sementara itu  ayah lari setelah sadar apa yang ia lakukan. Aku menjerit di tengah jeritan tia yang memeluk ayahnya. Mamanya tia mendorong tia dengan keras  hingga kepalanya terbentur kedinding. Tiba2 warga berdatangan setelah mendengar teriakan kami. Banyak diantara mereka yang menyalahkan aku dan mengutuk ayahku tanpa memperhatikan ibuku yang masih terkapar tak berdaya. Tia bangkit dengan kepala pecah dan berusaha menolong ayahnya. Namun mamanya mendorongnya untuk yang kedua kalinya, hingga dia benar2 pingsan. Aku melihat mereka menolong papanya pia dan menbawanya kerumah sakit, sementara itu sebagian warga mengangkat tubuh tia dan tia dibawah kerumahnya.&lt;br /&gt;Sementara itu mama aku masih pingsan. Aku mencoba memeluk ibuku, membiarkan air mata membasahi tubuhnya. Semua warga telah pergi. Tidak ada satu orang pun yg mau menolong kami. Bahkan mereka pergi sambil mengihana dan berkata bahwa aku adalah pemelet yang lumpuh. Aku hanya mampu terdiam untuk berdiripun aku tak bisa apalagi untu mengangkat tubuh ibuku. Kulita jelas air mata ibu mengalir. Aku memeluknya denga keras” maafkan aku bu…bu..bangun…” aku berusa meminta tolong denga teriakan yang sangat keras, namun tak seorangpun datang untuk memberi pertolongan. Tiba-tiba aku merasa tangan ibuku bergerak. Matanya terbuka pelan..” buuubuuu’’’bangun buuu” kataku. Ibu tersenyum “ kau adalah anugrah  terindah yang aku miliki BENTRA, mama tidak pernah menyesali kehadiranmu, bahkan mama sangat bersyukur punya anak berhati emas sepertimu. Maafkan mama yang telah melahirkanmu seperti ini,” aku memeluk tubuh ibuku, dan ketika aku melepaskanya kujumpai tubuh ibuku elas lemas.&lt;br /&gt;Dan disitulah aku berteriak sekeras-kerasnya. Berteriak memohon keadilan tuhan. Berteriakkkk menolok takdir hidupku,,, ibuku telah pergi untuk selamaya. Itu hal terakhir yang aku ingat. Saat aku terbangun aku melihat seorang ibu duduk dekat aku. Ibu itu adalah tetangga kami yang baru pulang dari luar kota. “Kau da sadar ben ?, kau mau makan, atau minum biar tante ambil.,” kata itu tergiang dikepalaku, aku seakan mau bertanya tentang ibu dan ayahku namun aku tak bisa bicara. Aku mncoba berbicara namun selalu gagal. Aku memandang kearah ibu itu dan mengelengka kepala.” Ben kau sehat kan ?” kata ibu itu dengan panik. Aku membalas dengan angukan kepala, air mata masih saja membasahi pipiku. Aku mencoba beranya lagi namun aku gagal. Akhirnya aku sadar aku tak bisa bicara lagi, aku mencoba mengisyaratkan bahwa aku mau menulis sesuatu. Dan ternyata ibu itu mengerti.&lt;br /&gt;Dia mengembil pulpen dan sebuah buku dari atas mejaku. “bu.critakan apa yang terjadi”.Kutuliskan dalam buku itu.Ibu memandang jauh kearah mataku. Terlihat air matanya mengalir disaat dia mulai bicara. Dia bercerita bahwa ibuku telah dikubur 2 hari yang lalu setelah ditemukan terkapar di dekat aku.&lt;br /&gt;Sedangkan ayaku harus ditahan di penjara demikian juga dengan ibunya tia. Mereka harus ditahan karna kejadiaan itu, ayahnya tia harus dibawah keruamah sakit dan dia harus pindahkan lagi kerumah sakit jiwa setelah lukanya benar-benar sembuh. Sedangakan tia kekasih hatiku di temukan tewas dikamarnya setelah menenngak racun tikus. Aku melihat ibu bergeser dan mengambil secarik kertas dari kantong celananya.&lt;br /&gt;Buat kekasih hatiku.&lt;br /&gt;Maaf aku harus pergi.&lt;br /&gt; Maaf aku harus meningalkanmu.&lt;br /&gt;Hatiku dan juga cintaku akan abadi bersamamu.&lt;br /&gt;Aku berjanji saat aku akan diadili sang penguasa.&lt;br /&gt;Kan kusebut namamu.Hingga dia akan menguba hidupmu. BENTRA aku mencintaimu.&lt;br /&gt;Semoga kamu selalu bahagia.&lt;br /&gt;Itulah yang aku ketahui, semuanya terjadi begitu saja tanpa memberiku waktu untuk berpikir. Kini aku hidup sendiri di sebuah panti  di kotaku. Hidup dengan kekecewaan akan kejamnya takdir. Aku mencoba menerawang kedalam setiap hati.&lt;br /&gt; Dan satu yang aku ketahui mulutku tidak akan pernah terbuka lagi, demikian juga dengan hatiku. Hari-hariku hanya aku isi dengan kenangan bersama Tia sang kekasih. Tiap saat hanya bersama bayangan wajahnya. Buku diary yang selalu menghibur hatiku. Kini aku benar-benar sendiri dengan mulutku yang tetutup rapat. Aku sadar inilah akhir hidupku., akhir dari kejamnya takdir yang menemaniku selama ini. Kini di masa mudahku aku mengerti aku tidak akan mengenal cinta lagi.&lt;br /&gt;Dimasa mudaku kukubur perasaan cinta yang tuhan anugrahkan kepadaku, sebab cinta itu hanya menimbulkan kepedihan. Aku tahu tidak akan ada wanita yang mencintai laki-laki lumpuh dan bisu seperti aku selain tia. Kugerkan kursi rodaku dan aku mulai menulis buku diaryku Biar dia anugrah terakhir.&lt;br /&gt;Biar dia bintang yang telah redup.Biar dia mawar yang telah layu.&lt;br /&gt;Namun ada sinar dan wanggi yang indah terpancar darinya.&lt;br /&gt;Teringa senyuman dan kedipan matanya.Jiwaku ergelora saat dia mengengam tanganku.&lt;br /&gt;Tia sang kekasih aku mencintamu.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1968987199556825028-1144352467801227250?l=full-stories.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://full-stories.blogspot.com/feeds/1144352467801227250/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://full-stories.blogspot.com/2009/09/cerpen-cinta.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1968987199556825028/posts/default/1144352467801227250'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1968987199556825028/posts/default/1144352467801227250'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://full-stories.blogspot.com/2009/09/cerpen-cinta.html' title='Cerpen Cinta'/><author><name>Full Beautifully Stories</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10171057672386779649</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1968987199556825028.post-326120876364697732</id><published>2009-09-07T23:04:00.000-07:00</published><updated>2009-09-07T23:17:56.428-07:00</updated><title type='text'>Cerpen Lucu</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;TERNYATA PACARAN ITU…&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;by: Yuki-Chan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Fauzi , kapan sih lo punya pacar ?”&lt;br /&gt;“Ali , kapan sih lo punya pacar ?”&lt;br /&gt;Kalimat-kalimat Tanya itu selalu dilontarkan oleh teman-teman Ali dan Fauzi . Mereka berdua jadi bosen dengar kalimat itu . Maklum , kedua kakak&lt;br /&gt;adik ini memang masih jomblo semua . Dan mereka juga belum pernah sama sekali pacaran .&lt;br /&gt;Mereka berdua belum pernah pacaran soalnya mereka nggak suka pacaran . Karena bagi mereka , pacaran itu bikin orang sengsara . Mereka bisa bilang begitu soalnya mereka sering lihat teman-teman mereka yang sengsara . Gara-gara pacaran . Makanya kenapa sampai sekarang mereka ogah punya pacar . Tapi gara-gara teman mereka terus-terusan tanya seperti itu akhirnya ....&lt;br /&gt;“Zi , gimana kalau kita cari pacar .”Usul Ali .&lt;br /&gt;“Hah ?! Tapi Mas ... Pacaran tuh nggak enak lho .”Kata Fauzi .&lt;br /&gt;“Ya memang , sih . Tapi mau gimana lagi . Aku udah bosen nih&lt;br /&gt;disindir sama teman-teman soal pacar . Memangnya kamu nggak&lt;br /&gt;bosen apa .”Kata Ali .&lt;br /&gt;“Iya sih , Mas . Aku juga udah bosen .”Kata Fauzi .&lt;br /&gt;“Jadi gimana ? Kamu mau , kan ?”Tanya Ali .&lt;br /&gt;“Ng ... mau deh .”Jawab Fauzi .&lt;br /&gt;Akhirnya kakak adik itu sepakat buat cari pacar . Tapi sebelum itu , mereka merubah total penampilan mereka . Biar ada cewek yang tertarik sama mereka . Soalnya selama ini , penampilan mereka biasa-biasa aja . Makanya nggak ada cewek yang tertarik sama mereka .&lt;br /&gt;Fauzi yang biasanya nggak pernah pakai parfum , sekarang pun jadi sering pakai . Trus style rambutnya juga dirubah jadi kayak Bratt Pitt . Ali kakaknya pun juga nggak mau kalah . Dia juga ikut-ikutan pake Parfum . Rambutnya juga sering dikasih gel sebelum pergi .&lt;br /&gt;*                                          *                                                   *&lt;br /&gt;Pagi ini seperti biasanya Fauzi bersiap-siap berangkat ke sekolah . Setelah selesai memakai seragam OSIS-nya , dia tidak lupa memakai jaket hitam kesayangannya dan memakai parfum . Fauzi kemudian berdiri di depan cermin dan mulai menyisir rambutnya .&lt;br /&gt;“Miror-miror onthe wall ... aku cakep , kan .” Kata Fauzi&lt;br /&gt;dalam hati .&lt;br /&gt;Sementara itu , di kamar sebelah . Ali juga lagi menyisir rambutnya . dia juga tidak lupa memakai Parfum dan gel rambut . Tidak hanya itu , dia juga melepas kacamatanya dan menggantinya dengan contact lens .&lt;br /&gt;“Ternyata kamu keren juga kalau nggak pakai kacamata , Li .”&lt;br /&gt;Gumam Ali sambil bergaya di deoan cermin .&lt;br /&gt;Kedua kakak adik itu kemudian keluar dari kamar masing-masing . mereka segera menuju meja makan . Di meja makan , ibu mereka melongo . Beliau melongo melihat anak-anak cowoknya pada berubah semua . Yang jelas bukannya berubah Jadi Power Rangers lho .&lt;br /&gt;Fauzi dan Ali mengambil nasi dari magic jar . Lalu mengambil tempe , tahu , dan Ayam goreng yang sudah disediakan sama ibu mereka . Setelah itu mereka makan seperti biasa . Ibu mereka ngelihatin mereka berdua yang lagi asyik makan . Beliau nggak habis pikir . Kenapa anaknya yang penampilannya biasa-biasa aja bisa berubah jadi kayak artis .&lt;br /&gt;“Alhamdulillah ... Bu , kita berangkat dulu ya .&lt;br /&gt;Assalamualaikum ... !”Pamit Fauzi dan Ali .&lt;br /&gt;“Waalaikumsalam .... ! Balas ibu mereka . “Duh gusti ... iki anak&lt;br /&gt;loro padha kesambet kabeh .”Lanjutnya .&lt;br /&gt;Ali kemudian bergegas menuju ke garasi . Fauzi pun menyusulnya . Mereka berdua mengembil sepeda motor masing-masing . Lalu berangkat . Fauzi berangkat ke sekolah sementara Ali berangkat ke Kampus .&lt;br /&gt;*                                          *                                                   *&lt;br /&gt;Di sekolah , ketika Fauzi lewat di depan cewek-cewek , mereka pada melongo . Mereka mengira kalau ada anak baru di sekolah mereka padahal nggak.&lt;br /&gt;“Eh-eh . Tuh cowowk siapa sih ? kok cakep banget .”&lt;br /&gt;Kata Ella .&lt;br /&gt;“Nggak tahu tuh . Anak nyasar kali ya .”Kata leli dengan cuek .&lt;br /&gt;“Hus ! Ngawur lo . Masak cakep-cakep gitu dibilang anak&lt;br /&gt;nyasar .”Bela Esti .&lt;br /&gt;“Eh-eh kayaknya aku kenal deh sama cowok ini .”Kata Ella .&lt;br /&gt;“Jangan-jangan dia ...”Kata Leli .&lt;br /&gt;Tiba-tiba Fauzi melihat ke arah mereka bertiga . Dua dari tiga cewek itu kaget karena ternyata cowok yang baru aja mereka gosipin itu adalah teman satu kelas mereka sendiri .&lt;br /&gt;“Hah ?! Fauzi ...??”Kata Ella .&lt;br /&gt;“Ma ... Masa’ sih itu Fauzi . Kok bisa jadi cakep banget .”Kata&lt;br /&gt;Leli yang masih tidak percaya dengan apa yang dilihatnya .&lt;br /&gt;Ella dan esti malah melongo .Sedangkan esti terus melihat fauzi yang udah berubah jadi SUPERMEN ...! Eh , salah . Maksudnya berubah jadi cakep gitu .&lt;br /&gt;*                                          *                                                   *&lt;br /&gt;Beda Fauzi , beda juga dengan ali . Begitu Ali sampai di kampus dia langsung emarkirkan sepeda motornya . Kemudian dia berjalan menuju ke kantin . Ketika dia berjalan menuju ke kantin , Banyak cewek-cewek ngelihatin dia . ada juga yang senyum-senyum terus . Bahkan ada juga yang pingsan gara-gara lihat si ali . Duh , kasihan ya cewek-cewek itu .&lt;br /&gt;Ternyata nggak cuma cewek-cewek aja yang takjub melihat Ali . Teman-tman cowok Ali pun juga ikut-ikutan takjub . Ada juga yang sampai melongo .&lt;br /&gt;“He is a superstar ?”Tanya dodi .&lt;br /&gt;“No .” Jawab Adi .&lt;br /&gt;“He is a supermodel ?”Tanya Coki .&lt;br /&gt;“No .”Jawab Adi .&lt;br /&gt;“lo itu dari tadi jawabnya No , No aja sih . Bisa nggak&lt;br /&gt;selain ‘No’.”Protes Dodi .&lt;br /&gt;“Yes .”Kata Adi dengan wajah yang dibuat-buat seperti orang&lt;br /&gt;oon .&lt;br /&gt;“Assalamualaikum ...”Sapa Ali .&lt;br /&gt;“Waalaikumsalam ...”Balas Teman-temannya .&lt;br /&gt;Teman-teman Ali terus-menerus melihatnya . Tapi yang dilihat malah jadi bingung . Dia tengok ke kanan dan ke kiri . Di kanan kirinya nggak ada siapa-siapa . Ali akhirnya garuk-garuk kepalanya sendiri . Tanda kalau dia lagi bingung .&lt;br /&gt;“Eh , pada lihat siapa sih ?”Tanya Ali .&lt;br /&gt;“Lagi lihat lo .”Jawab Adi .&lt;br /&gt;“Hah ?! Ngapain nngelihatin aku . Memangnya aku film .”&lt;br /&gt;Kata Ali .&lt;br /&gt;“Ya , bukan gitu sih . Kita ngelihatin lo soalnya lo kok jadi&lt;br /&gt;beda banget hari ini . “Kata Dodi .&lt;br /&gt;“Iya , Li . Lo kok jadi kayak begini . Memangnya lo itu&lt;br /&gt;kenapa sih .”Kata Coki .&lt;br /&gt;“Aku nggak kenapa-kenapa kok . Cuma mau ganti gaya aja .&lt;br /&gt;Biar kelihatan lebih keren .”Kata Ali .&lt;br /&gt;Kemudian Ali dan teman-temannya membicarakan soal kegiatan organisasi mereka .Mereka mengobrol sambil pesan minuman di kantin . Baru aja asyik ngobrol , tiba-tiba muncul cewek cantik di dekat mereka . Obrolan mereka pun terhenti . Mereka malah ngelihatin cewek itu .&lt;br /&gt;Cewek itu namanya Hana . Dia di kenal sebagai miss campus . Soalnya Orangnya cantik banget . Ketika Hana pergi , teman-teman Ali tidak memperhatikan cewek itu lagi tapi Ali tidak . Dia terus menerus memandang Hana .&lt;br /&gt;*                                          *                                                   *&lt;br /&gt;Fauzi dan Teman-temannya lagi ngobrol di teras kelas . Mereka asyik banget ngobrolnya . Tiba tiba lewat tiga orang cewek mereka adalah&lt;br /&gt;Esti , Leli , dan Ella .Dan Entah kenapa ketika mereka bertiga lewat , Fauzi terus melihat mereka .Sebenarnya sih yang dilihat Fauzi bukan Leli . Bukan juga Ella . Tapi Esti . Dia terus melihat esti meskipun cewek itu sudah nggak ada lagi di depannya .&lt;br /&gt;“Hayo...!Lo lihat Ella ya .”Tebak Erwin .&lt;br /&gt;“Nggak .”Kata Fauzi .&lt;br /&gt;“Kowe ndhelok Leli tho ?”Tanya Budi .&lt;br /&gt;“Ora .”Jawab Fauzi .&lt;br /&gt;“O... jangan-jangan kamu ngelihatin Esti ya .”Kata Erwin&lt;br /&gt;dan Budi .&lt;br /&gt;“Iya ... Dia cantik banget ...”Kata Fauzi .&lt;br /&gt;Fauzi melihat Esti sambil tersenyum . Sedangkan Esti masih berjalan dengan kedua temannya sambil mengobrol . Tapi tiba-tiba Esti menengok ke belakang . Dia tahu kalau Fauzi sedang melihatnya sambil tersenyum . Lalu , Esti pun juga ikut tersenyum . Melihat Esti tersenyum , Fauzi malah jadi semakin senang .&lt;br /&gt;*                                          *                                                   *&lt;br /&gt;Akhirnya kakak adik itu menemukan pujaan hatinya masing-masing . Ali menemukan Hana . Sedangkan Fauzi menemukan Esti .Singkat ceritanaya,nih . Kakak adik itu akhirnya nembak cewek pujaannya masing-masing . Dan ternyata mereka berdua sama-sama diterima .Sekarang mereka udah resmi pacaran . Dan mereka berdua benar-benar menikmatnya .&lt;br /&gt;Tapi setelah mereka pacaran ternyata teman-teman mereka malah jadi nggak suka sama mereka . Ali jadi nggak begitu memperhatikan kegiatan organisasinya lagi . Dia lebih mementingkan Hana daripada yang lainnya .Sampai-sampai Coki temannya yang se-organisasi sama dia jadi sebel . Soalnya dia pernah menyuruh Ali buat bikin undangan . Dan Ali , bukannya dia bikin undangan eh malah pacaran terus sama Hana .&lt;br /&gt;Teman-teman fauzi pun juga . Mereka juga jadi sebel sama Fauzi . Waktu latihan sepak bola , dia nggak bisa konsentrasi jaga gawang . Soalnya dia sering ngelihatin Esti yang nungguin dia pas latihan . Akibatnya gawangnya kebobolan terus .Teman-temannya memarahi dia . meskipun itu Cuma latihan , mereka tetap ingin Fauzi serius . Soalnya latihan sepak bola ini adalah persiapan untuk menghadapi pertandingan besok .&lt;br /&gt;Karena Fauzi yang nggak serius pas latihan , akhirnya dia nggak boleh ikut pertandingannya besok .&lt;br /&gt;*                                          *                                                   *&lt;br /&gt;Kakak adik itu awalnya menikmati enaknya pacaran . Tapi lama-kelamaan mereka jadi nggak betah .Fauzi kewelahan menghadapi Esti yang sukanya cemburu kalau Fauzi deket sama cewek lain .&lt;br /&gt;“Tapi Esti , cewek-cewek itu kan temenku . Apa salahnya&lt;br /&gt;sih aku punya temen cewek .”Kata Fauzi .&lt;br /&gt;“Pokoknya meskipun itu temen kamu , aku nggak mau&lt;br /&gt;kamu deket-deket sama mereka .”Kata Esti .&lt;br /&gt;“Tapi , Esti ....”Kata Fauzi .&lt;br /&gt;Esti malah jadi marah . Sementara Fauzi malah jadi bingung . Dia nggak tahu harus ngomong apa lagi . Padahal apa yang dia onongkan tadi sudah yang sejujur-jujurnya . Fauzi berusaha memutar otaknya . Setelah dia memutar otaknya agak lama , akhirnya dia menemukan ide . Idenya yaitu dia mau mengajak jalan-jalan Esti ke Mal .&lt;br /&gt;Sementara itu , Ali juga lagi pusing . Dia pusing gara-gara menghadapi Hana yang ternyata Childish banget . Semua permintaannya harus dipenuhi . Kalau nggak dia bakalan nangis . Duh , kasihan banget tuh si Ali . Tapi meskipun begitu , dia tetap memenuhi permintaan Hana . Padahal Hana itu suka minta yang aneh-aneh . Dulu dia pernah minta Ali jadi Tao ming tse . Dan sekarang dia minta Ali jadi ...Giring .&lt;br /&gt;“Eh Cahyo kamu punya nggak wig yang kayak itu lho...&lt;br /&gt;rambutnya Giring .”Kata Ali .&lt;br /&gt;“Giring ? Oh , maksud lo personilnya Nidji itu ya . Ya-ya .&lt;br /&gt;aku punya kok . Kebetulan itu belum aku jual di salon-&lt;br /&gt;salon .”Kata Cahyo yang sebenarnya dia adalah tukang&lt;br /&gt;jual wig .&lt;br /&gt;“Ng ... Aku beli satu ya .”Kata Ali .&lt;br /&gt;“Oke Boss....”Kata Cahyo .&lt;br /&gt;*                                          *                                                   *&lt;br /&gt;Besoknya , Fauzi dan Esti jalan-jalan ke Mall . Esti pun senang . Fauzi jadi lega karena akhirnya Esti jadi senang kembali . Setelah itu mereka berdua pulang . Tapi ketika pulang , tiba-tiba sepeda motor Fauzi mogok di tengah jalan . Fauzi dan Esti akhirnya terpaksa berjalan mencari bengkel terdekat . Mereka terus berjalan hingga akhirnya mereka sampai di bengkel Mas Karyo yang masih buka . Bengkel langganan Fauzi .&lt;br /&gt;Mas Karyo sang pemilik bengkel segera mengecek sepeda motor Fauzi . Kata Mas Karyo , rusaknya sudah parah banget . Dan harus ditinggal di bengkel itu . Karena butuh waktu lama untuk membetulkannya . Akhirnya Fauzi meninggalkan sepeda motornya di bengkel itu . Dia lalu memanggil Taksi yang kebetulan lewat di tempat itu . Kemudian dia masuk ke dalam taksi bersama Esti .&lt;br /&gt;Taksi yang ditumpangi Esti dan Fauzi akhirnya sampai di rumah Esti . mereka berdua lalu turun . Fauzi mengantar Esti sampai ke depan rumahnya . Dia juga yang mengetuk pintunya . Pintu rumah Esti pun terbuka . Dan ternyata yang membukanya adalah bapaknya Esti yang galak banget .&lt;br /&gt;“Kamu  bawa anak saya kemana saja ? Kenapa baru pulang&lt;br /&gt;jam 10 malem begini .Hah !!”Bentak bapaknya Esti .&lt;br /&gt;“Eh...I...Itu pak tadi motor saya mogok .”Kata Fauzi .&lt;br /&gt;“Alasan ! Kamu pasti mau berbuat yang nggak-nggak sama&lt;br /&gt;anak saya . Iya kan ! Dasar...!”Bentak bapaknya Esti .&lt;br /&gt;“Pak jangan . Kasihan Fauzi .&lt;br /&gt;Tapi ternyata kata-kata Esti tidak bisa meluluhkan hati bapaknya . Bapaknya tetap marah . Tiba-tiba Fauzi kabur . Dan bapaknya Esti jadi tambah marah . Dia lalu mengejar Fauzi . Akhirnya terjadi kejar-kejaran seru antara fauzi dengan Bapaknya Esti . Fauzi berlari menghindari kejaran bapaknya Esti . Dia terus berlari hingga akhirnya menemukan pohon . Tiba-tiba Fauzi menemukan ide . Dia lalu bersembunyi diatas pohon .&lt;br /&gt;*                                          *                                                   *&lt;br /&gt;Ali masih dirumah Hana .Dan dia juga udah sukses menirukan gayanya Giring pas nyanyi . Meskipun sebenarnya lebih mirip orang kesetrum .Tapi itu sudah bisa membuat Hana senang . Ali pun lega . Dia lalu pamit pulang pada Hana . Tapi Hana tidak memperbolehkannya . Hana masih ingin Ali menirukan gayanya seseorang . Dan kali ini dia ingin Ali jadi kayak ....Gathotkaca !&lt;br /&gt;Dan dengan terpaksa dan senang hati , dia menirukan gayanya Gathotkaca . Tapi tiba-tiba Hana Protes . Katanya Gathotkaca kok nggak punya sayap . Ali baru ingat kalau Gathotkaca itu punya sayap . Dia lalu berkata pada Hana kalau sayapnya ketinggalan di Ngastina . Dan dia berjanji mau ngambil itu tapi dengan syarat Hana harus menutup matanya . Hana pun menurutinya . Ali kemudian diam-diam keluar dari rumah Hana sambil membawa sepeda motornya .&lt;br /&gt;*                                          *                                                   *&lt;br /&gt;Sepeda motor Ali melaju dengan pelan . Tiba-tiba dia menghentikan sepeda motornya . Ali turun dari sepeda motornya . Dia lalu duduk didekat pohon . Dengan diterangi cahaya neon , dia duduk disitu menyesali semuanya . Tapi baru aja duduk tiba-tiba ada seseorang yang memanggilnya . Ali menengok ke kanan dan ke kiri . Tapi nggak ada siapa-siapa . Bulu kuduknya jadi meremang .&lt;br /&gt;Suara itu memanggilnya lagi . kali ini , suara itu menyuruhnya untuk melihat ke atas pohon . Ali pun melihat ke atas pohon . Dan ternyata , diatas pohon ada Fauzi adiknya . Ali pun memanggil Fauzi . Kemudian Fauzi turun dari pohon . Dia menceritakan semuanya . Selesai bercerita , raut wajahnya pun jadi sedih . Ali jadi merasa bersalah karena dialah yang mengajak Fauzi buat pacaran . Dia lalu meminta Maaf pada Fauzi . Sebenarnya dia sendiri juga menyesal . soalnya gara-gara pacaran , kegiatan organisasinya jadi hancur .&lt;br /&gt;“ Kayaknya kita percuma menyesal begini . Lagipula itu semua&lt;br /&gt;juga sudah terjadi . Hm...Begini saja . Mulai besok kita&lt;br /&gt;kembali seperti semula .”Kata Ali .&lt;br /&gt;“Ya . mulai besok aku mau merubah style rambutku jadi kayak&lt;br /&gt;biasanya .”Kata Fauzi .&lt;br /&gt;“Aku juga besok mau pakai kacamataku lagi dan nggak pakai&lt;br /&gt;gel rambut lagi .”Kata Ali .&lt;br /&gt;“Yeah...yang penting kita jadi diri kita lagi . Bukan jadi orang&lt;br /&gt;lain .”Kata Fauzi .&lt;br /&gt;“Nah , sekarang yuk kita pulang . udah malem nih .”Ajak Ali.&lt;br /&gt;Ali kemudian menaiki sepeda motornya . Sementara Fauzi membonceng di belakangnya . Mereka berdua kemudian pulang . Tapi tiba-tiba....&lt;br /&gt;“Aduh , Mas . Aku lupa .”Kata Fauzi .&lt;br /&gt;“Lupa apaan ??”Tanya Ali .&lt;br /&gt;“Sandalku ketinggalan di atas pohon tadi .”Jawab Fauzi .&lt;br /&gt;“Aduh...!Fauzi-Fauzi ! udah besok Mas Ali beliin yang baru&lt;br /&gt;deh .”Kata Ali .&lt;br /&gt;“Bener nih . Hore....!”Teriak Fauzi .&lt;br /&gt;“Ssst....Jangan teriak-teriak . Nggak sopan .”Kata Ali .&lt;br /&gt;*                                          *                                                   *&lt;br /&gt;THE END&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(102, 255, 153);"&gt;Kapok Deh…!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari Pertama…&lt;br /&gt;Suasana di rumah sakit Sehat Selalu tampak ramai . Soalnya ada tiga pasien sekaligus hari ini . Dan pihak rumah sakit tampak kebingungan . karena tempatnya sudah penuh . Awalnya pihak rumah sakit mau merujuk ketiga pasien itu ke rumah sakit lainnya .&lt;br /&gt;Tapi untunglah ada tiga pasien yang baru saja keluar . pihak rumah sakit tidak jadi merujuk ketiga pasien tadi ke rumah sakit lain . Mereka akhirnya mau menerima ketiga pasien tadi . Ketiga pasien tadi kemudian ditempatkan di bangsal yang sama .&lt;br /&gt;*                                           *                                        *&lt;br /&gt;Rista , Faisal ,dan Mas Heri adalah ketiga pasien itu . Mereka mengeluh kesakitan . Karena mereka baru aja mengalami kecelakaan . Ya , kecelakaan di tempat yang sama .&lt;br /&gt;Seorang suster datang ke bangsal 12 . Tempat mereka bertiga dirawat . Suster itu memeriksa mereka satu persatu . Kemudian suster itu membuka korden pembatas ketiga pasien itu .&lt;br /&gt;Dan ketiga kordennya dibuka , mereka semua jadi kaget .&lt;br /&gt;“Hah?!Elo kan orang yang nabrak gue tadi.”Kata Faisal &lt;br /&gt;sambil menunjuk ke arah mas Heri.&lt;br /&gt;“Enak aja!! Siapa yang nabrak kamu . Malahan kamu yang&lt;br /&gt;bikin tabrakan .”Tuduh mas Heri pada faisal .&lt;br /&gt;“Eh , bukan Faisal . Tapi mas Heri tuh yang nabrak aku .”&lt;br /&gt;Kata Rista .&lt;br /&gt;“Bukan aku Rista , tapi dia !”Kata mas heri .&lt;br /&gt;“Dasar!Loe mau main tuduh aj , ya .Rasakan nih!”Bentak&lt;br /&gt;Faisal .&lt;br /&gt;Faisal dan mas Heri akhirnya saling memukul . Suster tadi berusaha melerai mereka . Tapi mereka tidak berhenti . keadaan justru bertambah hancur ketika Rista pun ikut main pukul-pukulan .&lt;br /&gt;“Eh-eh . Berhenti...!Aduh...kok malah jadi kayak begini&lt;br /&gt;sih .”Keluh Suster itu .&lt;br /&gt;“Aduh!Sakit tahu!Loe jotos pas luka gue!”Kata Faisal .&lt;br /&gt;“Bukan aku . Tapi Rista .”Kata mas Heri .&lt;br /&gt;“Kok aku sih .”Protes Rista .&lt;br /&gt;Mereka bertiga kembali pukul-pukulan . Suster tadi jadi tambah bingung . Dia akhirnya berlari memanggil dokter .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5 menit kemudian....&lt;br /&gt;Dokter dan suster tadi datang lagi ke bangsal 12 . Mereka berdua berusaha melerai ketiga pasien tadi yang sudah jadi tontonan seru pasien lain.Yang satu bangsal dengan mereka . Rista , mas Heri , dan Faisal pun akhirnya berhenti .&lt;br /&gt;Kemudian , dokter yang baru saja datang menasehati mereka . Tapi baru aja dinasehatin , eh...mereka bertengkar lagi . Dokter itu jadi geleng-geleng kepala . Soalnya luka ketiga pasien itu tambah arah gara-gara mereka bertengkar .&lt;br /&gt;*                                           *                                        *&lt;br /&gt;Hari kedua…&lt;br /&gt;“Ris , cowok di sebelah kanan loe siapa sih ?”&lt;br /&gt;Tanya Faisal .&lt;br /&gt;“Itu guru les privat matematika-ku namanya mas&lt;br /&gt;Heri .” Jawab Rista .&lt;br /&gt;“Ris , cowok disebelah kiri mu tuh siapa ?”Tanya mas&lt;br /&gt;Heri .&lt;br /&gt;“Itu temanku , mas . Namanya Faisal .”Jawab Rista .&lt;br /&gt;“Oo...”Kata mas Heri .&lt;br /&gt;Setelah itu mereka bertiga diam aja . Mereka lalu mulai sibuk . Rista mengeluarkan NDS (Nintendo DS)-nya yang dikasih sama ibunya . Waktu beliau menjenguk Rista . Sedangkan Faisal lagi main game PSP-nya . Dan mas Heri lagi asyik SMS-an entah dengan siapa .&lt;br /&gt;Jam 22.00...&lt;br /&gt;Faisal , Rista , dan mas Heri nggak bisa tidur . Padahal mereka udah coba semua cara biar bisa tidur . Tapi mata mereka bandel . Nggak mau dipejamkan . Mereka akhirnya Cuma diem-diem aja sambil melihat ke atas .&lt;br /&gt;Dua ekor cicak terlihat sedang kejar-kejaran . Dan kejar-kejaran mereka pun berhenti ketika salah satu dari mereka dapat menagkap temannya . Setelah tertangkap mereka malah kawin . Mas Heri pun kesal melihatnya . Dia lalu melempar cicak-cicak yang lagi kawin itu dengan bolpoint yang ada di meja dekat kasurnya . Akhirnya dua cicak tadi nggak jadi kawin deh...&lt;br /&gt;“Eh , mas . Jangan dilempari . Kasihan dong .”Protes&lt;br /&gt;Rista .&lt;br /&gt;“Biarin!Aku lagi sebel ,Ris .”Kata mas Heri .&lt;br /&gt;“Lagi sebel gara-gara nggak bisa tidur , kan . Gue&lt;br /&gt;juga sama kok ,mas .”Kata faisal .&lt;br /&gt;“Malem-alem begini di rumah sakit nggak bisa tidur&lt;br /&gt;lagi . Udah gitu aku kok jadi merinding .”Kata&lt;br /&gt;Rista .&lt;br /&gt;“Gue juga , Ris .”Kata Faisal .&lt;br /&gt;“Aku juga .”Kata mas Heri .&lt;br /&gt;Tiba-tiba pintu utama bangsal terbuka . Tapi setelah itu tertutup lagi . Rista , mas Heri , dan Faisal jadi takut .&lt;br /&gt;“ I....Itu tadi si...siapa ya...”Kata faisal .&lt;br /&gt;“Aku nggak tahu ,sal . Yang jelas itu tadi tinggi banget .”Kata Rista .&lt;br /&gt;“Hii...Jangan-jangan itu suster ngesot .”Kata Faisal .&lt;br /&gt;“Ah!Nggak mungkin . Itu nukan suster ngesot .”&lt;br /&gt;Kata mas Heri .&lt;br /&gt;“Trus kalo bukan suster ngesot apaan dong ?”Tanya&lt;br /&gt;Rista .&lt;br /&gt;“Tadi kan Rista bilang itu tinggi banget .&lt;br /&gt;Lha...Berarti itu suster jinjit .”Jawab mas Heri .&lt;br /&gt;“Mana ada suster jinjit . Di filem-filem adanya juga&lt;br /&gt;suster ngesot .”Protes Faisal .&lt;br /&gt;Lagi-lagi pintu utama bangsal terbuka . tapi kali ini tidak tertutup lagi .Mas Heri , Rista , dan Faisal . bersiap-siap ngumpet di balik selimut . Seseorang masuk ke bangsal 12 . Dia berpakaian serba putih . Tapi bukan suster ngesot . Dia adalah suster yang mau mengecek keadaan mereka bertiga . Mereka bertiga pun jadi lega karenanya .&lt;br /&gt;*                                           *                                        *&lt;br /&gt;The last day...Hari ketiga&lt;br /&gt;“Eh , hari ini gue mau pulang . Soalnya kata dokter&lt;br /&gt;gue udah boleh rawat jalan kok .”Kata Faisal .&lt;br /&gt;“Aku juga bakaln pulang hari ini .”Kata Rista .&lt;br /&gt;“Wah , sama ya .”Kata mas Heri .&lt;br /&gt;Entah kenapa tiba-tiba mereka bertiga jadi terdiam . Mereka juga jadi sedih . Soalnya mereka merasa nggak bakal bisa ketemu lagi dan bisa ngobrol kayak begini .&lt;br /&gt;“By the way , gue jadi sedih nih kalau harus&lt;br /&gt;pulang .”Kata faisal .&lt;br /&gt;“Kenapa ?”Tanya Rista dan mas Heri .&lt;br /&gt;“Aku jadi nggak bisa ngobrol kayak gini lagi sama&lt;br /&gt;kalian .”Kata Faisal .&lt;br /&gt;“Iya-ya . Faisal bener . Oh ya , Ris . Aku mau&lt;br /&gt;ngomong sama kamu .”Kata mas Heri .&lt;br /&gt;Faisal yang mendengar itu , jadi cemburu . Karena dia sebenarnya suka sama Rista . Cuma selama ini dia ngumpetin perasaannya . Hari ini dia mau mengetakannya . Tapi ternyata keduluan mas Heri . Akhirnya dia diam aja dan memalingkan mukanya dari Rista .&lt;br /&gt;“Ris , sebenarnya aku suka ngelihatin kamu .”Kata&lt;br /&gt;mas Heri .&lt;br /&gt;“Lho ... Memangnya kenapa , mas ?”Tanya Rista .&lt;br /&gt;“Soalnya aku udah menganggap kamu adikku . Dan&lt;br /&gt;aku juga berpikir kayaknya enak juga punya adik&lt;br /&gt;kayak kamu .”Kata mas Heri . “Habis aku nggak&lt;br /&gt;punya adik sih .”Lanjutnya .&lt;br /&gt;“Yes ! Yes ! Yes !”Teriak Faisal kegirangan .&lt;br /&gt;“Kamu kenapa , sal ?”Tanya Rista .&lt;br /&gt;“Eh ... Nggak Papa kok .”Jawab Faisal .&lt;br /&gt;Faisal kelihatan senang . Karena ternyata mas Heri bukan mau mengatakan kalau dia cinta sama Rista . Tapi ternyata mas heri mau mengatakan kalau dia sudah menganggap Rista seperti adiknya . Rista dan mas Heri terdiam lagi . Dan inilah kesempatan Faisal untuk mengungkapkan isi hatinya .&lt;br /&gt;“Ris , aku mau ngomong sama kamu .”Kata&lt;br /&gt;Faisal .&lt;br /&gt;“Ngomong apa ?”Tanya Rista&lt;br /&gt;“Hayo ...!Mau ngomong apa .”Goda mas heri .&lt;br /&gt;“Mas Heri brisik ah !”Kata Rista .&lt;br /&gt;“Sreet !”&lt;br /&gt;Rista menutup korden pembatas antara kasurnya dengan kasur mas Heri . Lalu dia ngobrol dengan Faisal . Baru aja ngobrol tiba-tiba kordennya terbuka sedikit .&lt;br /&gt;“Hei !Kalo berduaan ntar yang ketiganya pasti&lt;br /&gt;setan lho .”Bisik mas Heri .&lt;br /&gt;“Iya . Setannya kamu , mas .”Kata Rista .&lt;br /&gt;“Sreet !”&lt;br /&gt;“Akhirnya ... Eh iya , Ris . Udah lama aku mau&lt;br /&gt;ngomong soal ini sama kamu . Aku ...”Kata&lt;br /&gt;Faisal .&lt;br /&gt;“Kamu suka sama aku , kan .”Tebak Rista .&lt;br /&gt;“Ngomong gitu aja kok lama .”Lanjutnya .&lt;br /&gt;Faisal pun jadi malu ketika Rista ngomong gitu .Soalnya isi hatinya sudah keahuan duluan sebelum dia ngomong .&lt;br /&gt;“Ng...Trus apa jawabanmu ?”Tanya Faisal .&lt;br /&gt;Faisal merasa itu tadi adalah pertanyaan bodoh . Dia bergumam kenapa harus bertanya seperti itu . Pertanyaan itu seakan memaksa Rista untuk segera menjawabnya .&lt;br /&gt;“Ng...Faisal . Sebenarnya ... Aku juga ... Suka&lt;br /&gt;sama kamu .”Kata Rista dengan malu-malu .&lt;br /&gt;“Sreet!”&lt;br /&gt;“Wah , ternyata ada yang jadian nih ye ...”Sindir&lt;br /&gt;mas Heri .&lt;br /&gt;“Eh , mas . Siapa yang jadian ?”Tanya pasien&lt;br /&gt;sebelah mas Heri .&lt;br /&gt;“Itu tuh . Mereka berdua .”Jawab mas Heri&lt;br /&gt;menunjuk ke arah Rista dan Faisal .&lt;br /&gt;“Cie...!”Teriak semua pasien bangsal 12 .&lt;br /&gt;Mereka semua bertepuk tangan . Termasuk mas Heri . Suasana di bangsal itu berubah . Dari yang tadinya sepi jadi rame banget . Bahkan dokter yang lagi memeriksa salah-satu pasien disitu juga ikut bersorak-sorak . Faisal dan Risa jadi malu banget .mereka bingung harus buang muka ke mana . soalnya tepat pembuangan muka udah penuh . Akhirnya mereka Cuma berteriak dalam hati . Dan sejak saat itu mereka jadi kapok dirawat di rumah sakit .&lt;br /&gt;*                                           *                                        *&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1968987199556825028-326120876364697732?l=full-stories.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://full-stories.blogspot.com/feeds/326120876364697732/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://full-stories.blogspot.com/2009/09/cerpen-lucu.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1968987199556825028/posts/default/326120876364697732'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1968987199556825028/posts/default/326120876364697732'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://full-stories.blogspot.com/2009/09/cerpen-lucu.html' title='Cerpen Lucu'/><author><name>Full Beautifully Stories</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10171057672386779649</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
